Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali menyampaikan pernyataan yang kontradiktif alias ‘mencla-mencle’ sejak perang melawan Iran dimulai pada akhir Februari 2026.
Mulai dari klaim perang akan segera berakhir, ancaman serangan besar, hingga sinyal negosiasi damai, pesan Trump dinilai membingungkan sekutu maupun publik AS.
Sebelumnya, Trump telah berulang kali mengancam akan campur tangan terhadap Iran atas pembunuhan para demonstran, namun pernyataan itu kemudian berubah.
Berikut merupakan pernyataan Trump yang saling bertolak belakang.
Demo Iran
Demonstrasi yang pecah di Iran sejak akhir Desember, membuat Trump mengecam tindakan tersebut dan akan melakukan campur tangan ke Iran.
“Saat mereka mulai membunuh ribuan orang dan sekarang Anda memberitahu saya soal hukuman gantung. Kita akan lihat bagaimana konsekuensinya bagi mereka,” ujar Trump.
Namun, sejak serangan AS-Israel dimulai, alasan utama Trump berubah menjadi untuk menghentikan program nuklir Iran.
“Satu hal yang pasti: saya tidak akan pernah membiarkan sponsor terorisme terbesar di dunia memiliki senjata nuklir,” ujar Trump.
Baru-baru ini Trump menyatakan perang terhadap Iran dilakukan untuk membantu sekutu Washington di Timur Tengah, pada Rabu (1/4).
“Kami tidak perlu berada di sana. Kami tidak membutuhkan minyak mereka atau apa pun yang mereka miliki. Kami berada di sana untuk membantu sekutu kami,” tambah dia.
Trump ogah perang panjang lawan Iran
Pada Rabu (25/3), Trump dilaporkan ingin segera mengakhiri perang dengan Iran dalam beberapa pekan guna menghindari perang berkepanjangan.
Keinginan itu disampaikan Trump kepada para penasihatnya di tengah konflik yang telah berlangsung hampir sebulan.
Tetapi, pernyataan itu berbanding terbalik. Trump menyatakan tidak memberitahu kapan serangan AS akan dihentikan, namun memperingatkan kehancuran lebih besar masih akan terjadi.
“Dalam dua hingga tiga pekan ke depan, kami akan menyerang mereka dengan sangat keras dan membawa mereka kembali ke masa keterbelakangan,” ujar Trump.
Soal Selat Hormuz
Trump sempat menegaskan akan mengirim kekuatan militernya untuk membuka blokade Selat Hormuz oleh Korps Garda Revolusi Republik Islam Iran (IRGC).
Ia juga menyerukan kepada negara-negara sekutunya termasuk anggota NATO untuk membantu mengerahkan kekuatan militer mereka. Namun, seruan itu tidak digubris oleh para sekutu AS selain Israel.
Belakangan, Trump memberi isyarat akan mengakhiri perang dengan Iran meski Selat Hormuz tetap ditutup.
Salah satu sumber di pemerintahan AS mengatakan Trump menyampaikan pertimbangan tersebut ke penasihatnya bahwa dia siap menyetop perang, barulah selat dibuka.
Dikutip Times of Israel pada Selasa (31/4), Trump dan penasihatnya, lanjut sumber itu, sudah sampai ke kesimpulan bahwa misi membuka Selat Hormuz butuh waktu yang lebih lama. Durasi ini melebihi waktu yang ditetapkan AS terkait perang sekitar empat hingga enam pekan.
Trump soal minyak Iran
Dilansir Al Jazeera, Trump mengatakan pada Minggu (30/3) ia ingin “mengambil minyak” di Iran, seiring perang AS-Israel melawan Iran memasuki bulan kedua.
Pada Senin, Trump mengancam akan menargetkan infrastruktur energi Iran, termasuk sumur minyak, jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz.
Trump mengatakan preferensinya adalah untuk mengambil minyak di Iran dan pasukan AS dapat merebut pusat ekspor Iran di Pulau Kharg.
Namun, pada Rabu (1/4) dalam pidato nasionalnya, Trump mengeklaim tak membutuhkan minyak Iran seperti yang dilaporkan sejumlah pihak.
Ia menyampaikan operasi militer AS terhadap Iran untuk membantu para sekutu di Timur Tengah. AS, dan sama sekali tak mengincar minyak Iran dalam perang saat ini.
“Kami tidak membutuhkan minyak mereka. Kami tidak membutuhkan apa pun yang mereka miliki. Kami berada di sana untuk membantu sekutu kami,” kata Trump dalam pidato yang disiarkan akun Youtube resmi Gedung Putih, Rabu (1/4).










