SOSOK Zulfadli atau akrab disapa Abang Samalanga sedang menjadi pembahasan hangat di Aceh selama beberapa hari terakhir. Kursi Ketua DPR Aceh yang didudukinya sedang digoyang oleh para anggota.
Meski kemudian dibantah oleh para ketua fraksi, tapi upaya mosi tak percaya yang dilayangkan para anggota benar adanya. Salah satunya keberadaan grup WA ‘Penyelamat DPRA.’ Grup ini berisi para anggota DPR Aceh yang berseberangan dengan Abang Samalanga. Beberapa orang di dalam grup ini berasal dari Partai Aceh.
Lantas bagaimana rekam jejak Abang Samalanga selama ini? Diketahui, Abang Samalanga merupakan anggota DPR Aceh dari Dapil Bireuen.
Dari berbagai sumber diketahui, kiprah besar Abang Samalanga di DPR Aceh dimulai dari periode sebelumnya. Dimana, Partai Aceh selaku para penguasa melakukan tiga kali pergantian ketua DPR Aceh pada periode sebelumnya.
Dewan Pimpinan Aceh (DPA) Partai Aceh resmi menunjuk Dahlan Jamaluddin sebagai Ketua DPRA periode 2019-2024 pada September 2019. Namun kemudian terjadi kisruh internal DPR Aceh dan sosok tersebut kemudian digantikan oleh Saiful Bahri (Pon Yahya) pada 21 Maret 2022 melalui rapat paripurna, berdasarkan surat dari Partai Aceh.
Namun jabatan Pon Yahya sendiri tak bertahan lama. Salah satu penyebabnya karena kisruh internal semasa Dahlan Jamaluddin belum kunjung selesai. Saiful Bahri alias Pon Yahya kemudian resmi diganti dari jabatannya sebagai Ketua DPR Aceh (DPRA) pada September 2023. Partai Aceh menunjuk Zulfadhli (Abang Samalanga) sebagai penggantinya untuk sisa masa jabatan 2019-2024.
Dari internal Partai Aceh diketahui, penggantian Pon Yahya dengan Abang Samalanga awalnya sempat ditentang oleh elit PA, terutama dari Pase. Pasalnya, Pase (Aceh Utara dan Lhokseumawe-red) merupakan lumbung suara Partai Aceh. Sementara Bireuen justru meraih suara ala kadar. Petinggi PA, terutama Mualem, dalam setiap Pileg selalu mengatakan bahwa kursi pimpinan DPR Aceh adalah milik daerah penghasil suara terbanyak.
“Jadi harusnya walaupun Pon Yahya diganti, pengganti tetap harus dari Pase,” ujar sumber dari internal DPA Partai Aceh. Namun pertimbangan dari Pase tadi terabaikan.
Abang Samalanga kemudian kembali ditunjuk sebagai Ketua DPR Aceh untuk periode 2024. Penunjukan ini karena beberapa pertimbangan.
Salah satunya, kata sumber tadi, Abang Samalanga dan petinggi PA KPA Bireuen kemudian berjanji bahwa dengan kursi ketua DPR Aceh tetap dipegang Abang Samalanga, maka Bireuen bakal menjadi daerah basis dan peraup suara Utama untuk PA untuk pilkada 2024, yang akan berlangsung di akhir tahun 2024.
Pada saat bersamaan, Bustami Hamzah sendiri dilantik oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian sebagai Penjabat (Pj) Gubernur Aceh pada 13 Maret 2024. Bustami Hamzah juga memiliki akar ‘Bireuen’ yang kuat. Maka keberadaan Abang Samalanga dan Ombus, panggilan akrab Bustami Hamzah, membuat harmoni legislatif-eksekutif Aceh lebih kental. Abang Samalanga sendiri, melalui jejak digital, pernah memposting beberapa foto kedekatannya bersama Ombus.
Sayangnya, pasangan Mualem-Dekfadh, yang diusung Partai Aceh, justru kalah telak di Bireuen pada pilkada di akhir 2024. Hasil ini jauh dari komitmen dan harapan petinggi Partai Aceh.
“Yang lebih disayangkan lagi, Mualem-Dekfadh juga kalah telak di Samalanga. Sementara Pase yang ditinggal tetap menjadi lumbung suara Mualem-Dekfadh. Penentu kemenangan Mualem di pilkada Aceh itu adalah Pase,” kata sumber tadi.
Kekalahan Mualem di Bireuen kembali membuat petinggi PA murka. Para petinggi mengambil ancang-ancang pergantian ketua DPR Aceh. Namun agenda ini kemudian tertunda karena meninggalnya Sekjend DPA PA, Kamaruddin Abu Bakar atau yang akrab disapa Abu Razak, saat melaksanakan ibadah umrah di Tanah Suci, Mekah, pada Rabu 19 Maret 2025. Pada saat bersamaan, Abang Samalanga menjadi pahlawan bagi Mualem terkait keputusan PAW Bunda Salma. Surat yang ditandatangani Abang Samalanga selaku Plt Sekjend DPA PA mampu meredam pergolakan dan penolakan pengangkatan Bunda Salma dari Dapil Aceh Utara.
Kini isu pergantian Abang Samalanga dari kursi ketua DPR Aceh kembali berhembus. Bahkan lebih kencang dari sebelumnya. Meski Mualem sudah membantah hal tersebut, seperti diberitakan sejumlah media berdasarkan rilis dari kediaman Abang Samalanga, di Bireuen, pada Senin 23 Maret 2026. Namun jika menyimak perkembangan politik yang terjadi, bara di atas kursi ketua DPR Aceh, belum juga padam.









