Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Opini

Masyarakat Aceh Besar dan Nafsu Politik Mawardi Ali

Admin1 by Admin1
10/09/2020
in Opini
0
Warga di Daerah Kelahiran Mawardi Ali Sepakat Jika Digabungkan ke Banda Aceh

Mawardi Ali, bupati Aceh Besar

Ir. H. Mawardi Ali selaku Bupati Aceh Besar masuk dalam 4 calon Ketua DPW PAN Aceh yang akan dimusyawarahkan oleh DPP PAN di Jakarta.

Namun, masih banyak visi dan misi dalam pemerintahan Ir. H. Mawardi Ali bersama Tgk. H. Husaini Abdul Wahab (Pasangan Putih) yang belum terpenuhi atau belum maksimal. Oleh karenanya meminta kepada Ir. H. Mawardi Ali untuk fokus menyelesaikan berbagai persoalan di Kab. Aceh Besar. Ditambah dengan kondisi Covid-19 yang semakin meningkat di Kab. Aceh Besar.

Seharusnya Ir. H. Mawardi Ali lebih fokus untuk menyelesaikan tanggungjawabnya terhadap masyarakat untuk menangani wabah Cobid-19, bukan berlomba-lomba untuk menduduki jabatan strategis dalam partai politik.

Masyarakat saat ini membutuhkan pembuktian atau kerja nyata dari seorang pemimpin, meskipun keinginan masyarakat agar Pemkab Aceh Besar transparansi dalam penggunaan anggaran Covid-19 tidak terpenuhi, maka seharusnya dapat diwujudkan dari tindakan dan upaya yang dilakukan oleh pemerintah.

Ambisi Ir. H. Mawardi Ali menduduki jabatan strategis dalam partai politik hanya untuk memuluskan langkah politiknya kedepan, tetapi diraih dengan mengadaikan masyarakat Kab. Aceh Besar.

Diketahui, Aceh Besar dibawah kepemimpinan Bupati Ir H Mawardi Ali dan Wakil Bupati Tgk H Husaini A Wahab sudah genap tiga tahun sejak dilantik pada 10 Juli 2017 lalu. Pasangan yang menamakan diri sebagai Pasangan Putih ini didukung oleh 11 partai politik pada saat mencalonkan diri sebagai Bupati dan Wakil Bupati Aceh Besar periode 2017-2022.

Untuk membangun Aceh Besar menjadi lebih baik, Pasangan Putih mengusung visi “Terwujudnya Aceh Besar yang Maju, Sejahtera dan Bermartabat Dalam Syariat Islam”, dengan enam misi di dalamnya. Keenam Misi tersebut yaitu; Meningkatkan Pelaksanaan Syariat Islam, Meningkatkan Sumber Daya Manusia (Bidang Pendidikan, Kesehatan dan Pemberayaan Komunitas).

Kemudian, Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik (good governance) dan Bersih (clean governance), Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Infrastruktur di segala bidang, Meningkatkan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat yang berbasis Mukim dan Gampong, dan Meningkatkan Percepatan Laju Pembangunan Masyarakat Pesisir Terisolir dan Tertinggal.

Apakah sudah terwujud visi dan misi selama kepemimpinan Mawardi Ali dan Waled Husaini selama tiga tahun ini?

Visi dan misi dijabarkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) periode 2017-2022. Dalam RPJMD dijabarkan berbagai program kerja untuk menjawab visi  dan misi.

Berbagai kebijakan dan program sudah diimplementasikan oleh Bupati Mawardi Ali dan bersama Wakil Bupati Waled Husaini, namun dalam pelaksanaan implementasi tersebut masih banyak masalah dan hambatan, salah satunya adalah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) belum mampu sepenuhnya menterjemahkan kebijakan dan program sesuai yang diputuskan dalam RPJMD.

Tiga tahun pemerintahan dibawah kepemimpinan Mawardi Ali dan Waled Husani, implementasi Syariat Islam belum menyentuh substansi pendidikan dan penguatan syariat, kebijakan ini hanya bagian dari pencitraan untuk memperlihatkan pada masyarakat Aceh Besar bahwa Pemerintah Aceh Besar serius dalam penerapan syariat Islam.
Sebagai contoh, himbauan wajib memakai jilbab bagi pramugari, dan meminta maskapai untuk menghentikan aktivitas penerbangan saat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Kebijakan ini menui kontroversi dan sorotan media-media nasional maupun lokal.

Diketahui selama ini kebijakan pelaksanaan Syariat Islam belum menyentuh persoalan yang substansi, misal penguatan pendidikan agama Islam (Aqidah, Akhlak, dan Hukum) karena pemahaman agama era milenial sekarang sangat terbatas, dan kalangan pemuda Aceh Besar sudah meninggalkan indentitas ke-Aceh-an.

Dari data statistik yang dikeluarkan oleh Badan Statistik Aceh Besar, menjelaskan ada penurunan yang sinifikan kemiskinan di Aceh Besar, dengan asumsi bahwa ada kenaikan pendapatan masyarakat. Asumsi tersebut berdampak turunnya pengangguran. Namun bagaimana dengan bidang yang lain, apakah bidang pertanian, peternakan, perikanan, parawisata dan sektor lainnya terjadi peningkatan?

Program unggulan Dinas Pertanian pengembangkan sektor pertanian dengan komoditi jagung di Saree, Kecamatan Lembah Seulawah dan Kecamatan Kota Jantho. Bagaimana program ini, apakah sudah berjalan atau masih tahapan perencanaan. Selanjutnya program ganti rugi petani yang rugi akibat gagal panen, apakah program terealisasi atau masih tahapan janji? Dua hal ini dari pengakuan masyarakat belum terealisasi, masih tahapan rencana.

Sektor Pelayanan Publik, sejak awal dibawah kepemimpinan Mawardi dan Waled Husaini berkeinginan untuk menfungsikan gedung di kawsan Pasar Lambaro, untuk mempermudah pelayanan publik bagi masyarakat pesisir. Namun sudah tiga tahun gedung pelayanan publik tersebut belum juga fungsional sampai sekarang.

Potensi alam dan laut wilayah Aceh Besar begitu indah, bagaimana program sektor parawisata, apa yang menjadi unggulan destinasi wisata tiga tahun terakhir, sehingga dapat mendongkrak PAD yang signifikan. Berbicara sektor parawisata belum ada sentuhan dan pengelolaan kawasan destinasi wisata yang berada diwilayah Aceh Besar, misalnya wilayah pesisir Ujong Batee, Krueng Raya, Pulo Aceh dan sebagainya, belum ada Master Plan yang jelas pengembangan destinasi parawisata.

Padahal potensi destinasi wisata Aceh Besar sangat menjanjikan. Pemerintah Aceh Besar seharusnya sudah ada perencanaan dan master plan yang jelas dalam pengembangan destinasi wisata bahari dan kelautan, dengan program penguatan infrastruktur sarana dan prasarana, serta pelatihan sadar wisata bagi masyarakat. Sehingga, tata kelola dalam pengembangan destinasi wisata berjalan dengan baik.

Pelayanan kesehatan, pendidikan dan pelayanan publik belum tuntas, khususnya wilayah pesisir yaitu Pulo Aceh, Lhoong dan Krueng Raya. Perlu ada solusi yang cepat agar berbagai masalah wilayah pesisir pelayanan masyarakat tertangani dengan baik. Khusus Pulo Aceh, Pemkab Aceh Besar harus secepatnya membuat kebijakan umum dan master plan pembangunan kawasan ekonomi.

Persoalan sampah kawasan pesisir, memang ada komitmen yang besar dari Pemerintahan Mawardi Ali dan Waled Husaini dalam hal penanganan sampah. Hal ini terbukti di beberapa titik penanganan sampah sudah diatasi dengan baik, misalnya kawasan Krueng Barona Jaya, Kuta Baroe sudah mulai bagus penanganannya. Namun, di beberapa tempat lain di wilayah pesisir Baitussalam, Mesjid Raya, dan beberapa kawasan lainnya masih terlihat belum berjalan dengan baik. Maka perlu langkah strategis dan keseriusan khususnya kepala dinas terkait dalam penaganan sampah.

Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, seharusnya bersinergi dengan Pemerintah Kota Banda Aceh dalam pengembangan kawasan ekonomi untuk peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Diantaranya adalah pengembangan destinasi wisata, dan pembangunan pusat-pusat bisnis, dirancang master plan secara bersama-sama, dampaknya adalah lapangan kerja dan mendongkrak pendapatan ekonomi masyarakat. Maka perlu dibangun komunikasi kedua daerah tersebut untuk lahir sebuah konsep bersama, bersinergi membangun kawasan ekonomi dalam pembangunan terpadu.

Harapan masyarakat Kabupaten Aceh Besar, kepemimpinan Mawardi Ali dan Waled Husaini harus tetap solid, seiring sejalan. Sehingga pelaksanaan pembangunan dengan berbagai program berjalan dengan baik. Pecah kongsi yang terjadi beberapa waktu lalu harus menjadi evaluasi bersama, dan berdampak macetnya berbagai program yang sudah dicita-citakan saat kampanye tiga tahun yang lalu.

Penulis adalah Dekki, warga biasa di Aceh Besar

Previous Post

Pemilik Warung Nasi Guri Pak Rasyid Setor Zakat melalui BMA Rp46 Juta

Next Post

Terus Berlanjut, sudah 4.497 kantong Darah Disumbangkan ASN Pemerintah Aceh

Next Post

Terus Berlanjut, sudah 4.497 kantong Darah Disumbangkan ASN Pemerintah Aceh

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Polres Aceh Selatan Patroli Cegah Aksi Kejahatan

Polres Aceh Selatan Patroli Cegah Aksi Kejahatan

23/03/2026
Banjir di Lokasi Bencana Alam di Pedalaman Aceh Barat Sudah Surut

Banjir di Lokasi Bencana Alam di Pedalaman Aceh Barat Sudah Surut

23/03/2026
Para Pedagang Keripik Mulai ‘Hijrah’ dari Saree ke Padang Tiji

Para Pedagang Keripik Mulai ‘Hijrah’ dari Saree ke Padang Tiji

23/03/2026
Bupati Tarmizi Jenguk Mantan Kombatan GAM yang Sakit di Arongan Lambalek

Bupati Tarmizi Jenguk Mantan Kombatan GAM yang Sakit di Arongan Lambalek

23/03/2026
Kondisi Pendidikan Pascabencana di Aceh Tengah Dinilai Memprihatinkan

Kondisi Pendidikan Pascabencana di Aceh Tengah Dinilai Memprihatinkan

23/03/2026

Terpopuler

Warga di Daerah Kelahiran Mawardi Ali Sepakat Jika Digabungkan ke Banda Aceh

Masyarakat Aceh Besar dan Nafsu Politik Mawardi Ali

10/09/2020

Pernyataan Prabowo Soal Pemulihan 100 Persen Bikin Korban Banjir Aceh Geram

Saat ‘Bupati Panton’ Lupa Luas Aceh Utara

Jak Bak Jeurat; Cara Warga Aceh Bersilaturahmi dengan Kerabat yang Sudah Tiada

Isu Mosi Tak Percaya 67 Anggota DPRA Dinilai Operasi Politik Adu Domba, Soliditas di Bawah Zulfadhli Ditegaskan Tetap Kokoh

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com