Jakarta – Label Belgia sebagai generasi emas mendadak meredup saat menghadapi Portugal di babak 16 besar Euro 2020 (Euro 2021) di Stadion La Cartuja, Senin (28/6) dini hari waktu Indonesia.
Belgia lolos ke perempat final Euro 2020 usai menang 1-0 atas Portugal. Akan tetapi, mereka lolos ke perempat final tidak dengan cara yang tidak semestinya.
Sejak Piala Dunia 2014, Belgia selalu mendapat label generasi emas dalam setiap turnamen utama, termasuk kejuaraan Piala Eropa atau Euro.
Nama-nama pemain seperti Thibaut Courtois, Thomas Vermaelen, Vincent Kompany, Eden Hazard, Kevin Mirallas, Kevin de Bruyne, hingga Dries Mertens yang menghiasi timnas Belgia merupakan bintang di klubnya masing-masing.
Sebagian besar nama-nama tersebut masih bertahan di skuad The Red Devils di Euro 2020. Dengan tambahan pemain seperti Thorgan Hazard dan Romelu Lukaku, Belgia tetaplah generasi emas.
Generasi emas yang disandang Belgia adalah skuad dengan sejumlah potensi di posisinya masing-masing. Courtois adalah kiper utama klub raksasa Real Madrid, Toby Alderweireld dan Jan Vertonghen andalan di pertahanan Tottenham Hotspur serta Benfica.
Di lini tengah, Belgia memiliki Kevin de Bruyne yang notabene Pemain Terbaik Liga Inggris bersama Manchester City. Sementara itu, di lini depan Lukaku merupakan top skor Liga Italia musim lalu.
Akan tetapi, kehebatan-kehebatan pemain-pemain Belgia itu tidak terlihat saat melawan juara bertahan Portugal.
Belgia yang lebih diunggulkan atas Portugal di babak 16 besar itu memilih bermain pragmatis dan sangat berhati-hati dalam menyerang.
Eden Hazard yang memiliki kaki lincah dan biasa meliuk-liuk di lapangan seperti malu-malu untuk ‘menari’. Begitu juga dengan Kevin de Bruyne yang mendadak menyembunyikan operan-operan terukurnya, yang bisa menciptakan peluang gol bagi Hazard, Thorgan, atau Lukaku.
Tanpa kreasi dari para gelandang kreatifnya, Romelu Lukaku pun terlihat seperti pajangan di lini depan Belgia saat melawan Portugal.
Padahal, jika melihat komposisi dan kualitas pemain, Belgia bisa menampilkan ‘permainan cantik’ berupa operan-operan pendek yang dialirkan cepat, lalu sesekali dikombinasikan dengan umpan terobosan kepada Lukaku.
Dries Mertens atau De Bruyne juga memiliki tembakan dari luar kotak penalti yang bisa membobol gawang lawan. Hanya saja, seluruh kualitas sebenarnya dari Belgia tersebut tidak terlihat saat melawan Portugal.
Bisa jadi, strategi tersebut merupakan bagian dari kejeniusan pelatih Roberto Martinez. Mungkin sejak awal Martinez berpikir mereka akan kewalahan jika memaksakan bermain terbuka menghadapi Portugal yang memiliki pemain-pemain dengan naluri menyerang mumpuni, seperti Cristiano Ronaldo, Joao Felix, Bernardo Silva, atau Bruno Fernandes.
Karena itu di babak 16 besar tersebut Belgia memilih bermain menunggu dan tidak terburu-buru dalam menyerang.
Dengan tidak mengambil inisiatif menyerang lebih dahulu, pertandingan tersebut mutlak milik Portugal, baik dalam penguasaan bola maupun percobaan gol. Tim asuhan Fernando Santos melepaskan 18 tembakan, dengan 6 mengenai sasaran.
Sementara itu, Belgia hanya melepaskan 5 tembakan selama 90 menit ditambah injury time. Dari 5 tendangan itu, hanya satu yang on target, dan beruntungnya Belgia, satu-satunya tembakan itu berujung gol yang berasal dari sepakan Thorgan Hazard di menit ke-42.
Meski demikian, Belgia perlu berhati-hati jika kembali memainkan taktik pragmatis tersebut melawan Italia yang permainannya hampir sama dengan Portugal.
Dengan permainan semacam itu bukan tidak mungkin Belgia akan kandas di Euro 2020 dan hanya akan menjadi generasi emas yang selalu mendambakan kesuksesan.
Pasalnya, di perempat final Euro 2020 nanti, Belgia akan menghadapi Italia tim dengan motivasi dan semangat juang tinggi di turnamen ini.
Ketika bertemu Austria di 16 besar, Azzurri sudah membuktikan mereka tidak mudah frustrasi meski memiliki lawan dengan pertahanan tangguh dan kesulitan mencetak gol.
Agar generasi emas itu tetap setia mereka dapuk, Belgia harus menunjukkan jati diri mereka yang sebenarnya, sebagai tim dengan kualitas mumpuni yang bisa menampilkan performa apik.
Portugal seperti tim yang lupa cara mencetak gol ke gawang lawan saat melawan Belgia di babak 16 besar Euro 2020.
Di luar keperkasaan Thibaut Courtois di bawah mistar gawang Belgia yang membuat 5 penyelamatan, Portugal jelas mengalami kebuntuan dan kehilangan cara mencetak gol.
Pada laga tersebut, Diogo Jota yang cukup subur bersama Liverpool beberapa kali membuang peluang gol Portugal.
Megabintang Cristiano Ronaldo juga tidak luput dari kesialan pada laga tersebut. Sejumlah peluang dari tendangan bebas tidak bisa dimanfaatkan dengan baik oleh CR7.
Dalam permainan terbuka, Selecao das Quinas tidak memaksimalkan percobaan gol lewat tendangan dari luar kotak penalti.
Salah satu penyebab tim asuhan Fernando Santos tersebut gagal mencetak gol adalah, selalu memaksakan menembus kotak penalti Belgia guna menciptakan gol apik.
Sayangnya, pertahanan Belgia yang diisi pemain-pemain tua seperti Thomas Vermaelen, Jan Vertonghen, hingga Toby Alderweireld nyatanya tampil cukup solid mementahkan umpan-umpan pendek maupun umpan silang Portugal.
Padahal, Portugal bisa saja memainkan skema serangan dengan mendorong pertahanan Belgia hingga garis akhir, lalu melepaskan umpan tarik yang kemudian diselesaikan dengan tembakan dari lini kedua.
Bernardo Silva dan kawan-kawan minim variasi dalam menyerang. Serangan Portugal saat melawan Belgia terlalu monoton. Ketika mencoba menyerang dari tengah, Ronaldo yang menjadi striker utama sudah dalam penjagaan Thomas Vermaelen atau Vertonghen.
Begitu melepaskan umpan silang mendatar dari kedua sayap, bek-bek Belgia tidak memiliki banyak kesulitan untuk mematahkan. Sementara itu, setiap umpan silang lambung selalu jadi ‘makanan empuk’ bagi lini belakang Belgia, karena memiliki tinggi badan lebih dari 183 sentimeter.
WhoScored mencatat, Portugal 3 kali memiliki shots on target dari dalam kotak penalti. Akan tetapi, hanya satu yang jadi ancaman serius bagi Courtois, yaitu sundulan Ruben Dias pada menit ke-81 usai memanfaatkan sepak pojok Bruno Fernandes.
Sedangkan dua lainnya, sundulan Joao Felix dan tendangan Andre Silva tidak cukup menyulitkan kiper Real Madrid tersebut. Catatan-catatan itu menunjukkan Portugal minim penetrasi di dalam kotak penalti Belgia karena selalu buntu di pertahanan lawan.
Beruntungnya Belgia, ketika Portugal lupa cara mencetak gol, mereka bisa membuat satu-satunya gol lewat tendangan jarak jauh Thorgan Hazard pada menit ke-42. Gol tendangan jarak jauh ala Belgia adalah sesuatu yang dibutuhkan Portugal, namun tidak bisa mereka lakukan.










