Banda Aceh – Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Aceh Utara mengintensifkan 54 persen dari total lahan baku sawah 39.762 hektare di daerah yang tidak terdampak bencana guna menjaga produktivitas hasil pertanian di kabupaten penghasil padi itu tidak turun drastis.
“Salah satu langkah yang kita lakukan adalah mengintensifkan penanaman, pemupukan dan perlakuan sebelum dan pascapanen agar produktivitas padi dengan target 6 ton per hektare dapat tercapai,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Aceh Utara, Erwandi dihubungi di Banda Aceh, Senin.
Ia menjelaskan intensifikasi yang dilakukan di lahan-lahan tidak terdampak bencana tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah guna memastikan ekonomi masyarakat tetap berjalan.
Ia menyebutkan banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada akhir November mengakibatkan 18.316 hektare atau 46 persen dari total luas baku sawah 39.762 hektare terdampak.
Ia merincikan seluas 4.679 hektare sawah rusak parah, 6.447 hektare rusak sedang dan 7.189 hektare rusak ringan.
Menurut dia untuk tahap pertama terhadap sawah terdampak bencana tersebut akan diintervensi oleh Kementerian Pertanian berupa rehabilitasi sawah terdampak sedang seluas 1.093 hektare.
Ia mengatakan seluruh data sektor pertanian sudah masuk dalam rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana dengan sumber pendanaan diharapkan dari APBN melalui kementerian terkait.
“Pak Bupati juga terus berupaya agar sawah-sawah milik masyarakat terdampak bencana dapat seluruhnya direhabilitasi sehingga masyarakat dapat kembali bertani dan ekonomi warga cepat pulih,” katanya.
Sebelumnya Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil di sela-sela rapat Monitoring dan Evaluasi (Monev) Penggunaan Tambahan Transfer Keuangan Daerah (TKD) Pascabencana di Provinsi Aceh berharap Pemerintah Pusat untuk segera memulihkan 18.316 hektare lahan sawah yang hancur akibat banjir.










