Jakarta – Perang antara Israel dan Hamas kembali mengoyak wilayah Jalur Gaza, Palestina.
Ratusan orang meninggal. Kejadian itu adalah rentetan dari sejarah panjang konflik Israel dan Palestina. Pertikaian antara kedua belah pihak sudah berlangsung puluhan tahun.
Perselisihan di Timur Tengah terjadi saat kaum Yahudi mulai bermigrasi ke Palestina sejak 1920-an. Pemicunya adalah kemunculan gerakan keagamaan yang berubah menjadi politis yakni Zionisme yang dimotori oleh Theodore Herzl.
Para penganut Zionisme meyakini mereka warga Yahudi di seluruh dunia harus kembali ke tanah yang dijanjikan, yakni Zion yang merupakan wilayah yang diapit Suriah, Yordania, Mesir dan Laut Mediterania. Nantinya mereka harus mendirikan negara khusus bagi bangsa Yahudi di sana, yang kini dinamakan Israel.
Perlahan warga Yahudi yang datang dari Eropa membeli tanah di Palestina. Namun, sejak itu pula warga Yahudi kerap terlibat pertikaian dan sengketa lahan dengan warga Arab.
Konflik di kawasan Timur Tengah itu semakin tajam ketika orang Yahudi yang lari dari Eropa akibat Perang Dunia II mendirikan negara Israel di tanah Palestina. Saat itu wilayah Palestina dikuasai Inggris setelah Kesultanan Turki Utsmani kalah dalam Perang Dunia I.
Orang-orang Yahudi Israel lantas perlahan-lahan mengusir warga Palestina dari tanah kelahiran mereka.
Sejak saat itu, timbul protes keras oleh rakyat Palestina.
Terkait itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengadakan sidang pada 1947. Salah satu hasil sidang tersebut berisi pembagian wilayah Palestina bagi Yahudi dan Muslim.
Akan tetapi, keputusan itu ditolak oleh perwakilan Palestina. Mereka menuntut supaya seluruh wilayah yang direbut dan diduduki Yahudi Israel dikembalikan.
Karena kedua belah pihak tetap berkeras, maka pada 1947 sampai 1948 bangsa Yahudi Israel berperang dengan bangsa Arab Palestina. Kemudian Israel dan bangsa Arab Palestina bersepakat melakukan gencatan senjata.
Akibatnya, 80 persen dari wilayah Palestina dikuasai oleh kaum Yahudi. Namun, saat itu 150 ribu warga Palestina masih tinggal di sana dan mereka lambat laun diusir dari tanah kelahirannya hingga terpaksa tinggal di kamp pengungsian di Yordania, Suriah dan Libanon.
Tanah Palestina saat itu masih dihuni warga Arab ketika kelompok Yahudi Zionis mendirikan negara Israel Raya pada 14 Mei 1948. Proklamasi itu dibacakan oleh pemimpin warga Yahudi sekaligus menjadi Perdana Menteri Pertama Israel, David Grun alias David Ben-Gurion.
Tidak tahan dengan penindasan yang terus dilakukan Israel, pada 1964 warga Palestina mendirikan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).
Salah satu tujuan didirikannya PLO yaitu menjadikan Palestina negara yang berdaulat melalui perang maupun diplomasi. PLO aktif bergerilya dalam melawan Israel yang dianggap sebagai penjajah.
Selain itu, mereka juga melakukan upaya mencari dukungan dari negara-negara Muslim Arab dan internasional dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Dikutip dari Reuters, setelah 20 tahun diduduki militer Israel, yaitu pada 1987, gerakan perlawanan bangsa Palestina atau Intifadah Pertama dimulai di Wilayah Pendudukan Palestina.
Saat itu penduduk Palestina juga membentuk sejumlah organisasi massa untuk melawan Israel. Mereka adalah Fatah, Front Pembebasan Rakyat Palestina (PFLP) dan Hamas. Mereka melakukan pemberontakan dan melawan pendudukan Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza.
Pada 1993, Israel dan PLO membuat kesepakatan Oslo yang isinya mengakui kedaulatan masing-masing.
Israel bersedia menarik pasukan dari Tepi Barat dan Jalur Gaza. Selain itu, Israel juga memberi Palestina kesempatan menjalankan sebuah lembaga semiotonom yang bisa memerintah di kedua wilayah itu.
Pada, 2004 perang kembali pecah di Jalur Gaza. Dalam sebuah serangan udara, Israel menewaskan pendiri dan pemimpin spiritual Hamas, Syekh Ahmad Yassin, dan salah satu pendiri dan politikus Hamas, Abdul Aziz al-Rantissi.
Satu tahun setelahnya, Israel kembali menarik pasukan dari Jalur Gaza.
Pada 2006, milisi Hamas menangkap tentara Israel, Gilad Shalit, dalam sebuah serangan.
Penangkapan itu memicu serangan udara Israel. Shalit akhirnya dibebaskan lebih dari lima tahun kemudian dalam pertukaran tahanan.
Sejak 2008, hubungan antara Israel dan Palestina tidak bergejolak. Namun, pada 2014 Hamas dan Israel terlibat peperangan.
Pemicunya adalah penculikan dan pembunuhan tiga pemuda Israel oleh milisi Hamas. Sementara Hamas berupaya menarik perhatian dunia untuk menekan Israel supaya mencabut blokade di Jalur Gaza.
Perang itu lantas berkecamuk selama tujuh pekan. Israel menyerang Jalur Gaza dari udara dan darat. Ribuan warga Gaza meninggal dalam peperangan itu.










