BANDA ACEH – Pengamat politik Aceh, Taufiq A. Rahim, menilai hengkangnya PT. Trans Continent dari KIA Ladong memiliki reputasi dan bisnis internasional.
“Ini sangat mempermalukan rakyat Aceh. Sebagai salah satu perusahaan dan bisnis transnational (internasional), ini memiliki jejaring yang luas dan tidak luput dari perhatian pasar internasional, serta bursa saham internasional,” ujar Taufiq.
“Ini sangat memalukan dan mencoreng wajah Aceh menjadi sangat negatif dimata internasional. Keterangan dari Ismail Rasyied mereka rugi setiap bulannya Rp 600 juta, selama sudah berjalan 9 bulan, ini buka jumlah nominal yang kecil, harus dipertanggung jawabkan secara perhitungan bisnis dan juga hukum.”
Oleh karena itu, kata Taufiq, kewajiban serta keharusan DPRA untuk memanggil PT. PEMA untuk memberikan penjelasan dan klarifikasi.
“Jangan-jangan ada orang, pihak dan kelompok yang bermain di dalamnya yang ingin memanfaatkan program industrialisasi yang biasanya dapat memberikan keuntungan materi dan uang dalam jangka pendek, dibandingkan sektor lainnya seperti pertanian, perkebunan, perikanan dan perhotelan, juga yang lainnya.”
“Segera dipanggil oleh DPRA, agar tidak main-main ke depannya. Jika ingin membangun Aceh, jangan abaikan aturan, ketentuan dan risiko ekonomi dan politik Aceh. Konon pula membuat malu Aceh dimata internasional ditengah wabah atau pandemi covid-19,” ujar dia.
Sebelumnya, Taufiq A. Rahim, juga meminta DPR Aceh untuk segera memanggil PT. PEMA terkait hengkangnya PT. Trans Continent dari Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong, Aceh Besar.
“Ini sangat menyentak dan menjadi perhatian masyarakat dan publik Aceh. Maka sudah sewajarnya DPR Aceh memanggil PT PEMA,” kata Taufiq A. Rahim dalam pernyataan tertulisnya kepada atjehwatch.com, Selasa malam 19 Mei 2020.[]










