Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Cerbung

Wasiet (28)

Admin1 by Admin1
23/02/2020
in Cerbung
0
Wasiet (24)

MASJID Rahmat, kawasan Kembang Kuning, Surabaya, mendadak ramai Minggu pagi. Beberapa petinggi Brawijaya terlihat hadir di sana. Mereka datang sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga almarhum Sulaiman. Anak perempuannya menikah. Apalagi calon pengantinnya juga dari kesatuan yang sama.

Sementara bagi Praka Dedi sendiri, ini adalah hari yang special. Ia akan menikahi perempuan yang baru dijumpainya selama tiga kali.

Dua kali di Masjid Rahmat dan sekali di Ngawi. Ia dan sang gadis juga tak pernah pacaran. Tapi ia yakin jika sang gadis adalah perempuan yang tepat baginya.

Ia tidak pernah berpikir untuk menikah cepat. Namun ketika jodoh itu datang, ia tidak juga menolaknya.

Hari ini ia akan dinikahi oleh wali sang gadis yang datang dari Jakarta. Mereka adalah warga asal Aceh yang sudah lama menetap di Jakarta.

Keluarga besar dari almarhum ayah Nurul ternyata adalah perantau asal Aceh. Buyut mereka harus meninggalkan Aceh usai meletusnya perang Cumbok. Itu adalah peristiwa berdarah serta catatan hitam dalam sejarah Aceh.

Nurul sendiri terlihat mempesona dengan balutan busana muslimah. Ia terlihat seperti putri bangsawan dari Timur Tengah.

Untuk pernikahan ini, Praka Dedi dan Nurul memang hanya menggunakan busana muslimah. Tak ada adat Jawa dan Aceh. Ini untuk menghindari sengketa terkait adat mana yang harus digunakan selama prosesi pernikahan berlangsung.

Bagi mereka, yang penting pernikahan ini sah secara agama.

“Saya terima nikahnya Nurul Islami dengan mas kawin seperangkat alat salat serta emas tiga puluh gram, dibayar tunai.”

Ucapan itu meluncur dengan cepat dari mulut Praka Dedi. Hanya sekali ucap.

“Sah, sah, sah,” ujar sejumlah orang di sekitarnya.

Praka Dedi menarik nafas panjang. Kekhawatirnya hilang. Ia menarik nafas dalam-dalam serta memandang ke arah istrinya itu. Wanita itu tersenyum mekar ke arahnya. Mulai detik ini, mereka sudah sah menjadi suami istri.

Sejumlah petinggi militer mendatanginya dan memberi salam. Demikian juga dengan para keluarganya dan keluarga sang istri.

Usai aktivitas di masjid sepi, Nurul mendekati Praka Dedi.

“Mas ada bawa sepeda motor?” bisiknya di telinga sang suami.

Praka Dedi mengangguk. “Ada. Mobil juga ada,” ujarnya kemudian.

Nurul tersenyum. “Pakai sepeda motor saja. Yuk pergi,” ujarnya sambil memegang erat tangan Praka Dedi. Ini merupakan kali pertama mereka berpegangan tangan. Jantung Praka Dedi berdetak kencang. Wajah Praka Dedi merona. Demikian juga dengan wajah sang istri.

“Keluarga bagaimana?” ujar Praka Dedi.

Nurul tersenyum. Ibunya yang mendampingi turut menimpali.

“Kami bisa pulang dengan jalan kaki. Rumah Wawaknya tak jauh dari sini,” ujar mertuanya itu.

“Kami juga ke rumah Wawaknya Nurul, kalau begitu. Kalian pergilah. Kalian sudah sah sebagai suami. Jadi nanti kalau sudah puas pacaran, balik ke rumah Wawaknya Nurul ya. Ada yang ayah mau sampaikan,” kata ayah Praka Dedi tiba-tiba.

Praka Dedi mengenggam erat tangan istrinya. Keduanya kemudian ke parkir masjid untuk mengambil sepeda motor di sana.

“Pegang erat ya. Aku khawatir gaun-mu diterbangi angin dan terjatuh,” ujarnya sambil menggoda istri.

Nurul mengangguk tanda setuju. “Tenang aja mas. Kali ini Nurul pegang yang kuat untuk selamanya,” ujar dia tersenyum.

Praka Dedi tersenyum. Hatinya berbunga-bunga. Sang surya saat itu seperti memeluk Kembang Kuning. Sinarnya lembut dan tak seterik biasanya.

“Tenang saja. Aku adalah pria yang beruntung bisa menikahimu. Mulai hari ini, kita akan selalu bersama hingga maut memisahkan,” ujar Praka Dedi.

[Bersambung]

 

 

Tags: wasiet
Previous Post

ULP Pantau Proyek Pra Tender Paket Muliyear Jalan Gayo Lues – Abdya

Next Post

Gempa 5,3 SR di Bolaang Mongondow Tak Berpotensi Tsunami

Next Post

Gempa 5,3 SR di Bolaang Mongondow Tak Berpotensi Tsunami

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Nora Idah Nita: Rakyat Butuh Kejujuran, Pusat Harus Terima Laporan Apa Adanya

Nora Idah Nita: Rakyat Butuh Kejujuran, Pusat Harus Terima Laporan Apa Adanya

12/12/2025
Laporan Bahlil ke Prabowo: Listrik di Aceh Menyala Malam Ini

Kepemimpinan di Tengah Bencana Aceh, Akademisi USK: Tiga Bupati Lolos Uji Publik

12/12/2025
Krak, Jembatan Darurat Penghubung Nagan Raya-Aceh Tengah Rampung

Krak, Jembatan Darurat Penghubung Nagan Raya-Aceh Tengah Rampung

12/12/2025
Presiden Prabowo Minta Anak Korban Banjir di Aceh Tabah dan Semangat

Presiden Prabowo Minta Anak Korban Banjir di Aceh Tabah dan Semangat

12/12/2025
Aceh Perpanjang Status Darurat Bencana Banjir dan Longsor

Menkes: 41 RS di Aceh Sudah Beroperasi Secara Bertahap

12/12/2025

Terpopuler

Ohku, Pengerukan DAS Krueng Meureudu Diwarnai Pro Kontra Warga

Ohku, Pengerukan DAS Krueng Meureudu Diwarnai Pro Kontra Warga

10/12/2025

Ohku, Relawan ‘Dipatok’ Rp3 Juta Saat Menyeberang di Kuta Blang Bireuen

Viral, Biaya Nyebrang ‘Bantuan’ di Kuta Blang Bireuen Capai Jutaan Rupiah

PGRI Simeulue Kumpulkan Uang 120 Juta Lebih untuk Korban Banjir dan Tanah Longsor di Sumatera

Disdikbud Pidie Upayakan Percepatan Pemulihan 32 Sekolah Terdampak Banjir

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com