+++
MEMASUKI akhir 2016, beasiswa yang diharapkan oleh Ibnu tak kunjung diperoleh. Semua jalur pemerintah yang ditempuh oleh Ibnu akhirnya kandas di tengah jalan. Keadaan ini membuat jadwal keberangkatan Ibnu di 2017 terancam gagal dan bergeser hingga pertengahan 2018.
Ibnu sendiri mulai memasang alternatif kedua. Alternatif tersebut adalah ia tetap mendaftar meski tidak ada beasiswa.
“Aku harus menyimpan uang untuk semester pertama dan kedua. Kemudian untuk tahun kedua, aku akan bekerja apapun guna bertahan,” gumam Ibnu dalam hati sambil memasang target.
Untuk mencapai target ini, Ibnu mulai kembali mengambil beberapa pekerjaan sekaligus agar bisa menabung.
Pagi hari, ia mengajar di salah satu sekolah swasta di seputaran Banda Aceh. Siang harinya membantu Bang Ilham di bengkel yang berada di Darussalam dan sore hingga malam dihabiskan waktu di Warkop Pinggir Kali dengan jualan burger.
Ibnu yakin bahwa perjuangan panjangnya tersebut akan menuai hasil manis di masa depan.
Ia juga mencoba melupakan sementara ketertarikannya pada perempuan cantik asal Ngawi, Jawa Timur. Walaupun dalam hatinya, ia merasa seperti pengecut yang seolah lari dari masalah.
Bagi Ibnu, Riska adalah perempuan spesial yang pantas untuk dipertahankan. Namun dengan sejumlah persoalan yang dihadapinya, ia harus melupakan sementara perempuan yang pernah mengisi hari-harinya itu.
Riska juga jarang terlihat di seputaran Banda Aceh pasca dirinya bertemu dengan lelaki tua yang mengaku ayahnya tersebut.
“Riska sudah pulang ke Ngawi. Aku tidak tahu berapa tahun dia akan berada di kampung halamannya tersebut,” ujar Ahmadi kepadanya saat berada di kos mereka.
“Riska minta kamu untuk focus pada target awal. Kalau jodoh, kalian pasti akan kembali bertemu. Ini katanya melalui handphone saat menghubungiku beberapa hari yang lalu,” kata Ahmadi lagi.
Penjelasan Ahmadi seolah menjawab sejumlah pertanyaan yang disimpan Ibnu dalam hati selama ini. Ibnu tak berani untuk bertanya langsung. Namun kini ia memperoleh jawaban tersebut.
Kini Ibnu yakin bahwa Riska tak pernah menyimpan sakit hati kepada dirinya karena menjauh usai mengetahui profesi ayah Riska yang seorang tentara. Ia juga tahu bahwa Riska masih komit dengan cita-cita awal mereka bahwa berangkat ke luar negeri sama-sama untuk menempuh pendidikan Magister.
“Aku harus focus agar cita-citaku tak tertunda lama,” gumam Ibnu dalam hati.
Tiba-tiba Ibnu kembali teringat dengan wasiet ibunya pasca ditinggalkan ayahnya untuk selama-lamanya.
“Kita tak sendiri Nak. Ada ayah dan dua abangmu yang selalu memantau kita dari atas sana. Jangan pernah mengeluh dengan keadaan kita sekarang,” ujar Sakdiah, belasan tahun lalu.
“Ibu tak akan membiarkan dirimu tinggal seorang diri. Namun kalau takdir akhirnya berkata lain, ibu berharap kau tak mudah menyerah. Karena hidupmu akan berubah jika kau berusaha sebaik mungkin,” kata Sakdiah.
Petuah petuah tersebut disampaikan Sakdiah saat mereka berdua di rumah. Petuah yang membuatnya bertahan bertahun-tahun serta tak mudah menyerah meski menghadapi masa-masa yang sangat sulit.
[Bersambung]










