TAPAKTUAN – Rapa’i Debus merupakan kesenian tradisional Negara Indonesia, khususnya Aceh. Kesenian ini hampir dimiliki oleh setiap Kabupaten di Aceh, tak terkecuali Barat Selatan Aceh. Rapa’i Debus merupakan gabungan antara seni, agama dan ilmu metafisik (ilmu kebal).
Kononnya, menurut kaum Sufi Abad ke 7 H, Rapa’i Dabus itu berasal dari nyanyian-nyanyian (puisi yang berbentuk doa) yang dibacakan oleh seorang mursyid (pemimpin tarikat) dalam ajaran tasawuf_nya.
Mursyid (Khalifah) membacakan doa dan zikir dengan suara yang merdu dan lemah lembut dalam waktu lama, sampai dirinya dan pengikutnya tak sadarkan diri (fana billah) yang jadi tujuan untuk mencapai kepuasan batin dan kelezatan jiwa.
Tak jarang jika di Bumoe Serambi Mekah kita dapatkan, ketika ada hajatan seperti pesta perkawinan dan sunat rasul atau khitanan, ada pertunjukan seni Rapa’i Debus.
Seperti halnya di Kuta Fajar Aceh Selatan (Asel), Rapa’i Debus dipertunjukkan pada hajatan khitanan Teuku Muhammad Azizir Kaqqi, Teuku Muhammad Abyzhar dan Putroe Nauli Mufarijja anak dari Amir Muliadi dan Rika Novita, Selasa (14/06/2022).
Pada hajatan atau pesta khitanan anak-anak Amir Muliadi, yang merupakan salah seorang Anggota DPRK Aceh Selatan itu digelar petunjukan Rapa’i antara Group Debus Geulumpang Sakti berkalaborasi dengan Group Debus Mutiara Sakti yang berasal dari daerah setempat.
Pertunjukan seni budaya Aceh itu berlangsung sejak dari pukul 22:30 Wib hingga pukul 03:40 Wib dini hari. Meski pada perjalanan pertunjukan tersebut cuaca kurang mendukung atau sedang hujan deras, namun tidak menyulutkan semangat penonton untuk menyaksikan atraksi maut nan memukau yang dipertunjukkan oleh anggota Group Debus Geulumpang Sakti Asal Gampong Padang Geulumpang, Kecamatan Jeumpa Kabupaten Abdya.
Disela-sela pertunjukan yang dipimpin para Khalifah itu, Anggota DPRK Aceh Selatan, Amir Muliadi dari Partai Amanat Nasional menyampaikan rasa kegembiraannya karena telah dapat menghadirkan dan melihat langsung seni budaya yang harus tetap di lestarikan tersebut.
“Kesenian Rapa’i Debus adalah budaya asli daerah kita, ini diadakan untuk hajatan sunatan anak kami sekaligus memperkenalkan kepada generasi penerus, agar bisa selalu dijaga dan dilestarikan, sehingga seni budaya milik kita akan selalu ada sampai ke generasi berikutnya,” kata Amir Muliadi.
Pada kesempatan tersebut, politikus partai berlambang matahari itu mengungkapkan, Seni budaya Rapa’i Debus hendaklah selalu dijaga oleh semua elemen masyarakat dengan caranya masing-masing, agar tetap maju dan berkembang.
“Kita juga mengaharapkan kepada pemerintah Aceh dan pemerintah Kabupaten/kota untuk dapat mendukung melestarikan seni budaya dengan melakukan pengajuan anggaran di APBA atau APBK, yang diperuntukkan untuk usaha mengembalikan kejayaan seni budaya kita,” pungkas Amir Muliadi.










