Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Pariwisata

Ikon Wisata Islami Itu Bernama Baiturrahman

Atjeh Watch by Atjeh Watch
13/05/2023
in Pariwisata
0

Berada di tengah-tengah kota, Masjid Raya Baiturrahman seakan menjadi ikon Aceh. Masjid kebanggaan Aceh ini memiliki sejarah panjang. Selain berfungsi sebagai sarana ibadah, Masjid Raya Baiturrahman juga merupakan ikon wisata reliji bagi pengunjung di Aceh.

Ya, awal Ramadan memiliki nuasa tersendiri di Masjid Baiturrahman Banda Aceh. Berbagai aktivitas terlihat di sana.

Ada yang istirahat di pelantaran masjid, berfoto hingga melaksanakan salat. Baik di dalam masjid maupun di halaman depan.

Sepasang pasangan muda terlihat semangat menelusuri halaman masjid. Pandangan mereka mengarah ke seorang bocah yang sedang berlarian di sana.

“Hati-hati nak, jatuh nanti,” ujar seorang ibu muda bernama Mutiara Safonna. Sedangkan sang suami memandanginya sambil tersenyum.

“Kami dari Langsa. Karena awal Ramadan ada di Banda Aceh, dalam rangka mengunjungi keluarga, sekalian menghabiskan waktu disini,” ujar Diki, sang suami, yang berprofesi sebagai ASN di salah satu lembaga pemerintahan di Kota Langsa ini.

“Anak sepertinya suka. Dari tadi terus lari-lari di sini. Keramiknya adem. Mungkin karena ini ia betah,” ujar Mutiara lagi.

Ya, Masjid Raya Baiturrahman seakan menjadi ikon yang wajib dikunjungi oleh warga setiap datang ke Banda Aceh.

Di sudut lain, seorang bapak-bapak paruh baya, terlihat berbaring. Angin sepoi-sepoi membuatnya nyaman berlama-lama di sana.

“Karena tak aktivitas, saya mencoba menghabiskan waktu di sini. Udara di sini terasa nyaman. Apalagi ada payung besar ini,” kata pria yang berprofesi sebagai pedagang ini. Belakangan ia memperkenalkan diri dengan nama Lukman, asal Aceh Besar.

“Lumayan bisa istirahat di sini. Sambil menunggu azan Ashar bisa rebahan,” katanya.

Aktivitas tersebut merupakan sebahagian kecil yang terekam di masjid kebanggaan Aceh ini.

+++

Ya, Masjid Raya Baiturrahman merupakan masjid pertama dibangun pada era Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) ketika Aceh berada dipuncak kejayaannya hingga hari ini masih tegak dan keasliannya masih melekat pada Masjid kebanggaan rakyat Aceh ini.

Baiturrahman   adalah sebuah bangunan persegi yang terbuat dari kayu, bentuk atapnya adalah piramida 4  berjenjang dengan atap meru, lebar berpinggul, bangunan masjid dikelilingi oleh beberapa lapis benteng.

Tahun 1889 pembangunan pertama MRB dengan gaya arsitektur Mughal yang nan indah dan religius berdiri kokoh di tengah pusat kota Kuta Raja hanya memiliki 1 kubah di masa kejayaannya.

Seiring dengan populasi penduduk begitu meningkat tahun 1935, MRB kembali dipugar menjadi 3  kubah yaitu penambahan dari arah sayap kiri dan dari arah sayap kanan masjid masing-masing satu kubah.

Pasca Kemerdekaan NKRI tahun 1945, masyarakat dunia semakin membuka mata untuk Aceh dalam berbagai bidang seperti ekonomi, pertanian dan perdanganan sehingga pertumbuhan ekonomi dan perdagangan Aceh semakin membaik.

Pada tahun 1957 MRB kembali dipugar menjadi lima kubah sehingga MRB nampak religi, elegan, klasik dan megah.  Tahun 1957 hingga 1991 MRB menjadi pusat perhatian dunia atas kedatangan berbagai pimpinan Negara untuk melihat dan melakukan berbagai kerja sama sehingga Aceh makin bertambah baik.

Dari berbagai literatur menyebutkan, pada tahun 1991, MRB kembali dipugar menjadi 7  kubah dan 3 menara, sehingga MRB menjadi 7 kubah dan 5 menara, hingga hari ini masih berdiri tegak di Kota Banda Aceh walaupun sudah pernah diterjang Tsunami 2004.

Bangunan MRB merupakan bangunan cagar budaya dunia dengan kontruksi luar dalamnya merupakan keaslian elemen bangunan dari zaman pra kemerdekaan.

Diantara elemen keasliannya adalah kerawang pintu yang terbuat dari lempengan emas dan tembaga, tiang-tiang kecil dalam masjid dengan lapisan aslinya, GRC yang melekat pada bagian dinding eksisting yaitu kosen jendela berbentuk roda pada bagian luar dan bagian dalamnya terbuat dari kayu sedangkan profil ujung tombak area atap kubah terbuat dari lempengan logam tipis, yang paling menakjubkan lagi adalah bagian dalam kubah, rangka kayu aslinya tersusun begitu rapi dan berdiri tegak.

Keaslian rangka dan interiol MRB yang telah dinobatkan sebagai cagar budaya tetap terjaga dan terpelihara.

Banyak pihak mengharapkan agar MRB memiliki musium sehingga para wisatawan yang datang ke Aceh dapat melihat langsung keaslian bangunan MRB dan merintis memory MRB dalam bentuk buku saku serta piagam penghargaan bagi pelancong yang datang ke Aceh untuk menyaksikan religinya MRB.

Kondosi saat ini idealnya MRB mempunyai kran air atau tempat wudhuk mini di empat penjuru pintu masuk sehingga para warga yang berdagang di seputaran masjid dengan cepat dan mudah memperoleh air wudhu tidak harus turun ke lantai bawah tanah/basmen untuk mengambil air wudhuk.

Kedua, MRB mempunyai dua gaid khusus yang mampu berbahasa Arab, Inggris, Mandarin dan bahasa Belanda untuk memfasilitasi perjalanan bagi wisatawan sehingga informasi tentang MRB dari masa-kemasa tersampaikan dengan lengkap.

Ketiga, untuk tanpak lebih sof MRB agar terpasang lampu sorot di atas menara sehingga suasana menakjubkan di malam hari, menara itu sangat strategis bagi wisatawan untuk melihat langsung keindahan Kota Banda Aceh dari ketinggian +- 60 meter.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Aceh, Almuniza Kamal, menyebutkan Aceh saat ini sedang giat-giatnya mempromosikan berbagai lokasi wisata. Salah satunya adalah Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh sebagai ikon wisata Islami di Aceh.

Dia mengatakan, untuk menyelenggarakan sektor pariwisata halal telah disusun qanun tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Aceh (RIPKA) Tahun 2022-2037.

Disbudpar bakal terus membangun industri pariwisata yang bercirikan budaya Aceh serta menjunjung tinggi nilai-nilai syariat Islam.

Disbudpar Aceh juga bakal mensosialisasikan penyelenggaraan pariwisata halal dengan menggandeng semua pihak. Sosialisasi itu antara lain terkait jaminan produk halal, serta meningkatkan fasilitas publik yang diperlukan seperti toilet, musala dan sarana lainnya.

“Penerapan syariat Islam di Aceh menjadi kebanggaan dan landasan utama dalam pengembangan brand wisata halal di Aceh. Karena itu wisata halal menjadi andalan untuk menghadirkan daya tarik para wisatawan untuk datang ke Aceh,” ujarnya.

Menurutnya, brand wisata halal menjadi ujung tombak dan strategi terbaik untuk mempromosikan pariwisata Aceh. Hal itu dinilai mampu menjadi daya tarik untuk mengait turis menikmati keindahan Tanah Rencong.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Almuniza Kamal, saat membuka pergelaran pameran Memori Helsinki di Museum Tsunami.(7/11/2022). ANTARA/Nurul Hasanah

“Tentunya tetap dengan menerapkan prinsip-prinsip syariah di setiap destinasi wisata di Aceh,” sebut mantan Kepala Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) di Jakarta ini.

Sebelumnya, MPU Aceh mengeluarkan fatwa terkait wisata halal dalam perspektif syariat Islam. Turis yang berwisata di Tanah Rencong diimbau mengikuti aturan syariat Islam.

“Kita berharap melalui fatwa ini ada implementasi lebih lanjut dari pihak terkait sehingga seluruh hal-hal yang terkait pengembangan wisata itu semuanya harus halal,” kata Ketua MPU Aceh Teungku Faisal Ali dalam keterangan kepada wartawan, Kamis (21/7).

Fatwa itu diputuskan dalam sidang paripurna V Tahun 2022 yang digelar di Aula MPU Aceh, Rabu (20/7) kemarin. Ada sejumlah poin yang tercantum dalam fatwa tersebut antara lain dijelaskan maksud wisata halal.

Dalam fatwa disebutkan wisata halal merupakan wisata yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam yang mencakup wisatawan, objek dan pelaku usaha. Wisatawan diharapkan mengikuti aturan-aturan yang berada di suatu daerah dan aturan syariat Islam.

Teungku Faisal menjelaskan, fatwa itu dikeluarkan setelah MPU Aceh menimbang saat ini wacana wisata halal sudah mulai berkembang dan diterapkan di berbagai belahan dunia termasuk Aceh. Dia menilai, pelaksanaan wisata halal di Tanah Rencong belum sepenuhnya sesuai dengan prinsip syariat Islam.

“Kita tidak ingin melihat bahwa ada tempat destinasi wisata baik lokal maupun non-lokal, ada hal-hal yang tidak tepat dalam konteks syariah. Misalnya tidak ada pemberitahuan waktu sholat, tidak ada mushola, tidak ada MCK yang layak, tidak ada sertifikasi halal bagi kuliner, terjadinya ikhtilat (bercumbu) baik ditempat pemandian dan sebagainya,” jelas Faisal.

Tulisan ini merupakan hasil kerjasama atjehwatch.com dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh dalam rangka promosi wisata islami di Aceh.

Warga berkumpul di halaman Masjid Raya Baiturrahman, di Banda Aceh, Jumat (21/4/2023) (ANTARA/Nurul Hasanah)
Tags: Disbudpar Acehpariwisata aceh
Previous Post

Indahnya Ramadan di Aceh

Next Post

Mobil Dumtruk Masuk Jurang di Lamreh; 4 Meninggal dan Puluhan Terluka

Next Post
Mobil Dumtruk Masuk Jurang di Lamreh; 4 Meninggal dan Puluhan Terluka

Mobil Dumtruk Masuk Jurang di Lamreh; 4 Meninggal dan Puluhan Terluka

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Pemuda Muhammadiyah Gelar Halal Bihalal Bersama AMM Aceh

Pemuda Muhammadiyah Gelar Halal Bihalal Bersama AMM Aceh

12/04/2026
Polres Aceh Barat Amankan Sejumlah Remaja dan Kendaraan Tanpa Dokumen

Polres Aceh Barat Amankan Sejumlah Remaja dan Kendaraan Tanpa Dokumen

12/04/2026
15 Siswa Terbaik Banda Aceh Ikuti Program IKON Sampoerna

15 Siswa Terbaik Banda Aceh Ikuti Program IKON Sampoerna

12/04/2026
22 Murid SMAN 2 Idi Aceh Timur Melaksanakan Sidang KTI

22 Murid SMAN 2 Idi Aceh Timur Melaksanakan Sidang KTI

12/04/2026
Haikal, Murid SMA Unggul Cut Nyak Dhien Langsa Berangkat ke Polandia

Haikal, Murid SMA Unggul Cut Nyak Dhien Langsa Berangkat ke Polandia

12/04/2026

Terpopuler

20 Santri Al Zahrah Beunyot Dinyatakan Lulus SPAN PTKIN 2026

20 Santri Al Zahrah Beunyot Dinyatakan Lulus SPAN PTKIN 2026

09/04/2026

Heri Ahmadi dan 4 Tokoh Lainnya Dicalonkan Jadi Kandidat Ketua DPC PKB Pidie Jaya

Negara Tak Boleh Tutup Mata: Warga Kuala Kepeung Tuntut Pengembalian Tanah dari HGU PT ASN

Ketua TP PKK Aceh Tengah: Perempuan Kunci Utama Kemajuan Bangsa

Pemuda Muhammadiyah Gelar Halal Bihalal Bersama AMM Aceh

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com