Bireuen — Ratusan anak mengikuti kegiatan pendidikan darurat dalam upaya pemulihan kondisi psikososial anak-anak pascabencana, terutama bagi siswa PAUD dan Sekolah Dasar di wilayah terdampak bencana Kabupaten Bireuen.
Kegiatan ini dilaksanakan Tim Edukasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala, dengan dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Kegiatan ini merupakan bagian dari program bertajuk “Pemulihan Kesehatan dan Psikososial Warga Kabupaten Bireuen Pascabencana melalui Pelayanan Kesehatan, Instalasi Penjernih Air, dan Pendampingan melalui Photo Therapy serta Inisiasi Pembangunan Masyarakat Berkelanjutan dengan Pendidikan Darurat.”
Pelaksanaan kegiatan berlangsung di dua lokasi, yaitu Gampong Kapa, Kecamatan Peusangan pada Jum’at, 19 Desember 2025, serta Gampong Jambo Kajeung, Kecamatan Kuta Blang pada Sabtu, 20 Desember 2025.
Anggota Tim Gracia Mandira M.Ed, menyampaikan Program pengabdian ini menghadirkan kegiatan belajar yang bersifat terapeutik dan ramah anak yaitu senam ceria, menggambar, bermain origami, bernyanyi, serta edukasi mitigasi bencana melalui metode bercerita menggunakan boneka tangan.
“Pendekatan ini bertujuan membantu anak-anak mengekspresikan emosi, mengurangi trauma, serta menumbuhkan kembali rasa aman dan kebersamaan di lingkungan pengungsian,” katanya.
Kemudian Plt. Dekan FKIP USK Dr. Sanusi, M.Si. yang juga Ketua Tim kolaborasi dari FKIP USK menegaskan bahwa anak usia dini dan sekolah dasar sangat rentan terkena trauma akibat bencana alam, jika tidak tertangani dapat berakibat pada mental dan sosial mereka.
“Maka kegiatan sekolah darurat dan program trauma healing perlu terus diberikan sebagai bentuk dukungan terhadap generasi Aceh.”
“Saya juga mengucapkan terima kasih kepada ITB yang telah memberikan kepercayaan dan berkolaborasi dengan FKIP USK dalam melaksanakan pengabdian ini dengan sukses,” ujar Dr. Sanusi, M.Si.
Kegiatan ini menjadi wujud nyata semangat solidaritas dan kolaborasi dunia pendidikan dalam merespons situasi kebencanaan, khususnya dalam memastikan perlindungan dan pemulihan psikososial anak-anak sebagai kelompok rentan.











