BANDA ACEH – Mahasiswa asal Myanmar, Htet Htet Hlaing (23), membagikan pengalamannya selama menempuh pendidikan di Program Kelas Internasional, Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (USK). Ia mengaku mendapatkan pengalaman belajar yang positif sekaligus merasakan kehangatan budaya masyarakat Aceh selama tinggal di Banda Aceh.
Htet menjelaskan bahwa sistem perkuliahan di kelas internasional yang sebagian besar menggunakan bahasa Inggris sangat membantunya dalam memahami materi dan berpartisipasi aktif. Meski pada awalnya ia sempat menghadapi tantangan bahasa ketika beberapa mata kuliah disampaikan dalam Bahasa Indonesia, ia mampu beradaptasi seiring berjalannya waktu.
“Seiring waktu, saya mulai terbiasa dan merasa lebih nyaman mengikuti perkuliahan di sini,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi sikap para dosen di USK yang dinilai ramah, terbuka, dan sangat mendukung mahasiswa. Menurutnya, dosen tidak hanya mengajar, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk aktif berdiskusi dan tidak ragu meminta bantuan saat mengalami kesulitan.
“Saya merasa sangat terbantu karena para dosen selalu bersedia memberikan bimbingan dan membantu saya memahami materi,” tambahnya.
Di luar aktivitas akademik, kehidupan kampus di USK dinilai sangat dinamis dan memberikan banyak peluang bagi mahasiswa untuk berkembang. Berbagai kegiatan yang tersedia memungkinkan mahasiswa untuk memperluas wawasan sekaligus membangun relasi. Htet mengaku berhasil menjalin banyak pertemanan, baik dengan mahasiswa dari fakultas yang sama maupun dari berbagai jurusan lainnya.
Pengalaman tinggal di Banda Aceh juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan studinya. Ia menilai masyarakat Aceh memiliki kebanggaan yang kuat terhadap budaya dan bahasa mereka, yang tercermin dalam interaksi sehari-hari.
“Bahkan dalam percakapan sederhana, seperti saat menggunakan transportasi online, saya sering diajarkan beberapa kata dalam bahasa Aceh. Hal itu terasa sangat hangat dan menyenangkan,” ungkapnya.
Menurut Htet, rasa ingin tahu masyarakat terhadap dirinya sebagai mahasiswa asing justru membuka ruang dialog yang positif. Ia sering mendapat pertanyaan mengenai alasan memilih Banda Aceh sebagai tempat studi, terutama karena kota ini dikenal dengan nilai-nilai Islam yang kuat.
Namun, ia melihat hal tersebut sebagai kesempatan untuk saling berbagi pengalaman dan memahami perbedaan budaya. “Percakapan seperti ini membuat saya lebih memahami identitas dan tradisi masyarakat Aceh, sekaligus belajar menghargai perbedaan,” katanya.
Selain itu, keindahan alam Banda Aceh juga memberikan kesan mendalam baginya. Pemandangan pantai saat matahari terbenam serta lanskap pegunungan di sekitarnya menjadi sumber ketenangan di tengah kesibukan akademik.
“Banda Aceh adalah tempat yang membuat saya merasa dekat dengan alam dan menemukan ketenangan,” ujarnya.
Pengalaman Htet Htet Hlaing mencerminkan bagaimana Universitas Syiah Kuala tidak hanya menawarkan kualitas pendidikan yang baik, tetapi juga lingkungan yang inklusif serta kaya akan nilai budaya. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi mahasiswa internasional untuk menempuh pendidikan di USK.










