BANDA ACEH – Surat Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia yang ditujukan kepada Pemerintah Aceh terkait penjajakan kerjasama investasi pariwisata oleh pihak Uni Emirat Arab (UEA) di Pulau Banyak Singkil Aceh Singkil teramcam batal. Dalam surat itu Kemenlu memberi “opsi lain”, yakni pulau Sabang.
“Rencana investasi pariwisata oleh UEA itu terancam batal, padahal Gubernur sudah memberi harapan kepada masyarakat Aceh Singkil,” Kata Pengamat publik Dr, Nasrul Zaman kepada Atjehwacth.com, Jum’at (29/1/2021)
Kata Nasrul Zaman, dalam hal ini Gubernur Aceh harus bertanggungjawab kepada masyarakat Aceh Singkil, sebab telah memberi harapan baru bagi masyarakat di kawasan itu.
“Alasan perubahan lokasi rencana investasi ini disebutkan karena infrastruktur ke Pulau Banyak belum berkembang dan membutuhkan waktu realisasi selama 5-10 tahun,” ujar Nasrul.
Dijelaskan, pihak Murban Energy sebagai representasi pihak UEA sekaligus calon investor punya rencana investasi dalam durasi waktu yang lebih singkat yaitu 1-4 tahun.
“Jadi aneh kalau blackburn infrastruktur investasinya batal, padahal investasi yang direncanakan itu didalamnya termasuk pengembangan infrastruktur juga,” ujarnya.
Sebagai tambahan–lanjut Nasrul Zaman–Pulau Banyak oleh Pemerintah Pusat telah dimasukkan dalam skema konektifitas penyangga destinasi dengan Danau Toba dan Brastagi di Sumatera Utara.
“Ini menggambarkan pemerintah Aceh memang tidak punya niat baik untuk membangun daerah Barat Selatan Aceh umumnya dan singkil khususnya, padahal potensi wisata baharinya luar biasa, kelas dunia tidak kalah sekalipun dari Maldive yang dikenal sebagai destinasi wisata terbaik dunia, ” demikian Nasrul.
Surat yang ditandatangani oleh Bagus Hendraning Kobarsyih an. Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika, Direktur Timur Tengah ditujukan untuk Pemerintah Aceh. (red)







