PROVINSI Aceh memiliki sumber daya yang cukup untuk menjadikan daerah ini sebagai salah satu tujuan wisata islami.
Panorama alam yang indah dengan kultur adat yang unik dan menarik. Kemudian juga ditambah dengan budaya yang memiliki nilai seni yang tinggi serta sejarah keemasan islami yang menarik untuk dipelajari oleh masyarakat dari daerah luar.
Ya, Aceh adalah provinsi paling ujung pulau Sumatera yang memiliki kekhasan dan keunggulan khusus. Sebagai daerah paling ujung barat Pulau Sumatera, daerah ini memiliki keindahan alam yang memikat hati para pengunjung.
Aceh memiliki banyak wisata yang tidak akan mengecewakan Anda untuk berlibur di Aceh. Selain museum tsunami yang merupakan tempat untuk memperingati kejadian kala itu, masih ada berbagai lokasi wisata yang wajib untuk kalian datangi.
Oleh karena letak geografisnya yang berbatasan dengan laut, tak heran jika ada banyak wisata pantai di Aceh yang patut dikunjungi. Salah satunya adalah Kota Sabang dengan panorama alam yang memikat di sana.
Di Sabang, destinasi wisata Aceh yang pertama yang paling banyak dikunjungi adalah Pantai Iboih. Sebab, pantainya masih asri dan belum banyak wisatawan yang berkunjung ke sini.
Wisata pantai di Aceh yang berikutnya adalah Pantai Pasir Putih Lhok Mee. Pantai Pasir Putih Lhok Mee atau yang juga disebut Pantai Lhok Mee memiliki area pasir putih yang sangat cantik.
Di beberapa bagian pasir yang terendam air laut, terdapat tanaman yang tumbuh. Oleh sebab itu, pantai ini menjadi sangat cantik. Belum lagi warna biru airnya sangat jernih.

Selain itu, juga ada Pantai Lange, Lampuuk, Kabupaten Aceh Besar, menjadi salah satu destinasi menarik lainnya.
Satu hal yang menjadi daya tarik wisatawan untuk pergi berlibur ke sini adalah adanya daerah batu karang. Batu karang tersebut memiliki banyak lubang dan celah. Di sinilah banyak orang melihat fenomena alam terjadi, yakni semburan dari batu karang.
“Secara panorama alam, Aceh sebenarnya tak kalah dengan daerah lain. Mungkin kedepan, promosi yang harus dikencangkan,” kata Ilham, salah seorang turis lokal yang berkunjung ke Aceh, awal tahun ini.
Ia berkunjung ke Sabang dan wilayah tengah Aceh.
“Nanti rencana akan datang lagi usai Ramadan. Rencana bawa keluarga,” kata Ilham, asal Sumatera Utara ini.
Tak hanya pantai, Aceh juga memiliki panorama laut tawar yang memikat hati di kawasan tengah Aceh. Wisata kebun kopi dengan citarasa yang sulit dilupakan.
Selain alam, Aceh juga memiliki seni budaya yang menakjubkan. Beberapa seni budaya di Aceh bakal telah diakui oleh Unesco sebagai warisan budaya.
Salah satunya seperti Tari Saman. Tari ini dibawakan berkelompok, minimal terdiri dari 9 orang. Gerakan tari ini cepat dan dibawakan sambil duduk, dengan menepuk-nepukkan telapak tangan pada dada serta lantai.
Kemudian Ratoh Jaroe. Tari ini hampir mirip dengan tari Saman, namun makna tarian ini jauh berbeda. Jika Saman maknanya tentang kepahlawanan, pendidikan, dan keagamaan.
Tari Ratoh Jaroe bermakna kalau perempuan Aceh adalah ornag yang kuat, tangguh, dan berani.
Kemudian juga ada Didong dari wilayah Gayo. Kesenian ini dibawakan secara berkelompok oleh laki-laki dengan duduk melingkar. Lalu, mereka akan menyanyikan lagu-lagu daerah Aceh sambil bertepuk tangan.
“Kesenian Aceh memang telah diakui oleh dunia. Sudah seharusnya dijadikan bagian dari wisata halal atau islami di Aceh. Ini perlu didukung untuk menarik para wisatawan dari luar,” kata Tarmizi, pengiat wisata di Aceh.
“Seni Aceh itu adalah warisan budaya yang tak ternilai,” ujar Imam Juaini, salah seorang penggiat seni di Aceh.
Tak hanya itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh melalui UPTD Taman Seni dan Budaya Aceh, juga akan menggelar panggung reguler apresiasi seni dan budaya untuk para pelaku seni.
Apresiasi seni dan budaya tersebut akan berlangsung Jumat, 12 Mei 2023 di Taman Budaya Aceh.
Kepala UPTD Taman Seni dan Budaya Aceh, Azhadi Akbar mengatakan, kegiatan tersebut merupakan agenda rutin UPTD Taman Seni dan Budaya Aceh dalam peningkatan pelestarian kesenian tradisi Aceh.
“Panggung reguler apresiasi seni dan budaya merupakan salah satu upaya mengapresiasi pelaku seni dan seniman dalam ruang ceremoni sosial,” kata Azhadi, Kamis.
Lebih lanjut dikatakan, apresiasi seni dan budaya ini juga sebagai bentuk penghargaan UPTD Taman Seni dan Budaya Aceh kepada para pelaku seni melalui panggung reguler untuk menampilkan karyanya.
“Panggung reguler apresiasi seni ini dalam rangka perlindungan, pengembangan dan melestarikan seni tradisi Aceh,” katanya.
Beberapa kesenian ini merupakan bagian kecil dari beragam seni budaya di Aceh. Keberagaman ini membuat Aceh menjadi salah satu magnet bagi para wisatawan dari seluruh dunia, terutama turis muslim.
Sedangkan dibidang adat istiadat, Aceh mengenal tradisi peusijuek, sumang, meugang dan tulak bala.
Peusijuek dilakukan oleh suku Aceh ketika mereka melakukan acara perkawinan, kematian, berangkat haji, kelahiran, dan segala jenis selamatan lainnya.
Arti kata peusijuek adalah pendingin, yang berarti bertujuan untuk mendoakan yang baik-baik agar tujuannya tercapai.
Sedangkan sumang diadakan oleh salah satu suku di Aceh yang bertujuan agar manusia jadi makhluk berpendidikan, dengan akhlak yang mulia dalam masyarakat.
Kemudian meugang biasanya dilakukan untuk menyambut bulan Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha. Mereka akan berkumpul bersama-sama untuk memasak daging dan dimakan bersama-sama.
Berbagai kelebihan inilah yang menjadikan Aceh unik serta pantas dijadikan sebagai pusat tujuan wisata islami di Aceh.
“Aceh memiliki potensi yang besar dilirik wisatawan di sektor wisata berbasis religi. Oleh sebab itu, kami siap mendukung setiap kegiatan yang turut memberikan dampak besar terhadap sektor pariwisata,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Provinsi Aceh, Almuniza Kamal, beberapa waktu lalu.
Sebelumnya, MPU Aceh mengeluarkan fatwa terkait wisata halal dalam perspektif syariat Islam. Turis yang berwisata di Tanah Rencong diimbau mengikuti aturan syariat Islam.
“Kita berharap melalui fatwa ini ada implementasi lebih lanjut dari pihak terkait sehingga seluruh hal-hal yang terkait pengembangan wisata itu semuanya harus halal,” kata Ketua MPU Aceh Teungku Faisal Ali.
Fatwa itu diputuskan dalam sidang paripurna V Tahun 2022 yang digelar di Aula MPU Aceh. Ada sejumlah poin yang tercantum dalam fatwa tersebut antara lain dijelaskan maksud wisata halal.
Dalam fatwa disebutkan wisata halal merupakan wisata yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam yang mencakup wisatawan, objek dan pelaku usaha. Wisatawan diharapkan mengikuti aturan-aturan yang berada di suatu daerah dan aturan syariat Islam.
Disbudpar Aceh juga mendukung fatwa Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh tentang wisata halal dalam perspektif syariat Islam. Brand wisata halal disebut menjadi daya tarik turis melancong ke Tanah Rencong.
“Disbudpar Aceh pasti akan mendukung setiap taushiyah maupun fatwa yang dikeluarkan oleh MPU Aceh. Hal ini mengingat peran ulama dalam membangun wisata halal Aceh sangat kita butuhkan untuk mewujudkan industri pariwisata halal kelas dunia,” kata Kadisbudpar Aceh Almuniza Kamal kepada detikSumut, Sabtu (23/7/2022).
Dia mengatakan, untuk menyelenggarakan sektor pariwisata halal telah disusun qanun tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Aceh (RIPKA) Tahun 2022-2037. Disbudpar bakal terus membangun industri pariwisata yang bercirikan budaya Aceh serta menjunjung tinggi nilai-nilai syariat Islam.
Disbudpar Aceh juga bakal mensosialisasikan penyelenggaraan pariwisata halal dengan menggandeng semua pihak. Sosialisasi itu antara lain terkait jaminan produk halal, serta meningkatkan fasilitas publik yang diperlukan seperti toilet, musala dan sarana lainnya.
“Penerapan syariat Islam di Aceh menjadi kebanggaan dan landasan utama dalam pengembangan brand wisata halal di Aceh. Karena itu wisata halal menjadi andalan untuk menghadirkan daya tarik para wisatawan untuk datang ke Aceh,” ujarnya.
Tulisan ini merupakan hasil kerjasama antara atjehwatch.com dengan Disbudpar Aceh dalam rangka promosi wisata islami di Aceh











