RISKA mematung. Demikian juga dengan Ibnu. Keduanya terdiam hingga beberapa menit. Ada suasana yang berbeda saat keduanya bertemu.
Suasana sedikit kaku. Seolah-olah mereka baru ketemu dan saling mengenal. Namun gadis muslimah yang disamping Ibnu tadi justru tersenyum lebar.
“Maaf buk. Bisa bergeser sedikit. Saya mau kedepan,” ujar seorang penumpang tiba-tiba. Teguran ini membuat Riska tersadar dari lamunan. Ia bergeser dari jalur tengah dan membiarkan pria itu berjalan ke depan.
Riska meletakan barang bawaannya di kabin atas. Namun karena barang bawaannya lumayan banyak, membuatnya sedikit kewalahan. Ibnu kemudian berdiri dan ikut membantu gadis itu.
“Kursi Riska di samping Bang Ibnu. Riska benar-benar tak menyangka jika dapat tempat duduk di samping Mas,” ujarnya kemudian.
Ibnu mencoba tersenyum.
“Oya mas, perkenalkan ini Dela, kawan Riska. Mungkin Mas sudah ngobrol sama dia tadi. Satu lagi Sri, ia dapat tempat duduk di set depan. Mereka ke Australia untuk mengantar Riska,” ujar Riska kemudian.
Dela yang ditunjuk Riska kembali tersenyum ke arah Ibnu. Pemuda itu kini sadar mengapa sang gadis itu tahu banyak hal tentang dirinya.
Ibnu kembali ke kursi. Ia kini diapit oleh dua gadis cantik. Keadaan ini turut membuatnya salah tingkah. Apalagi kini ia duduk berdekatan dengan Riska, gadis yang beberapa tahun lalu pernah dekat dengan dirinya.
Ibnu ingin menanyakan banyak hal dari Riska. Ada banyak hal yang terjadi usai dirinya bertemu dengan orangtua Riska, Dedi, beberapa tahun lalu. Namun Ibnu tidak tahu apakah saat ini merupakan waktu yang tepat untuk mengulang kisah tersebut.
“Apakah Riska juga bertemu dengan Dara tadi? Melihat kebersamaanku dengan Dara,” gumam Ibnu dalam hati.
“Apakah Riska sudah menikah dengan pria berseragam yang pernah dilihat oleh Ahmadi?” gumam Ibnu lagi.
Ada banyak pertanyaan yang ingin dilontarkannya. Namun ia tidak tahu harus memulai dari mana. Ia tidak ingin pertemuan dadakan ini justru menuai kecewaan yang mendalam bagi gadis itu.
“Tunangan Bang Ibnu cantik ya. Tadi Riska melihat Bang Ibnu dengan gadis itu di antrian,” ujar Riska memulai obrolan. Ia mencoba tersenyum.
Mendengar hal itu, Dela yang nguping pembicaraan keduanya tiba-tiba menimpali.
“Mas Ibnu. Mas masih ingat dengan kesepakatan yang Mas buat dengan Riska?” todong Dela dengan pertanyaan tiba-tiba.
Wajah Ibnu dan Riska memerah. Bagi Ibnu, pertanyaan tersebut sangat menusuk. Ia akan dianggap sebagai pria yang mempermainkan banyak wanita jika berterus terang apa adanya. Tapi berbohong juga akan menyakiti Dara dan Riska sendiri.
“Del, jangan tanya yang berat dulu. Aku khawatir jika Bang Ibnu merasa kita menekankannya nanti,” ujarnya Riska mencoba tersenyum.
[Bersambung]










