JALANNYA sedikit berliku dan masuk ke pedalaman. Butuh beberapa menit dari jalan raya untuk mencapai lokasi dengan sepeda motor.
Ini belum dihitung jarak antara lokasi dengan pusat kabupaten Aceh Tengah, Kota Takengon.
Beberapa petani terlihat melintas jalan yang sama. Mereka sedang membawa hasil kebun menuju kota.
Ada yang menggunakan sepeda motor. Ada juga yang memakai mobil bak terbuka dengan ban besar. Mereka memasang wajah ramah saat berpapasan di jalan.
“Assalamualaikum,” sapa mereka di jalan.
“Tak jauh lagi. Di ujung sana sudah sampai,” kata mereka saat ditanyai wartawan atjehwatch.com terkait lokasi yang dituju.
Mereka tersenyum dan kemudian berlalu.
Mendekati komplek, kebun kopi terlihat luas sejauh mata memadang. Buahnya yang berwarna merah cukup memanjakan mata.
Ada juga perumahan penduduk di sana yang mengapit beberapa gedung berlantai 2 di sana.
Beberapa pria muda terlihat bermain di halaman.
Mereka tersenyum saat melihat ada tamu yang datang.
Ya, lokasi yang dituju tim atjehwatch.com kali ini berada di pedalaman kabupaten Aceh Tengah. Tepatnya, kampung Jagong Kecamatan Jagong Jeget, Kabupaten Aceh Tengah.
Daerah ini merupakan kawasan transmigrasi. Sedangkan lokasi yang dituju adalah Dayah Al-Huda atau dikenal juga dengan nama Pesantren Al-huda Jagong Jeget.
Al-Huda adalah sebuah Yayasan Pendidikan Al-Quran yang berdiri di kawasan transmigrasi, Jagong, Aceh Tengah yang sudah berdiri sejak tahun 2010.

Konon menurut warga setempat, pengambilan ide nama pesantren ini awalnya berasal dari nama masjid Alhuda, masjid di kampung Jagong Kecamatan Jagong Jeget, Kabupaten Aceh Tengah.
“Karena dari sanalah syiar islam disebarkan.”
“Pesantren ini memiliki sejarah yang cukup panjang yaitu bermula dari hanya 4 orang santri yang mendaftar, dan hanya 2 orang saja yang tinggal di pesantren,” kata Teungku Ali Masrukhan, ketua yayasan setempat.
Menurutnya, usai rembuk dengan beberapa tokoh masyarakat, pemimpin pondok pesantren Al-Huda kemudian berinsiatif untuk merekrut anak putus sekolah dan tidak punya biaya untuk bersekolah agar mau masuk dalam pesantren untuk menimba ilmu agama.
“Alhamdulillah kita berkembang dengan baik,” katanya.
Di awal awal pendirian, kata dia, Al-Huda awalnya memiliki 8 ruangan gedung. Kemudian bertambah delapan gedung baru lagi yang diresmikan pada akhir 2020 lalu.
Sementara itu, Pimpinan pesantren Al-Huda, Teungku Kamaruddin, menambahkan bahwa awal-awal berdiri merupakan tahun-tahun tersulit bagi mereka dalam memajukan pendidikan di sana.
“Tahun ke-2 bertambah 4 santri, ahirnya ada santri 4 orang perempuan dan seorang pria. Kemudian mulailah dibuatkan asrama. Mengandalkan tenaga dan modal sendiri, awalnya untuk asrama putri. Setelah itu terus berkembang dan santrinya terus bertambah,” kata dia.
Kemudian, katanya, pada 2018 didirikan lagi Tsanawiyah dengan nama MTs Al-Huda.
Seiring jalan didirikan lagi MAS Al Huda.
“Sekarang ini jumlah siswa MAS Al-Huda mencapai 70 siswa dan 20 guru. Sementara di MTs ada 150 siswa dengan 15 guru. Madrasah Al-Huda ini sifatnya terbuka, ada yang sekolahnya dari rumah dan ada yang mondok di asrama Tahfiz Ar-Raudah,” katanya.
Berkat kegigihan semua pihak, total santri mencapai 250 orang serta 20 guru. Santri di asrama senantiasa berakfitas menghafal Alquran, mempelajari dan mendalami ilmu fikih, ilmu akhlak dan tauhid.
Menurut Kamaruddin, MAS Al-Huda pernah meraih berbagai prestasi. Meraih juara satu lomba pustaka sekabupaten hingga ke tingkat nasional, KSM peringkat ke-4 se Indonesiana. Dalam bidang tahfiz ada 2 orang yang diberangkatkan umrah dan sejumlah prestasi lainya.
Ponpes Al-Huda kini semakin berkembang dan maju. Beberapa tokoh Aceh dan pejabat sering berkunjung ke dayah ini, seperti anggota DPR Aceh Bardan Sahidi, bupati Shabela serta sejumlah petinggi lainnya.
Al Huda kini juga menjadi acuan dalam perkembangan pendidikan di wilayah tengah Aceh. [Advertorial]
Tulisan ini merupakan hasil kerjasama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh dengan atjehwatch.com dalam rangka promosi wisata islami (dayah) di Aceh.











