Oleh : Iping Rahmat Saputra, SI.IP., M.Sc*
Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) akhirnya juga dilakukan dengan meknaisme Dalam Jaringan (Daring). Hal ini semakin membuat ambigu pencapaian empiris pelaku (mahasiswa) dan target (masyarakat). dengan pelaksanaan dari rumah, tidak akan ada sedikitpun makna substansial dari program itu. Setingkat pelaksanaannya secara langsung saja, hasil yang diperoleh juga belum terbilang maksimal. Seperti terkesan stagnan solusi, sehingga ini dianggap jalan keluar paling cocok untuk dilaksanakan.
Mari sejenak kita berfikir tentang apa yang akan terjadi saat sesuatu dilakukan dengan dasar pemaksaan. Kebuntuan memberikan solusi solutif membuktikan bahwa tanggung jawab yang diemban tidak selalu memberi jawaban berdasar kebutuhan target kebijakan (mahasiswa), dengan demikian, unsur pemaksaan yang dilakukan ini hanya akan menambah ketidakpercayaan mahasiswa terhadap penanggung jawab kampus atas masalah yang sedang terjadi. Asal mula praktik absurditas seperti adalah dari surplusnya ketidakmampuan berfikir mendalam untuk mencapai sesuatu yang disebut Marx, Core Of All Cores; pilihan yang yang terpilih melalui proses Deepening Thinks. Kita tidak layak membebankan ketidakberdayaan diri kita kepada orang lain melalui kebijakan dan menghindari diri dari Problem Attacks.
Aktivitas KPM dari rumah tidak lebih sebatas dari pemenuhan syarat prosedural yang defisit substansial. Prediksi seperti ini terlihat pesimis, tetapi kita seharusnya belajar dari pengalaman, bahwa setiap sesuatu yang dikerjakan serba kekurangan, lebih baik itu tidak dilaksanakan. Penanggung jawab kampus harus berpikir sekeras mungkin untuk melahirkan solusi konkrit konstruktif demi pelaksanaan KPM itu sendiri. Memaksakan sesuatu seperti kehendak otoritas, itu bukan gaya kampus, melainkan gaya totaliter; sedang kampus adalah gerbang paling dasar untuk menolak hal yang berbau strata dan kelas-kelas. Dalam pendidikan semua sama, egaliter; tidak ada yang boleh memerintah seperti sistem komando, kampus sifatnya koordinasi.
Mahasiswa juga bersuara semampu mereka, mendengungkan suara perlawanan agar suara mereka tidak sebatas didengar, tetapi juga didiskusi secara rasional agar para mahasiswa merasakan, mereka diakui keberadaannya dengan dihargai aspirasinya. Tentu juga, mahasiswa jangan menuhankan alasan yang sama tidak jelasnya saat penanggung jawab kampus merespon dengan baik, masalah juga tidak sedikit datang dari peserta didik. Masih melekatnya budaya malas begitu kental, sehingga disebabkan kondisi seperti ini, alasan tidak logis bertubi-tubi disampaikan.
Tanggung jawab kampus ada pada semua, pendidik dan peserta didik. Ketidakseimbangan orientasi antara salah satu unsur tersebut otomatis melahirkan sesuatu yang terjadi saat ini. Paradigm berpikir rasional masih absen dalam sistem pendidikan, maka itu adalah sumber kekacauan. Saat ini, bagi penulis, lebih baik KPM Online tidak dilakukan. Tunggu hingga kondisi membaik dan bisa dilaksanakan kembali aktivitas secara langsung. Kuliah Daring seharusnya menjadi pembelajaran, bahwa sangat banyak kekurangan hingga ketidakjelasan tentang materi yang didiskusikan. Bahkan KPM Online dari rumah tidak memberikan sesuatu yang berarti tentang pengabdian.
Penamaannya kuliah pengabdian masyarakat, inti dari pelabelan itu terletak pada pengabdian. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Imam Syafi’I “Telah kuabdikan diriku kepada ilmu pengetahuan hingga matiku, tak akan mampu aku bertahan tanpa dirinya.” Penggalan kalimat tersebut memberi arti kepada kita sesungguhnya pengabdian dituntut sebuah penyatuan dan perakatan hubungan, yang sebelumnya tidak saling sapa hingga terbentuk sebuah kondisi saling cinta. Bersama belum tentu itu menyatu; layaknya KPM Online yang segera dilaksanakan. Kebersamaan tanpa penyatuan adalah sebuah pendustaan, karena setiap ucapan dan tindakan tidak akan diiringi dengan pembuktian secara ontologis terhadap sosiologis tempat penyemaian kebersamaan itu. Itu terbukti terjadi, contoh nyata adalah relasi Aceh dengan Indonesia. Dipaksa bersama namun tidak pernah menyatu
Saat sesuatu menyatu, otomatis ia bersama. Penyatuan menutup segala kekurangan, mengisi setiap kekosongan, melengkapi seluruh kerenggangan. Karena yang dibutuhkan dalam KPM adalah empati total atas masalah rakyat yang ada di desa tempat pengabdian dilakukan, memahaminya dengan baik, memberikan solusi kepada kaum proletar, dan tidak hanya sebatas itu dan di situ, sampai mahasiswa selesai melakukan pengabdian lapangannya, mereka juga masih dituntut oleh identitas kemahasiswaannya untuk menindaklanjuti permasalahan yang mereka peroleh di sana. Membuat dalam bentuk diskusi, menciptakan semacam naskah akadaemik sebagai tawaran solusi konstruktif kepada Pemerintah. Toh, hal itu juga bisa membantu Pemerintah untuk mengetahui setiap masalah yang dialami oleh rakyatnya.
Pemerintah lain halnya. Begitu minim kehendak untuk menyeriusi setiap masalah yang diutarakan mahasiswa, membutktikan mereka arogan dengan kuasa yang dimililik. Dalam hal ini kompleksitas alur masalahnya begitu jelas. Dan korbannya tetap rakyat. Maka KPM secara tidak langsung juga disebut sebagai penyelamatan rakyat agar tidak menjadi korban berkali-kali, dijembatani oleh fungsi mahasiswa. meminjam istilah Erich Fromm, Immortal Victims of Dead Civilazation; Korban Abadi dari Peradaban Mati.
KPM bukan sebatas datang dan pergi. Lebih dari itu; mereka datang, menetap, mendengarkan, merasakan, dan memberi yang terbaik sebatas kemampuan mahasiswa. Maka mahasiswa pun jangan tuli fenomena, jangan apatis terhadap lingkungan sosial, dan jangan mengembangbiakkan sifat individualistis selama hidup bersama kaum tertindas. KPM adalah akses bagi mahasiswa untuk melakukan salah satu unsur Tri Darma Perguruan Tinggi; pengabdian. Dan itu hanya akan terjawab dengan dilaksanakan secara nyata, bukan secara maya. Tan Malaka dalam bukunya Madilog (Materialisme, Dialektika dan Logika) pernah menyampaikan “Bila kaum muda yang telah belajar dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.”
Masyarakat juga, tidak mendapatkan feel yang asli dari sistem KPM Seperti ini, masyarakat masih menaruh harapan kepada mahasiswa, yang kedatangan mereka bisa mengubah sebuah pola dalam kehidupan masyarakat itu sendiri; bukan pola nasib melainkan pola pikir futuristik. Ini adalah perjuangan mahasiswa, pantaskan diri untuk dibutuhkan, mahasiswa adalah sosiologi yang berperan memperbaiki kerusakan moral bangsa. Akan ada kemenangan spiritual saat para mahasiswa berusaha semampunya memerankan dengan baik. Itu adalah eskatologi mereka dari proses yang diperjuangkan secara ikhlas.
Mahasiswa harus melawan dengan pikiran kritis terhadap pemaksaan KPM Seperti dengan cara ini. Lagi-lagi, lawanlah dengan argumen, bukan sentimen. Lawanlah dengan kritisisme, bukan pragmatisme. Lawanlah dengan idealisme bukan sinisme. Lawan dengan humanisme bukan materialisme. Lawan secara beradab, bukan biadab. Karena adab lebih tinggi dibanding ilmu. Tetapi jangan pernah takut untuk menuntut hak, kampus adalah rumah mahasiswa, mereka bukan tamu di situ. Tuan rumah harus mengetahui seluk beluk permasalahan rumahnya, agar tidak berterlurnya kejahatan-kejahatan lain. Identitas lain mahasiswa adalah mengibarkan perlawanan terhadap Pelaziman Kezaliman, karena memang itu ontologis kampus. Kita semua tidak boleh membiarkan kampus menjadi sebuah tempat yang membanalnya kejahatan, tidak boleh sama sekali. Setiap manusia yang menjadi bagian kampus, harus menjaga itu dari semua celah menjamurnya sifat-sifat pembiaran.
Salam akal sehat;
Salam mahasiswa;
Salam merdeka !
*Penulis adalah Pengajar pada Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar Raniry.










