Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Opini

[Opini] Aceh Tamiang Tak Cukup Diberi Bantuan , Saatnya Rekonstruksi Menyeluruh dan Tata Ruang Baru

redaksi by redaksi
23/12/2025
in Opini
0
[Opini] Aceh Tamiang Tak Cukup Diberi Bantuan , Saatnya Rekonstruksi Menyeluruh dan Tata Ruang Baru
Oleh Mayjen TNI (Purn) T A Hafil Fuddin S.H., S.I.P., M.H.
Pada Minggu, 21 Desember 2025, saya mendampingi Wali Nanggroe mengunjungi Kab Aceh Tamiang sekaligus menyalurkan 15 ton bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak banjir. Bantuan tersebut diterima di posko utama dan disaksikan oleh Wakil Gubernur Aceh, Bupati Aceh Tamiang, Ketua DPRK Aceh Tamiang, Staf Khusus Wali Nanggroe, Khatibul Wali, serta tokoh-tokoh masyarakat setempat.
Kunjungan ini tidak dimaksudkan sebagai kegiatan seremonial, melainkan sebagai ikhtiar kemanusiaan dan peninjauan langsung kondisi faktual di lapangan, guna memastikan arah kebijakan pemulihan pascabencana berjalan tepat sasaran.
Hasil peninjauan di Kuala Simpang menunjukkan kondisi yang sangat memprihatinkan. Kota mengalami kelumpuhan hampir total. Aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat terhenti, sementara kapasitas pemerintah daerah dan warga masih terserap pada distribusi bantuan, khususnya kebutuhan pangan.
Bantuan memang sangat dibutuhkan pada fase awal, namun fakta lapangan memperlihatkan bahwa Aceh Tamiang tidak cukup hanya diberi bantuan. Tantangan yang dihadapi jauh melampaui aspek logistik darurat.
Hingga saat peninjauan dilakukan, infrastruktur dasar belum tertangani secara memadai. Jalan, fasilitas umum, dan kawasan permukiman masih tertutup lumpur. Warga membersihkan rumah mereka dengan peralatan seadanya, mencerminkan keterbatasan dukungan teknis dan mekanis.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan masih berada pada fase tanggap darurat, sementara transisi menuju fase rekonstruksi belum berjalan optimal. Tanpa percepatan transisi ini, pemulihan akan berjalan lambat dan berisiko menimbulkan kerentanan baru.
saya memandang penting untuk menyampaikan secara objektif bahwa banjir di Aceh Tamiang bukanlah peristiwa kebetulan. Banjir yang berulang merupakan indikator persoalan struktural, terutama terkait tata ruang wilayah, pengelolaan daerah aliran sungai, serta degradasi fungsi lingkungan.
Apabila persoalan mendasar ini tidak diselesaikan, maka bantuan yang diberikan hari ini berpotensi menjadi rutinitas tahunan tanpa penyelesaian permanen.
Oleh karena itu, rekonstruksi Aceh Tamiang harus dirancang secara menyeluruh dan berbasis kajian ilmiah yang komprehensif. Diperlukan keberanian kebijakan untuk melakukan penataan ulang tata ruang dari hulu hingga hilir, mencakup:
•penataan daerah aliran sungai,
•perlindungan kawasan resapan air,
•pengendalian pemanfaatan ruang, serta
•relokasi permukiman di zona rawan banjir.
Relokasi harus diposisikan sebagai langkah penyelamatan jangka panjang, bukan sekadar kebijakan teknis yang bersifat sementara.
Tahapan Pembangunan pascabencana tidak boleh lagi dilakukan secara parsial dan reaktif. Jika keterbatasan anggaran menjadi kendala, maka pelaksanaan rekonstruksi harus dilakukan secara bertahap, namun tetap berpedoman pada rencana tata ruang yang jelas, konsisten, dan berkelanjutan.
Perencanaan yang tidak utuh justru berpotensi melahirkan bencana baru di masa mendatang.
Demikian pula Perhatian serius juga perlu diarahkan kepada masyarakat yang masih berada di pengungsian. Mereka membutuhkan kepastian kebijakan, bukan sekadar empati sesaat.
Negara harus hadir melalui:
•penyediaan tempat penampungan sementara yang layak, dan
•peta jalan pemindahan ke hunian tetap secara bertahap sesuai tahapan rekonstruksi.
Keadilan sosial harus menjadi ruh utama dalam seluruh proses pemulihan.
Aceh Tamiang hari ini adalah cermin bagi kita semua. Kehadiran negara tidak boleh berhenti pada distribusi bantuan logistik, tetapi harus diwujudkan melalui keputusan strategis, keberanian menata ulang wilayah, dan komitmen rekonstruksi jangka panjang.
Sejalan dengan pernyataan Presiden RI dalam rapat kabinet yang beredar di ruang publik mengenai rencana pembentukan badan atau satuan tugas rekonstruksi pascabencana, maka langkah tersebut perlu segera ditindaklanjuti secara konkret, khususnya untuk wilayah rawan seperti Aceh Tamiang.
Saya meyakini bahwa setiap musibah adalah ujian sekaligus peringatan. Dari lumpur Kuala Simpang, harapan rakyat Aceh Tamiang, bangun kembali dengan perencanaan yang benar, agar bencana tidak terus menjadi takdir yang berulang.
Semoga Allah SWT memberi petunjuk kepada para pemimpin dan kekuatan kepada rakyat Aceh Tamiang untuk bangkit dengan bermartabat.
Previous Post

Mentan Tegaskan Segera Pulihkan Sawah Terdampak Banjir di Aceh

Next Post

Penanganan Sawah Terdampak Banjir Aceh Dipastikan Lebih Cepat

Next Post
Penanganan Sawah Terdampak Banjir Aceh Dipastikan Lebih Cepat

Penanganan Sawah Terdampak Banjir Aceh Dipastikan Lebih Cepat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Prodi Ilmu Hadis UIN Ar-Raniry Jalani Asesmen Lapangan Akreditasi BAN-PT Targetkan Unggul

Prodi Ilmu Hadis UIN Ar-Raniry Jalani Asesmen Lapangan Akreditasi BAN-PT Targetkan Unggul

01/04/2026
Kemenag Aceh Selatan Ulurkan Kepedulian untuk Korban Kebakaran Kota Fajar

Kemenag Aceh Selatan Ulurkan Kepedulian untuk Korban Kebakaran Kota Fajar

01/04/2026
Usai Libur Idulfitri, Pelayanan di MPP Aceh Besar Dipadati Warga

Usai Libur Idulfitri, Pelayanan di MPP Aceh Besar Dipadati Warga

01/04/2026
Cak Imin Tegaskan Selalu Memperjuangkan Kepentingan Aceh di Pusat

Cak Imin Tegaskan Selalu Memperjuangkan Kepentingan Aceh di Pusat

01/04/2026
USK dan Polda Aceh Tandatangani PKS Pembentukan Pusat Riset Ilmu Kepolisian

USK dan Polda Aceh Tandatangani PKS Pembentukan Pusat Riset Ilmu Kepolisian

01/04/2026

Terpopuler

Rotasi Jabatan: AKP Dedy Miswar Putra Terbaik Pidie, Pindah ke Polres Bireuen

Rotasi Jabatan: AKP Dedy Miswar Putra Terbaik Pidie, Pindah ke Polres Bireuen

27/03/2026

KPA Pase Mulai ‘Gerah’ dengan Kepemimpinan Abang Samalanga di DPR Aceh

67 Murid SMAN 1 Peureulak Lulus SNBP 2026, 5 Diantaranya di Fakultas Kedokteran

STAI Tgk. Chik Pante Kulu Banda Aceh Jalin Sinergi Strategis dengan IKADIN dan YARA

PUPR Abdya akan Sulap Lahan Kosong menjadi Kebun Hortikultura

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com