MATA Adi berkaca-kaca. Ia sempat terdiam beberapa saat. Tangannya kemudian memeluk anak bungsu-nya yang baru berumur 2,5 tahun.
Bocah itu sejak tadi meminta es krim yang sedang dibeli abangnya yang cuma terumur beberapa tahun.
“Beutoi-beutoi hana lon sangka,” ujarnya kemudian.
Berdasarkan keterangan warga, kata Adi, pada Jumat pagi, Putra (pelaku-red) terlebih dahulu terlibat cekcok dengan seorang ibu rumah tangga di depan warung. Putra memukul ibu-ibu tersebut dan kemudian lari ke rumah.
Di depan rumah, kata Adi, putra sempat berpas-pasan dengan seorang tetangga dan menceritakan perihal cekcok tadi.

Putra kemudian masuk ke rumah dan mengambil pisau. Namun saat keluar ia justru melampiaskan kemarahannya kepada anak perempuan sulung Adi yang sedang bermain dengan sepupunya yang lain.
Jeritan anak-anak tadi mengagetkan Ramlah, istri Adi, yang sedang memasak di dapur. Ramlah berlari ke luar untuk menyelamatkan anak dan keponakannya, namun justru dibacok oleh Putra.
Ramlah berlari ke halaman rumah untuk meminta bantuan dari warga lain. Namun Putra kian kalap dan membacok guru ngaji tersebut hingga bertubi-tubi.
Beberapa warga yang melihat kejadian mencoba memukul Putra.
“Ada 4 warga yang memukul Putra. Ia sempat diamuk massa. Dipukul pakai balok hingga patah, namun Putra masih tertawa,” ujar warga lainnya.
Putra sendiri kemudian diikat kaki dan tangannya agar tak melawan.
Warga kemudian mengurung Putra dalam rumahnya hingga menunggu polisi datang.
“Saat itu ayah Putra datang dan memberinya minuman. Warga saat itu sudah sangat jengkel,” kata saksi mata lainnya.
“Demi kebaikan bersama, ayah Putra kami minta tak pulang ke rumah dulu. Kami khawatir ada saudara lain yang tak bisa menahan emosi. Karena rumah Pelaku di belakang rumah korban,” ujar warga lainnya.
Pada saat yang bersamaan, kata sumber, warga melarikan korban pembacokan Putra ke rumah sakit. Naas, Ramlah menghembuskan nafasnya yang terakhir di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Aceh.
Almarhumah meninggalkan tiga anak. Dua laki-laki dan satu perempuan. Anak perempuan sulung Adi diizinkan ke luar rumah sakit pada hari yang sama demi bisa melihat pemakaman orangtuanya.
Selain itu, almarhumah Ramlah juga meninggalkan 30 anak didik membaca Alquran.
Kepergian Ramlah merupakan duka bagi warga Desa Blang Lamjabat.
[Bersambung]










