WARUNG ini amat sederhana. Hanya ada beberapa meja dan kursi kayu dengan kios kecil yang digunakan sebagai dapur.
Letaknya di jalan pintas Desa Bakoy ke Lambaro. Namun saban hari kian ramai disinggahi warga. Warga yang datang pun berasal dari berbagai daerah di Aceh. Mereka datang khusus untuk menikmati kuliner unik di sana.
Pengunjung kian ramai saat akhir pekan tiba.
Salah satu pemikatnya adalah rujak U Groh.
U Groh sebutan rujak yang berbahan dasar tempurung kelapa yang lunak. Ada juga bahan yang berasal dari kelapa lainnya seperti cikal bakal daun kelapa muda yang baru tumbuh serta bahan lainnya.
Bahan bahan tersebut kemudian dicampur dengan manisan dan bumbu lainnya. Rasanya cukup membuat lidah ‘bergoyang’ dan makyus.
“Kami selalu datang ke sini untuk menikmati rujak U Groh. Rasanya beda dengan kuliner atau manisan lainnya,” kata Hamdina, 33 tahun, warga Aceh Besar.
Menurutnya, rujak U Groh memiliki citarasa tersendiri.
“Gurih, manis dan pedes. Mungkin karena bumbunya yang pas di lidah saya,” ujar Sukma, warga lainnya.
Untuk memperoleh sepiring kecil rujak U Groh, para pembeli cukup membayar Rp10.000 ribu rupiah.
Selain itu, di warung itu juga menjual berbagai kuliner lainnya, seperti olahan buah dan air kelapa lainnya.
Suasana kian terasa lengkap dengan pemandangan yang masih asri di sana.










