Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Sejarah

Kisah Panglima Ali Usuf, Pejuang Kluet yang Gugur Melawan Belanda di Usia 35 Tahun

redaksi by redaksi
16/05/2026
in Sejarah, Sosok
0
Kisah Panglima Ali Usuf, Pejuang Kluet yang Gugur Melawan Belanda di Usia 35 Tahun

Hamparan sawah di Gampong Tinggi, Kecamatan Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan, menyimpan kisah perjuangan seorang pejuang Aceh yang namanya nyaris tenggelam dari ingatan sejarah. Sosok itu adalah Teuku Ali Usuf, panglima perang di wilayah Kluet Utara yang disebut gugur melawan kolonial Belanda sekitar tahun 1919.

Di tengah minimnya catatan tertulis, kisah perjuangan Teuku Ali Usuf masih hidup melalui cerita turun-temurun masyarakat dan keluarga keturunannya.

Menurut salah seorang keturunannya, Muhammad Hasbi, Teuku Ali Usuf diperkirakan lahir sekitar tahun 1884 dan meninggal dunia pada usia kurang lebih 35 tahun.

“Beliau meninggal sekitar usia 35 tahun. Beliau adalah kakek saya yang meninggal dunia demi mempertahankan tanah yang ia cintai,” ujar Muhammad Hasbi

Dalam kisah yang diwariskan keluarga, Teuku Ali Usuf disebut merupakan bagian dari barisan perjuangan di bawah komando Teungku Cut Ali saat konflik melawan Belanda masih berlangsung di wilayah Kluet dan sekitarnya.

Ketangguhan serta kepiawaiannya di medan perang membuat dirinya dipercaya memimpin perlawanan di wilayah Kluet Utara. Namun, demi menjaga strategi perjuangan, Teuku Ali Usuf disebut lebih sering menyamar sebagai masyarakat biasa agar tidak mudah dikenali penjajah.

Perlawanan rakyat di wilayah Kluet kala itu berlangsung terorganisasi. Di Kluet Utara dipimpin oleh Teuku Ali Usuf, di Kluet Timur terdapat Panglima Rajo Lelo, sementara di Kluet Tengah perjuangan dipimpin Imam Sabil. Adapun wilayah Kluet Selatan menjadi basis perjuangan Teungku Cut Ali.

Gugur Saat Melawan Belanda

Muhammad Hasbi menuturkan, sekitar tahun 1919, ketika masyarakat dipaksa menjalani kerja rodi oleh pemerintah kolonial Belanda, Teuku Ali Usuf berada di tengah rakyat.

Saat pasukan Belanda datang, Teuku Ali Usuf dikisahkan tidak melarikan diri. Berbekal sebilah parang kecil, ia menghadapi situasi tersebut.

Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, seorang komandan Belanda disebut sempat menantang duel Teuku Ali Usuf. Pertarungan pun terjadi hingga akhirnya komandan tersebut berhasil dikalahkan.

Namun, situasi berubah kacau. Pasukan Belanda kemudian melepaskan tembakan yang mengenai tubuh Teuku Ali Usuf hingga gugur di lokasi kejadian.

“Beliau meninggal demi mempertahankan tanah yang ia cintai,” kata Muhammad Hasbi.

Tak berhenti di situ, kisah pilu turut menyelimuti kepergian sang panglima. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, jasadnya sempat dibiarkan selama tiga hari tiga malam.

Kala itu, Belanda disebut mengancam akan memburu keturunannya apabila terbukti Teuku Ali Usuf merupakan putra asli Gampong Tinggi.

Karena alasan keselamatan kampung, tokoh masyarakat bersama Geuchik Nyak Husen kala itu disebut mengambil keputusan berat dengan menyatakan bahwa Teuku Ali Usuf bukan berasal dari wilayah tersebut.

Barulah setelah kondisi dianggap aman, jasadnya dimakamkan di kawasan persawahan Gampong Tinggi.

Pedang yang Masih Disimpan

Muhammad Hasbi mengaku, hingga kini keluarga masih menyimpan sebuah pedang yang diyakini sebagai peninggalan Teuku Ali Usuf.

“Peninggalan beliau hanya pedang yang saya simpan untuk dikenang. Jika pemuda seperti kalian ingin mengetahui sejarah beliau, saya akan menunjukkan kisahnya serta pedang ini sebagai tandanya,” ujarnya.

Bagi keluarga, pedang tersebut bukan sekadar benda pusaka, melainkan simbol perjuangan seorang pejuang Aceh yang rela mengorbankan hidup demi tanah kelahirannya.

Sementara itu, Syahrul Amin, intelektual muda dari PMII Aceh, menilai kisah Teuku Ali Usuf penting dikenalkan kepada generasi muda agar sejarah perjuangan lokal tidak hilang ditelan zaman.

“Meski namanya tidak sepopuler Teungku Cut Ali atau Panglima Rajo Lelo, perjuangan Teuku Ali Usuf tidak kalah besar. Ia rela mengorbankan kehidupan pribadinya demi kemerdekaan,” ujarnya.

Menurut Muhammad Hasbi, Teuku Ali Usuf juga disebut memiliki nazar untuk menikah ketika Aceh telah merdeka. Namun, cita-cita itu tidak pernah terwujud karena dirinya gugur di medan perjuangan.

Kisah Teuku Ali Usuf menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan penjajahan tidak hanya lahir dari tokoh-tokoh besar yang tercatat di buku sejarah, tetapi juga dari para pejuang lokal yang jejaknya masih hidup dalam ingatan masyarakat.

(Syahrul Amin,S.Sos/PMII Aceh)

Previous Post

[Opini] Anatomi Bocornya JKA: Menguras Kas Daerah, Menggugat Warisan Damai

Next Post

Plt Sekda Lepas Calon Jamaah Haji Abdya, Ini Pesan Amrizal

Next Post
Plt Sekda Lepas Calon Jamaah Haji Abdya, Ini Pesan Amrizal

Plt Sekda Lepas Calon Jamaah Haji Abdya, Ini Pesan Amrizal

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Kabut Asap Selimuti Pidie Jaya, Mahlil Desak Dinkes & RSUD Siaga 1

Kabut Asap Selimuti Pidie Jaya, Mahlil Desak Dinkes & RSUD Siaga 1

17/10/2026
Prodi SKI UIN Ar-Raniry Bersama BPK Aceh Kembali Terjunkan Mahasiswa dalam Meuseuraya di Komplek Makam Syiah Kuala

Prodi SKI UIN Ar-Raniry Bersama BPK Aceh Kembali Terjunkan Mahasiswa dalam Meuseuraya di Komplek Makam Syiah Kuala

17/10/2026
Murid SLBN Jantho Raih Medali Emas di Ajang PESONAS, Wakili Indonesia ke Ajang Internasional

Murid SLBN Jantho Raih Medali Emas di Ajang PESONAS, Wakili Indonesia ke Ajang Internasional

17/10/2026
Kabut Asap Melanda Aceh, Darwati: Kesehatan Warga Harus Jadi Prioritas

Kabut Asap Melanda Aceh, Darwati: Kesehatan Warga Harus Jadi Prioritas

17/10/2026
Dua Siswi MIN di Nagan Raya Raih Juara Lomba Bertutur Festival Literasi 2026

Dua Siswi MIN di Nagan Raya Raih Juara Lomba Bertutur Festival Literasi 2026

17/10/2026

Terpopuler

IMM Abdya dan Aliansi Masyarakat Tolak CA Kecam Kebijakan “Pinjam Manajemen” Kejari Abdya Untuk PT CA

IMM Abdya dan Aliansi Masyarakat Tolak CA Kecam Kebijakan “Pinjam Manajemen” Kejari Abdya Untuk PT CA

16/10/2026

Tgk Mansur Resmi Terpilih Sebagai Ketua MPU Abdya Masa Khidmat 2026-2031

Kisah Panglima Ali Usuf, Pejuang Kluet yang Gugur Melawan Belanda di Usia 35 Tahun

22 Nama Pengurus MPU Abdya Masa Khidmat 2026-2031 Diumumkan, Lulus Uji Kitab Kuning

Piala Soeratin U-17 Nasional, Persada Abdya vs Persebaya Imbang

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com