Oleh Murdani Abdullah
Ia baru pergi beberapa hari. Namun suasana kini terasa amat berbeda. Tidak ada lagi sosok humoris yang menjadi pencair suasana. Sosok yang setia pindah dari satu meja ke meja lainnya hanya untuk saling menyapa.
Ya, sosok yang dirindukan kedatangannya. Ceritannya yang menghidupkan suasana. Tawanya yang khas serta kenangan tanpa membedakan status dan pekerjaan.
Sosok itu adalah almarhum Dr. Budi Azhari MPd. Kami mengenalnya dari serangkaian peristiwa sejak zaman kuliah hingga sekarang, atau setidaknya hingga Minggu 11 Oktober 2026, pukul 17.30 WIB. Pasalnya, hingga detik itu, tawa khasnya masih terdengar.
Tapi tiga jam kemudiaan, kabar ia telah pamit untuk selamanya, justru menghadirkan duka yang mendalam bagi kami yang masih hidup.
“Hana abeh lon pike,” ujar Bang Jack, tukang Parkir di depan Warkop Dekmi Rukoh, saat ia bercerita tentang almarhum.
“Terkejut lon. Hari hari terakhir mantong geusapa lon,” kata Saryulis, seorang pedagang di jalan utama Rukoh, Darussalam.
Semasa kuliah, saya mengenal almarhum sebagai senior dari Prodi Matematika FKIP Unsyiah (USK sekarang-red), yang kemudian menjabat sebagai Ketua BEM FKIP di tahun 2002. Ia tampil sebagai salah seorang pembicara dalam penyambutan mahasiswa baru letting 2003 di FKIP. Kemampuannya dalam beretorika dan orasi membuat saya selaku mahasiswa baru pada saat itu, terkagum kagum.
Di awal-awal saya kuliah sebagai mahasiswa Diploma II PGSD, kabar tentang almarhum sempat menghilang. Saat itu, saya memperoleh kabar kalau yang bersangkutan telah menempuh Pendidikan strata dua di Malang.
Kami baru kembali bertemu di kantin kampus FKIP sekitar 2005. Saat itu, saya adalah ketua Himpunan Mahasiswa PGSD, membawahi 3 UPP dan ribuan mahasiswa. Ia menyindir saya saat itu. Katanya saat itu, dengan kekuatan mahasiswa ribuan, harusnya suara kami mudah terdengar. Namun yang terjadi saat itu, PGSD seolah menjadi ‘dunia ketiga’ di Unsyiah. Fasilitas minim dan seadanya di Jalan Inong Balee.
Pertemuan ketiga berlangsung di akhir 2006. Saat itu, ada konflik internal pasca pemilihan Ketua BEM FKIP. Almarhum hadir sebagai juru hubung yang diminta Dekan FKIP saat itu untuk menjadi penengah di antara dua kubu mahasiswa. Sedangkan saya mewakili ketua tim dari salah satu kubu yang kemudian dinyatakan menang.
Di 2006, saya sudah berstatus sebagai mahasiswa Strata 1 di FKIP Sejarah.
Sejak saat itu, komunikasi saya dengan almarhum, terhitung lebih dekat. Bukan sebagai teman, tapi senior yang ketika kami duduk semeja, harus siap mendengar semua obrolannya, tanpa memiliki hak untuk memotong atau mencela pembicaraan.
Saya hanya berhak mendengar dan mengangguk. Tapi konsekuensi dari hal tadi, setiap kami ngopi bersama, almarhum lah yang harus membayarnya. Dari ngopi berdua, kian hari meja dan kursi bertambah panjang dan lebar.
Sekitar 2007, saya berhasil menduduki kursi Ketua DPM FKIP. Kali ini utusan dari mahasiswa Sejarah FKIP. Pada tahun yang sama juga, saya diterima sebagai jurnalis junior di koran harian cetak local bernama Harian Aceh.
Sebagai jurnalis junior, tangan saya masih berapi-api saat itu. Sekecil apapun masalah, tak luput dari olah tangan dan ujung-ujung jadi berita. Apalagi kantor Harian Aceh meminta saya menulis isu-isu pendidikan.
Salah satu tulisan saya yang kemudian viral adalah dugaan korupsi Yayasan Tarbiyah IAIN Ar-Raniry dan Yayasan FKIP Unsyiah. Viralnya tulisan ini sangat berdampak bagi saya. Bagai dua sisi mata uang.
Di satu sisi, saya adalah penulis berita dugaan korupsi dua Yayasan tadi hingga polisi dan jaksa turun tangan. Kasus ini juga menyerat para dosen di dua lembaga tadi harus berdatangan menghadap penyidik. Saya dianggap mencoret nama baik dosen serta seluruh civitas FKIP.
Di sisi lain, status saya juga seorang mahasiswa di Sejarah FKIP yang harus siap menerima nilai dibawa standar dan status DO kapan saja.
Saya curhat berhari-hari ke almarhum Bang Budi. Ia kemudian bertugas sebagai ‘Pemadam Kebakaran’ di FKIP. Minimal status mahasiswa saya tak di-DO. Pandangan saya terhadap almarhum pun meningkat, dari seorang senior menjadi penyelamat.
[Bersambung]
![Almarhum Budi Azhari dan Candaan yang ‘Hilang’ di Darussalam [Bagian 1]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-14-at-13.04.57-750x375.jpeg)




![Almarhum Budi Azhari dan Candaan yang ‘Hilang’ di Darussalam [Bagian 1]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-14-at-13.04.57-120x86.jpeg)




