BANDA ACEH – Rangkaian webinar sebagai bagian dari Gerakan Nasional Literasi Digital yang pada 20 Mei 2021 lalu telah dibuka oleh Presiden Jokowi kembali bergulir. Kali ini di Kabupaten Aceh Jaya dengan mengusung tema “Literasi Digital—Tantangan dan Peluang Bisnis bagi Pemula di Era Digital”.
Kegiatan yang berlangsung pada hari Sabtu, tanggal 19 Juni 2021, pukul 14.00—17.00 WIB ini mengupas tentang dunia digital yang telah membuat siapa pun sekarang bisa berbisnis. Bisnis menjadi mudah dan murah dengan skala yang bisa diatur sesuai dengan kondisi pelaku bisnis.
Pada webinar yang menyasar target segmen mahasiswa, pelaku UMKM, dan umum ini sukses dihadiri sekitar 250 peserta secara daring. Hadir dan memberikan materinya secara virtual, para narasumber yang berkompeten dalam bidangnya, yakni owner kampungkaleng.com, Muhammad Arif Rahmat; CEO Nextup ID, Muhaimi; Kepala Subbagian Kepegawaian Kecamatan Setia Bakti Aceh Jaya, Cut Eravika; owner Portugis Coffee & Roastery Aceh Jaya, Muhammad Haris; serta dosen dan pengusaha @kasihbahhairtonic, Dini Valdiani, sebagai key opinion leader.
Hadir pula selaku Keynote Speaker, Samuel A. Pangerapan selaku Dirjen Aptika Kementerian Kominfo. Ia mengatakan, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah terkait literasi digital.
“Hasil survei literasi digital yang kita lakukan bersama Siberkreasi dan Katadata pada 2020 menunjukkan bahwa indeks literasi digital Indonesia masih pada angka 3,47 dari skala 1 hingga 4. Hal itu menunjukkan indeks literasi digital kita masih di bawah tingkatan baik,” katanya lewat diskusi virtual.
Dalam konteks inilah webinar literasi digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Kominfo RI ini menjadi agenda yang amat strategis dan krusial, dalam membekali seluruh masyarakat Indonesia beraktifitas di ranah digital.
Pada sesi pertama, Muhamad Arif Rahmat menyampaikan materi tentang Mengenal Marketplace. Marketplace berfungsi sama seperti mal, hanya saja bentuknya online. Menurut data iprice 2021, ketika tingkat kunjungan marketplace tinggi, maka peluang terbelinya juga tinggi. Marketplace dengan tingkat kunjungan tertinggi adalah Tokopedia, disusul Shopee.
“Jadi, jika ingin berjualan online boleh pilih platform yang tertinggi. Kemudian survei produk berdasarkan harga, kompetitor, spesifikasi, kurir, reputasi toko, display toko dan pelayanan. Kelebihan marketplace itu adalah free kecuali meningkatkan level seperti star seller, atau dibantu promosi iklan oleh marketplace,” katanya.
Namun, marketplace juga memiliki kekurangan seperti perputaran uangnya lebih lama dari toko online pribadi, barang tidak sesuai dengan gambar, foto diambil tanpa izin, sistem komplain yang kadang merugikan penjual.
“Tips berjualan di marketplace, yaitu nama toko atau produk yang berpengaruh ke pencarian, tampilan toko, reputasi toko, dan fast respons,” ujarnya.
Pembicara kedua, Muhaimin, dalam materi berjudul Keamanan Transaksi Online memaparkan tentang keuntungan menggunakan digital payment di antaranya adalah aman, bisa dilakukan kapan saja, transaksi dapat dilakukan lebih cepat, mudah, dan hemat tenaga. Jenis-jenis pembayaran digital ada SMS banking, M-banking, internet banking, dan e-money.
“Kemudian jenis-jenis e-money yang pertama adalah berbasis chip, umumnya berbentuk kartu seperti Flazz, e-Money dan Brizzi. Kedua adalah uang elektronik berbasis aplikasi seperti OVO, Go-Pay, Dana, dan Link Aja. Cara membatasi akses yang dapat mengurangi risiko pada saat bertransaksi adalah dengan mengupdate perangkat lunak kita dan penggunaan kata sandi yang tidak sederhana,” katanya.
Sebagai pembicara ketiga, Cut Evarafika menjelaskan bahwa abad 21 merupakan era digital yang mendobrak cara pandang konvensional menjadi super-digital. Semuanya sudah beralih ke digital, perilaku budaya masyarakat menjadi limbung menghadapi perubahan yang cepat. Dampak digitalisasi adalah teknologi digital telah merebut posisi manusia, perkembangan pesat media sosial menjadikan manusia sebagai komoditas yang dapat diperjual-belikan, ditawar, dan ditukar.
“Melokalkan globalisasi dan mengglobalkan lokalitas, sekarang sudah tiba saatnya bangsa Indonesia mengubah paradigma menjadi mengglobalkan kearifan lokal. Penguatan dan peran serta masyarakat termasuk UMKM sangat dibutuhkan. UMKM harus lebih kreatif sehingga produk yang dibuat Indonesia dapat menjadi produk global tanpa mengurangi nilai-nilai bangsa yang sudah sedemikian kita jaga,” katanya.
Terakhir, Muhammad Haris, dengan materi berjudul “Pemanfaatan Media Sosial bagi UMKM pada Era Go Digital menjelskan bahwa kemajuan era digital saat ini banyak membawa keuntungan dan kemudahan bagi manusia, termasuk bagi pelaku UMKM. Tiga langkah yang dapat ditempuh UMKM menuju era digital, yaitu kualitas produksi, kapasitas produksi, dan literasi digital.
“Media sosial sangat diminati oleh UMKM untuk mengembangkan bisnisnya, karena mempunyai pengaruh yang besar dan mudah diakses. Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, Tiktok, Whatsapp, dan Line merupakan media sosial yang bisa digunakan UMKM untuk mendobrak bisnisnya. UMKM harus mengetahui data riset pengguna media sosial di Indonesia, yaitu YouTube dan Facebook,” katanya.
Haris mengatakan, ada beberapa permasalahan umum pada aktivitas media sosial milik UMKM, yaitu menggunakan media sosial hanya sebatas syarat kepemilikan akun dan produk, namun tidak adanya konten berkelanjutan dan tidak mempelajari fungsi dari berbagai media sosial yang digunakan.
Dini Valdiani sebagai key opinion leader dalam webinar kali ini menuturkan media sosial yang paling sering ia gunakan adalah Instagram, termasuk untuk bisnis.
“Buat konsumen kita nyaman untuk berbelanja di mana pun. Jangan mudah percaya agar tidak tertipu, kemudian bagi yang masih merintis bisnis, jangan pernah ragu atau minder dan jangan menunda,” katanya.
Para peserta mengikuti dengan antusias seluruh materi yang disampaikan dalam webinar ini, terlihat dari banyaknya tanggapan dan pertanyaan yang diajukan kepada para narasumber. Salah satu peserta, Josep bertanya kepada narasumber Muhammad Haris, bagaimana strategi untuk menghadapi perubahan tren di masyarakat? Haris menjawab, langsung lakukan inovasi produk terbaru yang terupdate, lalu melakukan riset apa yang dibutuhkan konsumen agar produk kita tidak ketinggalan jaman.
Webinar ini merupakan satu dari rangkaian enam kali webinar yang diselenggarakan di Kabupaten Aceh Jaya. Masyarakat diharapkan dapat hadir pada webinar-webinar yang akan datang. Webinar berikutnya akan diselenggarakan pada tanggal 30 Juni 2021.
Kegiatan masif yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh Direktorat Pemberdayaan informatika Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo RI ini bertujuan mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kemampuan kognitif-nya untuk mengidentifikasi hoax serta mencegah terpapar berbagai dampak negatif penggunaan internet.
Kegiatan yang secara nasional telah dibuka oleh Presiden Jokowi ini dilaksanakan secara simultan di semua daerah dengan target 10 juta partisipan mengikuti webinar dan tersentuh oleh literasi digital.[]










