Sorong – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Papua Barat Daya menggagas program strategis napak tilas sejarah perjalanan Islam dari Aceh hingga Pulau Jawa sebagai upaya meneguhkan nilai dakwah damai yang menjadi ciri khas Islam di Indonesia.
Gagasan tersebut mengemuka dalam rapat yang digelar di Gedung Sekretariat MUI Papua Barat Daya, Jalan Basuki Rahmat KM 12, Kota Sorong, Sabtu (28/3/2026).
Ketua MUI Papua Barat Daya, H Ahmad Nausrau menegaskan bahwa meskipun kepengurusan MUI Papua Barat Daya belum sepenuhnya definitif, tanggung jawab organisasi tetap harus dijalankan secara maksimal.
“Mandat MUI tidak boleh berhenti. Kita adalah khadimul ummah dan shadiqul hukumah. Karena itu, penguatan wawasan, terutama terkait sejarah Islam, menjadi hal yang sangat penting,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa perjalanan Islam di Indonesia memiliki karakter yang berbeda dibandingkan kawasan lain di dunia. Islam di Nusantara tumbuh bukan melalui penaklukan, melainkan melalui pendekatan dakwah yang damai, kultural, dan penuh hikmah.
“Ini yang harus kita pahami bersama. Islam hadir dengan cara yang santun melalui para ulama, habib, dan dai, sehingga mampu menyatu dengan budaya masyarakat,” kata Wakil Gubernur Papua Barat Daya itu.
Lebih jauh, H Nausrau menyoroti bahwa pola dakwah damai tersebut juga menjadi fondasi berkembangnya Islam di kawasan timur Indonesia, termasuk Maluku dan Papua.
“Islam di Papua berkembang melalui jalur perdagangan dan interaksi sosial. Tidak ada kekerasan, yang ada adalah pendekatan kemanusiaan dan kebersamaan,” katanya.
Program napak tilas ini dirancang tidak sekadar sebagai perjalanan sejarah, tetapi juga sebagai upaya strategis menghubungkan kembali jejak peradaban Islam dari barat hingga timur Indonesia, sekaligus memperkuat nilai persatuan, moderasi beragama, dan harmoni sosial di tengah keberagaman Papua Barat Daya.
MUI Papua Barat Daya menilai, Aceh dan Pulau Jawa merupakan dua wilayah kunci dalam sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara, yang penting untuk dipelajari secara langsung oleh generasi masa kini.
Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum strategis dalam memperkuat peran MUI sebagai pembimbing umat sekaligus mitra pemerintah dalam menjaga kehidupan keagamaan yang damai, moderat, dan berkeadaban di Papua Barat Daya.










