Oleh Noor Alifah. Penulis Adalah mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Andalas.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, dentuman Tambua Tasa selalu berhasil mencuri perhatian siapa pun yang mendengarnya. Suara yang kuat, ritmis, dan menggugah seolah-olah mencerminkan denyut nadi masyarakat Pariaman. Tambua Tasa bukan hanya irama yang dimainkan dalam sebuah pertunjukan, itu adalah bahasa budaya, penanda identitas, dan penambah semangat untuk berkumpul bersama. Melalui setiap tabuhan dan hentakan, orang-orang Pariaman memperkuat solidaritas, dan menjaga tradisi yang masih eksis hingga saat ini. Melalui tulisan ini pembaca bisa mengetahui lebih lanjut tentang peran sosial dan budaya Tambua Tasa, yang menjadikannya lebih dari sekadar alat musik.
Tambua tasa merupakan alat musik pukul tradisional khas Pariaman, Sumatera Barat, yang hingga kini masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Instrumen ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai pengikat budaya dan identitas daerah. Dalam tradisi setempat, tambua tasa hampir selalu hadir dalam berbagai upacara adat dan kegiatan sosial, menjadikannya simbol kebersamaan dan semangat masyarakat. Dentumannya bukan hanya sekadar alunan musik, tetapi juga berfungsi sebagai media komunikasi nonverbal yang mampu menyatukan warga dalam satu rasa dan satu semangat. Setiap hentakan membawa makna tertentu, seolah-olah menyampaikan pesan tanpa kata tentang kebersamaan, penghormatan, dan identitas budaya.
Tambua tasa biasanya dimainkan dalam suasana yang meriah. Pada upacara perkawinan, dentuman tambua tasa mengiringi arak-arakan pengantin, menciptakan suasana sakral sekaligus penuh sukacita. Ketika masyarakat menggelar alek nagari atau pesta adat, suara tambua tasa menjadi tanda dimulainya acara dan sekaligus memeriahkan seluruh rangkaian kegiatan.
Alat musik ini juga hadir dalam upacara pengangkatan penghulu, sebuah prosesi adat yang sangat dihormati di masyarakat Minangkabau. Irama tambua tasa mengukuhkan momen tersebut sebagai suatu peristiwa penting dan bersejarah. Bahkan dalam kegiatan yang lebih bersifat hiburan rakyat, seperti panjat pinang pada perayaan 17 Agustus, tambua tasa turut dimainkan untuk membangkitkan semangat para peserta dan penonton.
Dalam konteks upacara adat, irama tambua tasa menjadi tanda dimulainya prosesi, mengatur alur kegiatan, hingga menegaskan sakralitas momen. Sementara dalam kegiatan sosial dan keagamaan, suara tambua tasa menjadi pengumpul massa mengundang orang untuk berkumpul, bersilaturahmi, dan merayakan kebersamaan. Ia menjadi penghubung antargenerasi, karena dimainkan oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua. Tradisi ini diwariskan tidak hanya melalui lisan, tetapi melalui praktik langsung yang dilakukan bersama-sama, sehingga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan relevan.
Di tengah perkembangan zaman, tambua tasa tidak sekadar bertahan, tetapi terus berkembang dan beradaptasi. Kini ia hadir bukan hanya dalam acara adat, tetapi juga dalam festival seni, penyambutan tamu kehormatan, hingga atraksi budaya yang diperkenalkan kepada wisatawan. Hal ini menunjukkan bahwa tambua tasa memiliki daya tarik universal, sederhana, namun kuat, tradisional, namun tetap relevan.
Dalam pertunjukan tambua tasa, setiap alat memiliki peran yang berbeda namun saling melengkapi. Tasa berfungsi sebagai pembuka ia menjadi penanda awal permainan, memberi aba-aba kepada para pemain lain tentang ritme dan pola yang akan dibawakan. Suara tasa yang nyaring dan tajam membuatnya cocok menjadi pemimpin irama. Begitu pola dasar dari tasa terdengar, tambua akan masuk sebagai pengikut yang memperkuat dan memperkaya suasana musik.
Permainan tambua dilakukan secara serempak, dengan tempo cepat dan energik, sehingga menghasilkan dentuman yang kuat, kompak, dan menggugah semangat. Meski disebut sebagai “pengikut”, tambua bukan sekadar pelengkap. Justru, hentakan tambua inilah yang memberi kedalaman dan kekuatan pada keseluruhan komposisi musik. Tasa memulai dan mengarahkan, sementara tambua mengisi ruang-ruang ritme agar permainan terdengar penuh dan bertenaga.
Tambua Tasa dimainkan secara berkelompok, biasanya terdiri dari enam orang pemain gandang atau tambua dan satu orang pemain tasa yang menjadi pemimpin ritme. Hampir setiap korong di Pariaman memiliki kelompok Tambua Tasa sendiri, sehingga suara tabuhannya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Uniknya, kelompok-kelompok ini tidak hanya diisi oleh orang dewasa, tetapi juga oleh anak-anak dan remaja yang tumbuh bersama tradisi ini. Perempuan pun turut ambil peran, menunjukkan bahwa Tambua Tasa adalah ruang budaya yang inklusif dan terbuka bagi siapa saja yang berminat. Bahkan, kalangan muda-mudi kini semakin antusias terlibat, menjadikan Tambua Tasa bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga kebanggaan generasi sekarang. Melalui latihan rutin, penampilan pada acara adat, hingga festival budaya, Tambua Tasa terus hidup dan dicintai dari masa ke masa.
Pelestarian Tambua Tasa oleh pemuda dari berbagai usia dan gender menunjukkan bahwa kesenian ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga simbol kebersamaan, identitas, dan kebanggaan kolektif masyarakat Pariaman. Keterlibatan luas dari anak-anak sekolah hingga yang sudah bekerja mencerminkan nilai inklusivitas dan keberlanjutan budaya, di mana tradisi dijaga bukan karena kewajiban, tetapi karena kecintaan. Setiap korong yang memiliki grup sendiri menandakan kuatnya rasa memiliki dan solidaritas sosial, serta menunjukkan bahwa Tambua Tasa menjadi ruang bagi generasi muda untuk berkumpul, berlatih, dan memperkuat hubungan sosial melalui seni yang diwariskan turun-temurun.
Keberadaan tambua tasa di tengah masyarakat menunjukkan bahwa musik tradisional tidak pernah benar-benar hilang, tetapi terus hidup melalui berbagai aktivitas budaya. Suara dentumannya menjadi penanda bahwa adat dan kebersamaan masih kuat berakar di Pariaman. Dengan demikian, tambua tasa bukan sekadar alat musik, melainkan bagian dari identitas sosial yang menghubungkan generasi tua dan muda dalam satu irama yang sama. []
![[Opini] Lebih dari Sekadar Irama: Fungsi Sosial dan Budaya Alat musik Tambua Tasa dalam Kehidupan Masyarakat Pariaman](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2025/12/WhatsApp-Image-2025-12-18-at-14.48.28-750x375.jpeg)









![[Opini] Lebih dari Sekadar Irama: Fungsi Sosial dan Budaya Alat musik Tambua Tasa dalam Kehidupan Masyarakat Pariaman](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2025/12/WhatsApp-Image-2025-12-18-at-14.48.28-350x250.jpeg)