Jakarta – Dinas intelijen Israel Mossad pernah dibikin malu dan dibuat kelimpungan saat akan menangkap buronan bernama Ali Hasan Salameh.
Ali dianggap dalang peristiwa Black September, yang menewaskan sejumlah atlet Israel di Olimpiade Munich Jerman 1972. Untuk mengendus orang Palestina ini, Mossad sampai membentuk tim khusus dengan misi bernama “Wrath of God”.
Setahun setelah operasi berjalan Mossad kecele. Pada tahun 1973, Mossad membunuh seorang pelayan di Maroko yang dianggap sang buronan.
Ternyata Mossad keliru, mereka membunuh Ahmed Bouchiki, yang tidak tahu apa-apa. Kesalahan ini berakibat fatal, menyebabkan penangkapan beberapa agen Israel. Mossad dipermalukan.
Keberadaan Ali pun makin tak terendus selama bertahun-tahun. Setelah tinggal secara rahasia di berbagai bagian Timur Tengah dan Eropa, pada tahun 1978 ia menikahi Georgina Rizk, seorang selebritas Lebanon yang telah menjadi Miss Universe tujuh tahun sebelumnya pada tahun 1971.
Pasangan itu menghabiskan bulan madu mereka di Hawaii dan kemudian tinggal di Disneyland, California. Ketika Rizk hamil, ia kembali ke flatnya di Beirut, Lebanon, tempat Salameh juga menyewa apartemen terpisah. Nah, pernikahan inilah yang mengakhiri pelarian Salameh.
Mengutip Times Of Israel, Mossad kali ini mengirim seorang agen tunggal untuk tinggal secara rahasia di Beirut. Agen yang hanya diberi kode “D” . Kepada agen itu, Mossad memberinya satu perintah yang jelas: jangan lakukan kontak dengan target.
Tapi mata-mata itu tidak hanya menentang perintah, ia malah sempat menjadi teman terdekat Ali Hassan Salameh, sebelum akhirnya menjadi salah satu pembunuhnya. Saat ini ia adalah tokoh yang dirayakan di Mossad sebagai semacam legenda, dan bertanggung jawab atas salah satu keberhasilannya yang paling terkenal.
Upaya agen D dilakukan selama bertahun-tahun. Dia tinggal di Beirut dan ibu kota Suriah Damaskus dengan identitas palsu dan menghabiskan bertahun-tahun membuntuti Salameh dan menyampaikan informasi tentang pergerakannya ke Mossad. Ia menggambarkan kehidupan penyamaran yang sepi sekaligus berbahaya.
Bukan hanya itu, salah satu intel yang ikut menguntitnya adalah agen perempuan Erika Chambers. Erika datang ke Beirut pada 1978 dan tinggal tak jauh dari apartemen Salameh sebagai pelukis.
Erika dibantu oleh agen Peter Scriver dan Roland Kolberg yang tiba di Beirut dengan pasport Inggris dan Kanada. Bahkan, disebutkan sejumlah intel juga datang untuk mengepung dan mengendus Salameh yang dikenal dengan sebutan “Pangeran Merah”.
Setelah bertahun-tahun buron dan dikejar ratusan Mossad, Salameh akhirnya tewas pada 22 Januari 1979.
Keterlibatan CIA
Kisah licin Ali Salameh disebut karena dia direkrut Dinas Rahasa Amerika Serikat (CIA).
Menurut beberapa sumber, Salameh berperan sebagai penghubung rahasia antara Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan Badan Intelijen Pusat (CIA) dari tahun 1970 hingga kematiannya, dengan jaminan tidak akan membunuh warga negara AS dan imbalan dukungan finansial serta politik.
Namun ketika ditanya oleh pihak Israel, hubungan tersebut dibantah oleh pejabat AS. Ia membantu melindungi warga negara AS di Beirut, dan perannya adalah memfasilitasi kontak antara Palestina dan AS, dengan harapan mendapatkan dukungan AS untuk Palestina.










