Mayoritas rumah warga di Krueng Mane dan Krueng Geukuh masih memiliki bercak bekas banjir. Sejumlah perabot hancur dan belum tergantikan. Namun mereka merayakan Idul Fitri dalam kesederhanaan. Menyambut tamu dengan senyum pilu.
Sejumlah warga korban banjir di Aceh Utara mengaku kecewa dengan kinerja sang bupati. Hal ini diungkapkan oleh sejumlah warga dalam momen silaturahmi Idul Fitri. Pasalnya, sejak dilanda musibah banjir dan longsor, warga mengaku ditinggal sendiri. ‘
Sudah hampir 4 bulan, warga masih bergelut dengan lumpur. Minim sentuhan dari pemerintah kabupaten.
“Mungkin Ayahwa menganggap diri sebagai bupati Panton. Jadi kerjanya hanya untuk Panton dan sekitar,” ujar Syahrul, 35 tahun, warga Krueng Geukuh Aceh Utara, saat atjehwatch.com bersilaturahmi ke rumahnya, Minggu pagi 22 Maret 2026.
Sosok yang dimaksud dengan Ayahwa adalah Ismail A Jalil. Ia merupakan bupati Aceh Utara.
Syahrul enggan menjelaskan mengapa Ayahwa disebut sebagai bupati Panton.
“Mungkin Ayahwa lupa dengan luas Aceh Utara,” katanya lagi dengan nada sedih. Ia kemudian menunjuk ke arah dua kamar di rumahnya yang masih berlumpur.
“Belum sanggup bersihkan semua. Soalnya lumpurnya lumayan tebal. Mau sewa orang untuk bersihkan belum ada uang,” ujarnya lagi.
Tak hanya Syahrul, hal yang sama juga diungkapkan oleh warga lainnya. Salah satunya adalah Muhammad Yunus, 48 tahun, warga Sawang Aceh Utara pada hari yang sama.
M. Yunus mengaku petani sawah. Namun banjir bandang yang melanda daerahnya pada akhir November 2025 lalu telah meratakan sawah miliknya dan keluarga.
“Otomatis mata pencaharian saya terputus sejak banjir. Namun bantuan pemerintah yang diberikan alakadar. Kadang mie instan cuma 5 bungkus. Demikian juga dengan daging meugang. Bukan tak mensyukuri, tapi memang tak cukup. Keperluan keluarga besar, tak bisa dibiarkan kondisi seperti ini. Tapi mau ngeluh, semua warga menderita hal yang sama,” kata M. Yunus.
“Saya lebih senang diberi kail pancing dibanding dikasih ikan. Itu istilahnya.”
“Pemerintah harusnya membantu kami dengan rehab sawah. Itu sangat membantu. Supaya kami bisa segera turun ke sawah. Kalau mau rehab sendiri, uang tak ada,” ujar Yunus.
Di tempat terpisah, Zakaria, 27 tahun, warga Krueng Mane juga mengungkapkan hal yang sama.
“Rumah saya digenangi banjir hampir setinggi pria dewasa. Perabotan dan isi rumah hancur. Namun saat disensus oleh petugas BNPB dikatakan cuma rusak 7 persen,” keluh Zakaria.
“Saya protes ke Pemkab Aceh Utara. Namun juga tak ada respon,” ujar dia.
Pernyataan Prabowo Soal 100 Persen
Pernyataan Presiden Prabowo soal pemulihan Aceh pasca banjir dan longsor sudah 100 persen jadi pembicaraan serius para korban banjir di Aceh.
Statemen tersebut turun menjadi pembahasan serius sesama warga saat silaturahmi Idul Fitri pada Minggu 22 Maret 2026.
“Kata pak Prabowo sudah 100 persen pemulihan. Kami tak tahu dimananya 100 persen. Karena lumpur rumah dari hari terkena musibah hingga sekarang, kami masih menangani sendiri. Pemerintah tak hadir,” kata Teungku Mustafa, 47 tahun, salah seorang warga di Krueng Mane, Aceh Utara, Minggu 22 Maret 2026.
“Coba lihat beberapa kamar masih berlumpur. Kami belum bisa membersihkan semua,” ujarnya lagi.
Sementara itu, Yudhi Kurniawan, 34 tahun, korban banjir lainnya di Krueng Geukuh, Aceh Utara, juga menyesalkan adanya statemen dari Prabowo soal pemulihan hamper 100 persen.
“Seharusnya masih banyak persoalan yang tersisa. Rumah rumah warga di Aceh masih banyak berlumpur karena memang harus mengandalkan diri sendiri. Kemudian sawah sawah juga masih rusak sehingga warga tak bisa mencari rezeki,” ujar dia.
Yudhi berharap pemerintah bisa turun tangan untuk merehab sawah warga yang rusak akibat banjir.
“Namun sampai belum ada tindakan adapun. Padahal selama ini kami bergantung pada hasil sawah untuk hidup,” kata dia.
Sebelumnya diberitakan, Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung progres pemulihan pascabencana di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Kepala Negara memastikan penanganan dampak bencana telah mencapai hampir 100 persen, ditandai dengan seluruh warga terdampak yang kini telah menempati hunian layak tepat sebelum perayaan Idulfitri 1447 Hijriah.
“Alhamdulillah, di tenda sudah tidak ada lagi, sudah 100 persen keluar. Semua sudah masuk ke hunian-hunian sementara maupun tetap. Listrik juga hampir semuanya sudah jalan, hanya tersisa lima desa di seluruh Aceh yang memang medannya sulit. Bantuan semua sudah turun ke rakyat,” ujar Prabowo usai melaksanakan salat Idulfitri di Masjid Darussalam, kawasan Hunian Sementara (Huntara) Kebun Tanjung Seumantoh, Aceh, dikutip dari Antara, Sabtu, 21 Maret 2026.










