Oleh Muhammad Sayuthi. Penulis adalah warga Aceh Besar.
Bagi sebahagian warga di Aceh, terutama para kombatan GAM dan para penganuh ideologi Hasan Tiro, judul di atas mungkin bak petir menyambar di siang hari.
Karena para kombatan didokrin bahwa damai hanyalah jeda untuk sebuah mimpi besar di masa depan. Bahwa damai adalah ‘perang lain’ untuk merebut kemerdekaan bagi Aceh. Bahwa damai hanyalah cara lain bagi Aceh meraih mimpinya. Dari perlawanan bersenjata ke jalur politik.
Di sinilah ditekankan mengapa partai local harus menang dan menguasai parlemen di Aceh.
Contoh yang sering disajikan selama ini seperti ‘Cosovo.’
Di awal damai, terutama periode 2005-2007, asa akan melanjutkan cita-cita almarhum Hasan Tiro untuk Aceh masih menggebu-gebu. Bagi para pejuang ke-Aceh-an, hanya pola perjuangan yang berubah. Dari perlawanan bersenjata ke jalur politik. Inilah yang diyakini sebahagian anak ideologi Hasan Tiro di Aceh.
Baru sekitar tahun 2014 ke atas, satu persatu pentolan pejuang yang secara malu malu mengungkapkan bahwa mimpi Aceh Merdeka sudah dikuburkan.
Hal ini pernah diungkapkan oleh Gubernur Aceh Zaini Abdullah. Zaini Abdullah, dalam jejak digital, menegaskan telah melupakan upaya untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“InsyaAllah mimpi memerdekan Aceh sudah dilupakan dan tidak akan pernah terjadi lagi. Saya jaminannya,” ujar Zaini saat berpidato pada acara Sosialisasi MoU Helsinki dan Undang-undang RI Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh di Gondangdia, Jakarta, Jumat (8/8/2014).
Zaini juga menyatakan, konflik berkepanjangan yang pernah terjadi sejak 1976 di daerah Serambi Mekah itu tidak akan terjadi lagi.
Maka ketika Wakil Gubernur Fadhlullah atau Dek Fad, kembali menegaskan bahwa tidak ada lagi kata ‘Merdeka Aceh’ saat bertemu Hasan Nasbi di Jakarta beberapa hari yang lalu, memang bukan hal yang baru lagi.
Dek Fad sendiri, sebelum menjadi anggota DPR RI dari Gerindra, kini Ketua Gerindra dan Wagub Aceh, merupakan Panglima Operasi Gerakan Aceh Merdeka Wilayah Pidie (2002—2005).
Kini statemen telah menguburkan mimpi merdeka bukanlah hal yang tabu diucapkan oleh para mantan kombatan.
Uniknya, meskipun begitu, saat ini tetap masih ada mantan pejuang, terutama anggota KPA, yang menyakini bahwa ucapan Wagub Dek Fad atau Doto Zaini terdahulu, adalah bagian dari politik atau trik ‘Tipu Aceh’ lain dalam kehidupan masyarakat.
Tapi ‘Tipu Aceh’ ini bagai pisau bermata dua.
Satu sisi, elit Aceh ingin melobi Jakarta agar diberi kewenangan tinggi selamat menjabat. Atau sisi lain, juga bisa diartikan bagian ‘menipu sesama Aceh’ agar selalu dipilih rakyat dengan membawa iming-iming merdeka dan bendera.
Antara janji dengan apa yang dikerjakan saat menjabat jauh berbeda.
Para pejuang Aceh sendiri, saat masih berkonflik, berada di bawah sumpah Alquran untuk menjadi bagian dari tantara GAM.
“Harta ulon, nyawong ulon, lon persembahkan keu bangsa Aceh.”
Kolom adalah rubrik yang disediakan para pembaca. Tulisan di rubrik ini tidak mewakili kebijakan redaksi atjehwatch.com.










