JAM baru menunjukan pukul 07.20 WIB. Namun suasana di gedung Banda Aceh Convetion Hall sudah ramai dikunjungi warga, Selasa 13 Juli 2021.
Ada beberapa pria berbadan tegap serta berpakaian kemeja di sana.
Ada juga beberapa pria berbaju loreng.
“Ke atas sana Pak. Jangan duduk di sini,” ujar pria berpakaian loreng kepada warga yang coba duduk di kursi antrian.
Ia menunjuk ke lantai atas sebelah kanan.
Saat itu tak ada petugas berpakaian ASN di sana. Sejumlah meja petugas masih kosong.
Naik ke lantai 2 sebelah kanan, suasana terlihat ramai. Warga terlihat berdesakan tanpa ada aturan protocol kesehatan.
Melihat hal ini, seorang pria paruh baya bermasker protes pada petugas. Ia terlihat marah.
Pasalnya, lantai I terlihat kosong.
“Kenapa harus ditumpuk di lantai 2,” ujarnya sambil marah.
Namun petugas menggeleng kepala. Ia mengaku itu adalah aturan selama Banda Aceh Convention Hall dijadikan lokasi vaksinasi massal.
Pria tadi terlihat kesal. Ia kemudian memutuskan kembali ke lantai 2.
Hingga pukul 08.00 WIB, suasana di lantai 2 semakin ramai. Sementara di lantai I terlihat kosong. Baru satu dua petugas berpakaian ASN di sana. Namun meja-meja yang dijadikan tempat registrasi ulang calon penerima vaksin masing kosong.
Para petugas molor dari jadwal semestinya.
Sekitar pukul 08.15 WIB, pria berpakaian loreng naik ke lantai 2. Ia membagikan nomor antrian pada warga yang duduk di sana.
“Maaf untuk hari ini, antrian hingga 1000 saja ya,” kata personil militer ini.
Suasana saat itu berubah gaduh. Warga berebutan nomor antrian.
Sekitar pukul 08.20 WIB. Beberapa petugas berpakaian Satpol PP menyelonong masuk dan duduk di kursi antrian. Mereka tak mengambil nomor antrian.
Hal ini membuat pria paruh baya tadi marah. Ia turun ke lantai 1 dan mengintrogasi satu persatu petugas Satpol PP dan seorang pejabat Satpol PP di sana.
Belakangan pejabat tadi diketahui bernama Muhammad Nasir. Ini terlihat dari papan nama yang ada di bajunya.
“Bapak ada nomor antrian?” tanya pria tadi.
Nasir dan beberapa Satpol PP menggeleng kepala.
Pria tadi terlihat kesal.
“Ambil nomor antri dulu. Baru duduk ke sini kalau sudah dipanggil,” ujarnya.
Pejabat tadi memasang muka masam. Namun ia memutuskan naik ke lantai atas untuk mengambil antrian. Sedangkan petugas Satpol PP lainnya masih kekeh bertahan di kursi antrian tanpa nomor antri.

Pria tadi terus mengomel. Karena tak sanggup berdebat, mereka akhirnya bergeser dari kursi antrian
Sekitar pukul 08.30 WIB, beberapa ibu-ibu yang berpakaian ASN yang baru datang memanggil warga yang memegang nomor antri 1-40 untuk turun dan duduk di kursi antrian. Namun dalam sekejab, kursi tadi kembali penuh.
Beberapa di antaranya masih terlihat petugas Satpol PP duduk di sana. Sementara warga yang memegang antrian hingga 40 ada yang belum dapat kursi.
Muhammad Nasir memanggil seorang petugas Satpol PP. Ia berbisik sesuatu ke petugas itu. Ia mendapat nomor antri di atas 400-san.
“Tolong semua naik ke lantai atas. Nanti dipanggil satu persatu,” teriaknya.
Ia berjalan dari satu sudut ke sudut lainnya sambil teriak. Ini membuat warga kembali panas.
Pasalnya, warga sudah dipanggil antrian dari 1-40 untuk turun. Sementara di lantai 2 berdesakan serta tak menerapkan Prokes. Sedangkan kursi antrian diserobot oleh mereka yang tak memiliki nomor antri, termasuk oleh dirinya dan Satpol PP.
Wartawan atjehwatch.com mendatangi Muhammad Nasir dan mengorfirmasi persoalan tadi. Muhammad Nasir terlihat kelabakan dan pengarah atjehwatch.com untuk berbicara dengan salah seorang pria berpakaian loreng di sana.
Muhammad Nasir kemudian tiba-tiba menghilang dari lokasi tadi.
Para petugas sendiri baru membuka meja registrasi ulang sekitar pukul 08.40 WIB. Namun geraknya lamban.
Aktivitasnya sering terhenti karena rekannya sesama ASN menyodorkan kartu registrasi kolega mereka untuk diproses cepat.
Sedangkan yang tidak punya koneksi harus mengelus dada dan bersabar hingga dipanggil serta diarahkan ke lokasi vaksinasi yang tersedia di sana.
Duh, nasib..nasib.











