Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Opini

[Opini] Implementasi Penuh Sistem SAKTI, Akankah Menjadi Lebih Baik?

redaksi by redaksi
05/10/2025
in Opini
0
[Opini] Implementasi Penuh Sistem SAKTI, Akankah Menjadi Lebih Baik?

Oleh Adhilla Zakiah. Penulis adalah mahasiswi Pasca Sarjana, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

SEJAK 2025, pemerintah pusat telah resmi mengimplementasikan Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi (SAKTI) secara penuh di seluruh kementerian dan lembaga.

Kebijakan ini bukan sekadar pergantian aplikasi, tetapi sebuah langkah strategis menuju transformasi digital dalam pengelolaan keuangan negara.

Pertanyaan yang wajar muncul di benak publik adalah: apakah penerapan penuh SAKTI benar-benar akan membawa perubahan yang lebih baik bagi tata kelola keuangan pemerintah?

Bila kita menengok sejarahnya, pengelolaan keuangan negara sebelumnya banyak bergantung pada sistem manual atau aplikasi terpisah yang tidak selalu terintegrasi.

Hal ini menimbulkan berbagai persoalan klasik seperti data tidak sinkron, potensi keterlambatan penyusunan laporan, hingga celah terjadinya inefisiensi dan praktik penyalahgunaan anggaran.

SAKTI hadir dengan janji besar, yaitu satu sistem terpadu, dari perencanaan, pelaksanaan, pencatatan, hingga pelaporan, yang secara langsung terkoneksi dengan SPAN (Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara).

Integrasi inilah yang membuat SAKTI digadang-gadang menjadi “game changer” bagi akuntansi pemerintahan di Indonesia.

Namun, penerapan penuh sebuah sistem digital tidak serta-merta bebas dari masalah. Di lapangan, masih banyak aparatur yang menghadapi kendala teknis seperti keterbatasan jaringan internet, kurangnya literasi digital, hingga beban adaptasi dengan menu dan fitur baru.

Pertanyaan kritis yang muncul adalah: apakah sistem secanggih apa pun bisa berjalan baik tanpa sumber daya manusia yang siap?

Tantangan terbesar bukan hanya pada teknologi, tetapi pada kesiapan mental, budaya kerja, dan penguatan kompetensi aparatur.

Dari sisi positif, implementasi penuh SAKTI tentu membawa harapan besar. Pertama, akuntabilitas dan transparansi keuangan negara akan meningkat karena seluruh proses tercatat secara real time dan sulit dimanipulasi.

Kedua, proses penyusunan laporan keuangan, baik LRA, Neraca, hingga laporan operasional, dapat dilakukan lebih cepat dan akurat.

Ketiga, integrasi dengan sistem pengawasan internal BPKP maupun audit BPK akan semakin mudah karena data sudah terdigitalisasi.

Artinya, ruang untuk praktik curang seperti mark-up anggaran, laporan ganda, atau “buku bayangan” semakin kecil.

Namun demikian, publik juga berhak khawatir bila penerapan penuh SAKTI hanya menambah beban administratif tanpa disertai pembenahan sistem birokrasi.

Jika aparatur hanya dipaksa sekadar “menginput” data tanpa memahami substansi akuntansi pemerintahan, maka SAKTI berisiko menjadi sekadar “alat pencatat” yang indah di atas kertas, tetapi tidak memberi nilai tambah nyata bagi tata kelola anggaran.

Di sinilah pentingnya pendampingan, pelatihan berkelanjutan, dan evaluasi periodik dari Kementerian Keuangan agar tujuan utama sistem ini tercapai.

Lebih jauh, penerapan penuh SAKTI juga harus kita kaitkan dengan konteks besar reformasi birokrasi dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Transparansi anggaran adalah syarat mutlak bagi terwujudnya pembangunan berkelanjutan. Bila dana publik bisa dipantau secara terbuka, peluang penyimpangan semakin kecil, dan alokasi anggaran lebih tepat sasaran.

Dalam hal ini, SAKTI bisa menjadi katalis menuju keuangan negara yang efisien, bersih, dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Akhirnya, menjawab pertanyaan “akankah menjadi lebih baik.”

Saya percaya jawabannya ya, dengan catatan. Penerapan penuh SAKTI memang langkah maju yang patut diapresiasi, tetapi keberhasilan sejatinya bergantung pada komitmen semua pihak yaitu pemerintah pusat, aparatur pengguna, lembaga pengawas, hingga masyarakat yang ikut mengawal transparansi.

Teknologi hanyalah alat, namun manusialah yang menentukan apakah alat itu membawa manfaat atau sekadar menjadi simbol digitalisasi semu.

Dengan kata lain, SAKTI bisa menjadikan tata kelola keuangan negara lebih baik, jika dibarengi dengan peningkatan kapasitas SDM, kesungguhan pengawasan, dan budaya kerja yang jujur serta akuntabel.

Tanpa itu semua, sistem secanggih apa pun hanyalah perangkat mati yang tak mampu menjawab persoalan klasik birokrasi kita.

Previous Post

18 Alumni Dayah Modern RIAB Launching Buku Antologi

Next Post

YWHA Launching DQA Mart dan Caffe Berbasis Wakaf: Inovasi Produktif Menuju Kemandirian Ekonomi Pesantren

Next Post
YWHA Launching DQA Mart dan Caffe Berbasis Wakaf: Inovasi Produktif Menuju Kemandirian Ekonomi Pesantren

YWHA Launching DQA Mart dan Caffe Berbasis Wakaf: Inovasi Produktif Menuju Kemandirian Ekonomi Pesantren

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Dishub Catat Angkutan Idul Fitri di Aceh Capai 212,4 Ribu Orang

Dishub Catat Angkutan Idul Fitri di Aceh Capai 212,4 Ribu Orang

31/03/2026
Kemenag Aceh Besar Catat 144 Pasangan Menikah Usai Idul Fitri

Kemenag Aceh Besar Catat 144 Pasangan Menikah Usai Idul Fitri

31/03/2026
Sekda Aceh Diduga “Kudeta” Program Gubernur: 2.000 Rumah Dhuafa Dipangkas Jadi 780 di APBA 2026

Nasrul Zaman: Kebijakan Sekda Pangkas JKA Berisiko Picu Ledakan Sosial

31/03/2026
Daniel Abdul Wahab Rajut Silaturahmi dengan Jajaran DPRK Banda Aceh

Daniel Abdul Wahab Rajut Silaturahmi dengan Jajaran DPRK Banda Aceh

31/03/2026
Pembayaran TPG Guru Tuntas, Plt Kadisdikbud: Komitmen Tingkatkan Kesejahteraan Pendidik

Pembayaran TPG Guru Tuntas, Plt Kadisdikbud: Komitmen Tingkatkan Kesejahteraan Pendidik

31/03/2026

Terpopuler

Rotasi Jabatan: AKP Dedy Miswar Putra Terbaik Pidie, Pindah ke Polres Bireuen

Rotasi Jabatan: AKP Dedy Miswar Putra Terbaik Pidie, Pindah ke Polres Bireuen

27/03/2026

Demokrat Aceh Besar “Pasang Badan”: Nurdiansyah Alasta Loyal, Pemersatu, dan Layak Pimpin Demokrat Aceh

Rumah Warga Abdya di Banda Aceh Dijarah Maling, Warga Minta Polisi Serius

KPA Pase Mulai ‘Gerah’ dengan Kepemimpinan Abang Samalanga di DPR Aceh

[Opini] Implementasi Penuh Sistem SAKTI, Akankah Menjadi Lebih Baik?

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com