SEJUMLAH remaja duduk melingkar dengan membentuk beberapa kelompok kecil di atas balai berdinding papan di sana. Lantainya juga terbuat dari papan.
Ada sajadah ‘bantuan’ yang menghadap kiblat serta sejumlah pernak-pernik lainnya.
Selain tempat salat, balai ini juga difungsikan sebagai lokasi belajar.
Para remaja tadi memakai baju kaos biasa dengan peci hitam.
Suara lantunan ayat Alquran sudah terdengar dari kejauhan. Suaranya cukup merdu meski dalam logat Gayo yang kental.
Satu persatu digilir untuk membaca Alquran.
Saat ada salah satu remaja yang bacaannya terhenti atau terdengar ada kesalahan, pria di depannya menegur dengan nada sopan.
Pria yang bertindak sebagai guru itu berkata dalam bahasa Gayo. Ia kemudian mempraktekkannya dengan irama yang tak kalah merdu.
Suasana seperti ini berlangsung hampir satu jam lamanya.
Ya, saat itu jam menunjukan pukul 17.00 WIB. Dayah setempat sedang melangsungkan pengajian rutin bagi santri di sana.
“Abu ada di rumahnya,” kata salah seorang pengajar di sana, Teungku Rahmad, kepada tim atjehwatch.com, yang berkunjung ke sana pada April 2021 lalu.
Ia kemudian meminta seorang santri untuk mengantar atjehwatch.com ke lokasi yang dituju.
Sang santri bernama Muhammad. Ia sudah dua tahun mondok di sana dan mengaku cukup betah.
“Alhamdulillah. Banyak temannya,” ujar Muhammad di sela-sela berjalan.
Selain balai tadi, di sana juga ada beberapa gedung berlantai 2 yang belum tercat. Ada yang difungsikan sebagai ruang belajar, asrama hingga ruang pertemuan.
Di depan bangunan, ada plamplet bertuliskan Dayah Ahlussunnah Wal Jama’ah.
Dayah yang dikunjungi kali ini berada di Jalan Blang Mancung Desa Kebun Baru Kecamatan Wih Pesam Kabupaten Bener Meriah.
Dayah ini didirikan oleh Teungku H. Budiman, B.A pada 1996. Beliau merupakan salah seorang ulama kharismatik di kota dingin.

“Awalnya bersifat salafiah. Kemudian dikembangkan mengikuti kurikulum modern dengan harapan melahirkan kader kader ulama terbaik di tanoh Gayo,” ujar pimpinan setempat.
Teungku H. Budiman B.A lahir pada 7 Juli 1958 di Aceh Tengah dan bertempat tinggal tidak jauh dari Dayah Ahlussunnah Wal Jama’ah.
Selain pimpinan dayah, Teungku Budiman juga menjadi rujukan dalam setiap persoalan agama yang terjadi di wilayah tengah Aceh. Ia juga memiliki jaringan dan pengikut yang luas hingga ke pesisir Aceh.
“Banyak murid dari sini juga bersuku Aceh,” katanya.
Di awal-awal berdiri, dayah ini hanya bermodalkan semangat serta balai-balai kecil yang dibangun secara swadaya masyarakat.
“Demikian juga hal lainnya. Semua dilakukan dengan semangat gotong royong. Semua dimulai dengan semangat ikhlas untuk membangun pendidikan di wilayah ini. Semua sumbang.”
Di tahun-tahun awal, Dayah Ahlussunnah Wal Jama’ah memiliki santri sebanyak 321 orang untuk berbagai dengan jumlah guru sebanyak 13 orang.
Semuanya berdedikasi untuk mencetak generasi muslim yang ahli dalam ilmu agama dan dapat merespon secara cerdas dan solutif terhadap persoalan-persoalan agama dan kehidupan keberagamaan umat Islam.
Fokus pendidikan dayah ini adalah pendidikan agama, seperti fiqih, muamalah, dan persoalan lainnya. Kemudian juga ditambah dengan pendidikan umum dan keterampilan lainnya. Dayah ini juga juga sudah di akta-kan sejak 2003 dengan nomor pendirian 44.
Seiring berjalan, dayah kini memiliki santri 1.080 dari berbagai jenjang dengan guru yang mengajar sebanyak 81 orang.
“Prinsipnya kita ingin mencetak ulama ulama besar di tanoh Gayo sebanyak mungkin. Sehingga Aswaja benar-benar membumi di wilayah tengah Aceh. Tak hanya di sini,” katanya. [Advertorial]
Tulisan ini merupakan hasil kerjasama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh dengan atjehwatch.com dalam rangka promosi wisata islami (dayah) di Aceh.










