Tamiang – Para penyintas banjir di Kabupaten Aceh mulai bangkit pada momentum bulan suci Ramadhan, di mana para pelaku UMKM di sana sudah memadati kawasan pusat pemerintahan setempat di Karang Baru untuk berjualan takjil.
“Kami baru mulai jualan tahun ini. Meskipun rumah masih berantakan setelah banjir kemarin, kami harus tetap usaha. Tidak bisa terus-menerus larut dalam kesedihan,” kata salah seorang warga Desa Kebun Tanah yang menjulang takjil Ramadhan, Yanti, di Aceh Tamiang, Rabu.
Dirinya mengakui, modal yang digunakannya untuk berjualan tersebut berasal dari kantong pribadi tanpa adanya bantuan modal dari pemerintah.
Dengan status kerusakan rumahnya kategori sedang, ia berharap proses verifikasi dan validasi data segera rampung agar bantuan rehabilitasi dapat diterima sebelum Idul Fitri pada Maret 2026 mendatang.
“Harapan kami pemerintah adil dalam menyalurkan bantuan. Karena semua kita terdampak banjir, jadi kami harap bantuannya bisa segera keluar untuk membeli perlengkapan rumah dan kebutuhan sekolah anak,” ujar Yanti.
Kisah serupa datang dari Marfuah (49), penyintas lainnya yang berjualan es buah dan jajanan seharga Rp5.000 per porsi itu menyampaikan, meski omzetnya mulai membaik dan mencapai kisaran Rp300-750 ribu per hari, masih menyimpan kekhawatiran karena proses pendataan rumah yang dirasa lambat.
Diharapkan, momentum Ramadhan ini menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Aceh Tamiang untuk mempercepat distribusi bantuan sosial maupun dana renovasi rumah, mengingat kebutuhan hidup yang meningkat menjelang lebaran.
“Rumah kami rusak sedang, mudah-mudahan tidak berubah status jadi ringan. Itu yang kita takutkan, makanya katanya ini di data ulang,” demikian Marfuah.









