Mereka bertiga tak langsung bersuara. Aku melempar alat perekam suara tadi ke atas meja. “Gedebuk…”
“Mereka dari kelompok mana? TNI atau Polri?” ujarku kemudian dengan tegas.
“Aku tak takut dengan kedua kelompok ini. Aku tak pernah melakukan sesuatu yang melanggar hukum setelah damai tercapai,” kataku lagi.
“Bukan keduanya,” jawab Iwan.
Ia kemudian duduk di sisi kananku. Sedangkan Rusli dan Mustafa masih berdiri. Sepertinya mereka bertiga memang satu komplotan. Dalam perjalanan kali ini, mungkin cuma aku yang tak tahu apa-apa. Ini juga bukan cuma sekedar perjalanan nostalgia biasa.
“Apakah dari BIN atau Bais?”tanyaku lagi.
Iwan lagi-lagi menggeleng kepala. Penjelasan Iwan ini membuatku kembali mengerut kening.
“Bukan kelompok ‘resmi.’ Berarti kelompok tak resmi? Tapi tak mungkin Tentara Nanggroe yang sudah lama pensiun memiliki aura membunuh seperti ini?” gumamku dalam hati. Peluh dingin tiba-tiba meluncur dari kepala. Dadaku terasa sesak.
“Jika bukan GAM? Maka…” ujarku tiba-tiba.
“Iya…” kata Iwan.
Mustafa ikut mengangguk. Ia tahu aku sudah mulai menebak status para pria di belakang cafe. Berbeda denganku, ketiga rekan itu justru seolah bisa menjamin bahwa kelompok pengawal di belakang tak menjadikan kami sebagai sasaran malam ini.
“Mereka seusia anak-anak kita. Rata-rata berusia dua puluhan dan mayoritas adalah anak para syuhada perang Aceh,” ujar Mustafa kemudian.
“Mereka mewarisi gen kita,” kata Mustafa lagi dengan tenang. Kali ini, ia melangkah pelan dan duduk dihadapanku. Geraknya diikuti oleh Rusli. Kami berempat membentuk meja bundar.
Saat mereka mencoba tersenyum. Peluh di wajahku semakin deras. Amarahku kian memuncak.
“Kau sadar apa yang kau katakan Mustafa? Kau coba wariskan kebencian baru kepada mereka? Kau ingin Aceh kembali bersimbah darah?” ujarku bertubi-tubi sambal melotot. Aku menarik kerah baju Mustafa.
“Tak cukupkah dengan kematian-kematian yang sudah terjadi? Takkah kau belajar dari sejarah?” kataku.
“Bodoh.”
Wajah Mustafa memerah mendengar perkataanku. Sedangkan Iwan dan Rusli tertunduk lesu.
[Bersambung]
Baca Juga:
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 6
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)


![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-120x86.jpeg)





![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-350x250.jpeg)