MEUREUDU – Teungku Haji Muhammad Yusuf bin A. Wahab mengisi tausiyah peringatan maulidarrasul di SMAN 1 Meureudu hari ini, Selasa (15/12/20). Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh periode 2018-2023 tersebut menyampaikan pentingnya mendidikan untuk membangun generasi hari ini untuk menentukan bagaimana negeri ini di hari depan.
“Kebijakan orang tua-orang tua kita dulu memberikan kita pendidikan kepada kita tentu menentukan kualitas negeri ini. Hari ini kita juga harus menentukan kebijakan untuk masa depan demi anak-anak kita kelak. Di sini hadir generasi muda yang nantinya pasti menjadi seorang suami. Di sini hadir generasi muda yang pastinya menjadi seorang istri. Pertanyaannya, suami yang bagaimana? Istri yang bagaimana? Jawabannya tentu saja suami yang baik. Suami yang mampu membawa istrinya masuk ke dalam surga. Demikian juga dengan istri. Istri yang mampu memberi ketenangan lahir batin pada suami yang kemudian dari sana para suami mampu memikul tanggung jawab di dunia dan mengambil berkahnya di surga kelak,” papar Tu Sop.
Pimpinan Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb tersebut mengajak semua yang hadir melihat kembali masa di mana Islam mula-mula muncul di Arab. Masa di mana getar-getar keimanan membuncah dada kaum muslimin saat itu. Tidak ada institusi pendidikan di zaman Rasulullah seperti sekarang ini. Tetapi, Islam saat itu dibangun lewat pancaran jiwa para suami dan istri yang mampu mendidik generasi saat itu dengan hikmah Islam sehingga Islam besar dalam sekejap mata. Islam menyebar sampai ke Andalusia di Barat dan menyebar sampai ke Timur, sampai ke nusantara.
“Pendidikan yang baik, inilah tanggung jawab kita. Semua untuk anak-anak kita ke depan, khususnya orang tua. Dengan pendidikan yang baik, dengan bimbingan yang terarah, anak-anak akan mampu meraih cita-cita dunia sekaligus juga cita-cita menuju akhirat,” jelas Tu Sop.
Lebih lanjut Tu Sop menyatakan bahwa tentu saja untuk mencapai itu tidak mudah. Segalanya butuh perjuangan. Perjuangan bukan hanya belajar sungguh-sungguh, tetapi juga perjuangan batin di mana sifat-sifat tercela sedapat mungkin dijauhi dari pribadi masing-masing. Misalnya, iri dan dengki, lalai dengan media sosial, pergaulan bebas, dan kecenderungan untuk mengidolakan orang-orang non muslim.
Sedangkan sifat-sifat baik yang harus terus-menerus dilatih dan dipupuk semacam menghargai orang tua, menghargai guru, dan orang yang lebih tua. Pandai mengatur waktu. Rajin dan mau berpeluh-peluh dalam mencapai cita-cita.
Sepaket dengan tausiah Tu Sop, HUDA juga memberikan training kader dakwah kepada 30-an siswa SMAN 1 Meureudu yang berlangsung dari pagi sampai ashar, Senin (14/12/20).
Acara tersebut juga mengundang guru yang purna tugas dari SMAN 1 Meureudu antaranya Drs. Abdussalam, Nurhayati, S.Pd., dan Dra. Fatimah. Selanjutnya kepada yang pindah tugas dari SMAN 1 Meureudu antaranya Drs. Yusri, Luqman, S.Pd., dan Muhammadiyah, M.Pd.,
Penyerahan ‘bungong jaroe’ kepada yang pindah dan purna tugas diberikan oleh kepala SMAN 1 Meureudu Husna, M. Pd.
Selanjutnya Husna, M.Pd., juga memberikan penghargaan kepada guru berprestasi yaitu Murhamatillah, M.Pd., dan siswa-siswa yang berprestasi atas nama Rafly Baihaqy, Raisya Vidinda, dan Amiratul Husna.
Amatan wartawan di lapangan, maulidarrasul di tengah pandemi ini dilaksanakan dengan ketentuan prosedural kesehatan yang telah disepakati dengan Polsek setempat. Para siswa diharuskan menggunakan masker dan piring karena selepas zuhur semua yang hadir menikmati kenduri maulid yang telah disediakan.[]










