Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Feature

Sepotong Memori Tsunami dari Kampung Kami [Bagian 2]

redaksi by redaksi
26/12/2023
in Feature
0
Waspada, Dampak Tsunami Wonogiri Berpotensi seperti Tsunami Aceh 2004

Ilustrasi tsunami. (Foto: Okezone.com)

BARU 15 meter saya berlari. Gelombang kedua datang. Namun kali ini tak hitam pekat. Hanya air kecoklatan.

Air itu bergerak dengan cepat. Saya hanya pasrah pada saat itu. Menyambut gelombang dan kemudian tenggelam di dalamnya.

Beberapa kali saya mencoba berenang. Namun arusnya sangat kuat. Lidah saya keluh dipenuhi pasir dan air.

Namun tiba-tiba ujung baju saya menyentuh sesuatu. Kemudian badan saya tertahan di sana. Saya mencoba berpegangan pada benda tadi. Belakangan saya ketahui benda tersebut adalah beton lantai rumah warga yang belum selesai. Ujung baju saya tersangkut besi bangunan tadi.

Saya berpegangan hingga akhirnya merayap ke atas atap bangunan tadi. Saya berdiam di sana hingga air gelombang kedua surut.

Merasa sudah aman, saya kembali turun dari atap bangunan tadi. Kemudian berlarian ke rumah adik Bapak guna melihat kakek.

Rumah adik Bapak berbentuk rumah panggung khas Aceh. Saat itu rumah panggung tersebut mulai bergeser 4 meter dari lokasinya semula.

Adik Bapak (kami orang Aceh menyebutnya Cut Lot-red), ternyata masih di rumah. Demikian juga dengan kakek. Kakek lumpuh akibat jatuh dari sepeda sekitar tahun 2003. Namun kakek bertahan dari hantaman tsunami.

Lantai rumah panggung itu setinggi pria dewasa dari permukaan tanah. Kakek dan Cut Lot, bertahan di atas tempat tidur. Tingginya hanya selutut pria dewasa dari lantai.

“Cut Lot, pondosi rumah sudah bergeser. Bahkan ada yang hampir patah. Kalau dihantam tsunami lagi akan rubuh,” ujar saya.

Cut Lot mengiyakan. Saya memanggul kakek untuk membawa ke rumah. Ini karena lokasi rumah kami lebih tinggi dan aman dari hantaman tsunami.

Namun belum sekitar 14 meter bergerak. Gelombang tsunami ketiga kembali datang.

Cut Lot dengan cepat meloncat ke atap rumah orang. Sedangkan saya lari sekencangnya ke rumah panggung milik tetangga lainnya guna menyelamatkan kakek. Saya tidak tahu entah kekuatan dari mana saat itu sehingga mampu memanggul kakek yang beratnya hampir 90 kilo. Saya sendiri beratnya 45 kilo. Saat itu masih sangat kurus.

Tangga rumah panggung kami naiki dengan cepat. Di atas, beberapa pemuda menolong saya untuk memapah kakek agar duduk dengan sempurna. Rumah panggung tadi sangat padat. Ada yang hanya mengenakan pakaian dalam. Di sana kami melihat gelombang tsunami ketiga dan ke empat datang. Gampong kami laksana lautan saat itu.

Beberapa pria terlihat di atas puncuk pohon kelapa. Di bawahnya ada mayat.

Beberapa rumah bermaterial semen mulai rubuh. Jeritan anak kecil menyertai pemandangan tadi. Terdengar juga ocehan beberapa nama warga yang diketahui sudah meninggal.

Kami baru turun dari rumah panggung tadi usai memastikan gelombang tsunami tidak ada lagi. Saya tetap memangkul kakek. Saya takut meminta tolong sama orang lain. Ini karena wajah mereka terlihat redup dan bertingkah seperti orang yang tidak lagi bersemangat hidup. Mereka mengira saat itu telah kiamat.

Saya memanggul kakek hingga ke rumah kami. Di sana, beberapa warga dan Bapak membawanya dengan becak ke atas bukit Desa Neuheun.

Semua keluarga inti saya selamat. Namun perumahan dan penduduk Desa Lamnga hilang separuh.

Sedangkan Desa Gampong Baro lebih parah lagi. Dari ribuan penduduk Gampong Baro. Hanya belasan orang yang selamat.

Di atas bukit, penduduk yang selamat dari Desa Lamnga dan Gampong Baro membentuk posko bersama.

Sekitar pukul 14.00 WIB, pengurus desa meminta pria dewasa dan pemuda kembali ke kampung. Kami dibentuk tiga kelompok, satu kelompok mencari mayat, satu kelompok menggali kuburan massal, serta satu lagi bertugas salat mayat.

Saya masuk dalam kelompok mencari mayat.[SELESAI]

Penulis bernama Murdani dan warga Desa Lamnga Aceh Besar. Kini aktif dalam dunia jurnalistik.

Previous Post

Peringati Maulid Nabi, PPP Pidie Gelar Konsolidasi Partai dan Doa Bersama

Next Post

Ribuan Masyarakat Pidie Berkomitmen Dukung Iliza Sa’aduddin Djamal Untuk DPR-RI

Next Post
Ribuan Masyarakat Pidie Berkomitmen Dukung Iliza Sa’aduddin Djamal Untuk DPR-RI

Ribuan Masyarakat Pidie Berkomitmen Dukung Iliza Sa'aduddin Djamal Untuk DPR-RI

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

BSI Siap Bantu dan Sukseskan MTQ XXXVIII Tingkat Provinsi Aceh di Abdya

BSI Siap Bantu dan Sukseskan MTQ XXXVIII Tingkat Provinsi Aceh di Abdya

17/09/2026
Terkait Persoalan Tanah, Forum Reje Aceh Tengah Sampaikan Aspirasi ke Lembaga Wali Nanggroe

Terkait Persoalan Tanah, Forum Reje Aceh Tengah Sampaikan Aspirasi ke Lembaga Wali Nanggroe

17/09/2026
Kader Tak Boleh Diam, Agmar Media: Berani Berbicara adalah Langkah Awal Memimpin

Kader Tak Boleh Diam, Agmar Media: Berani Berbicara adalah Langkah Awal Memimpin

17/09/2026
Krak, 21 Santri Al Zahrah Raih Medali di Ajang ACTS 2026 Bireuen

Krak, 21 Santri Al Zahrah Raih Medali di Ajang ACTS 2026 Bireuen

17/09/2026
HUT PMI ke 81, Mualem: Relawan Jadi Kekuatan Penting Aceh Bangkit dari Bencana

HUT PMI ke 81, Mualem: Relawan Jadi Kekuatan Penting Aceh Bangkit dari Bencana

17/09/2026

Terpopuler

ASN, Non ASN, dan Honorer yang Belum Aktifkan IKD Segera Registrasi dan Aktivasi

ASN, Non ASN, dan Honorer yang Belum Aktifkan IKD Segera Registrasi dan Aktivasi

15/09/2026

Pemerintah Tetapkan 26 Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2027, Berikut Daftarnya

Jalan Nasional Alue Mangota Blangpidie Terendam Banjir, Masyarakat di Imbau Waspada

Sepotong Memori Tsunami dari Kampung Kami [Bagian 2]

Mengukir Sejarah Kepemimpinan Perempuan: Refleksi atas Pelantikan Keuchik Rauzatul Jannah di Indra Jaya

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com