BANDA ACEH — Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat sebanyak 148 kejadian bencana terjadi di wilayah Aceh sepanjang periode Januari hingga Juli 2026. Berbagai kejadian tersebut tersebar di 21 kabupaten/kota, dengan dampak terhadap masyarakat, permukiman, hingga lingkungan.
Berdasarkan rekapitulasi data Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BPBA, kejadian bencana selama tujuh bulan tersebut meliputi kebakaran, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), banjir, angin puting beliung, banjir bandang, longsor, abrasi, dan gempa bumi.
Dari seluruh kejadian yang tercatat, kebakaran menjadi jenis bencana dengan frekuensi tertinggi, yakni sebanyak 61 kejadian, disusul karhutla sebanyak 37 kejadian, banjir 21 kejadian, serta angin puting beliung sebanyak 17 kejadian. Selain itu, tercatat enam kejadian banjir bandang, tiga longsor, dua abrasi, dan satu gempa bumi.
Aceh Besar Catat Kejadian Tertinggi
Sebaran kejadian menunjukkan bahwa Aceh Besar menjadi wilayah dengan jumlah kejadian bencana tertinggi selama periode Januari–Juli 2026, yakni sebanyak 26 kejadian.
Selanjutnya, masing-masing Lhokseumawe, Bener Meriah, dan Aceh Tengah mencatat 16 kejadian. Aceh Tenggara 14 kejadian, Aceh Barat 12 kejadian, Aceh Utara 9 kejadian, sementara Langsa, Banda Aceh, dan Gayo Lues masing-masing mencatat lima kejadian.
Kabupaten/kota lainnya yang turut mengalami kejadian bencana antara lain Pidie sebanyak empat kejadian, Nagan Raya empat kejadian, Pidie Jaya tiga kejadian, Bireuen tiga kejadian, Aceh Selatan dua kejadian, Sabang dua kejadian, Aceh Barat Daya dua kejadian, serta Aceh Jaya, Aceh Singkil, Subulussalam, dan Simeulue masing-masing satu kejadian.
Ribuan Warga Terdampak
Dampak bencana tidak hanya terlihat dari jumlah kejadian, tetapi juga dari jumlah masyarakat dan bangunan yang terdampak. BPBA mencatat sebanyak 1.353 kepala keluarga (KK) atau sekitar 4.315 jiwa terdampak bencana selama periode tersebut.
Selain itu, tercatat 992 jiwa mengungsi, sementara dampak terhadap rumah warga meliputi 249 unit rumah rusak berat, 105 unit rusak sedang, 153 unit rusak ringan, serta 307 unit rumah terdampak banjir.
Dalam periode yang sama, bencana juga menyebabkan satu orang meninggal dunia dan tiga orang mengalami luka-luka.
Kerugian Diprakirakan Rp112 Miliar
Dari berbagai kejadian bencana tersebut, prakiraan kerugian mencapai Rp112 miliar. Nilai tersebut mencerminkan besarnya dampak bencana terhadap masyarakat, permukiman, maupun aset dan aktivitas ekonomi di sejumlah wilayah Aceh.
Selain kerusakan bangunan, bencana kebakaran dan karhutla juga memberikan dampak terhadap lingkungan. Berdasarkan rekap BPBA, tercatat 364 hektare lahan terbakar selama periode Januari–Juli 2026.
Kondisi tersebut menjadi pengingat penting bagi seluruh pihak untuk memperkuat kesiapsiagaan, khususnya dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi dan kebakaran yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
BPBA Dorong Penguatan Kesiapsiagaan
Kepala Pelaksana BPBA Ir. Bahron Bakti, ST, MT menegaskan bahwa data kejadian bencana menjadi salah satu dasar penting dalam memperkuat upaya pencegahan dan kesiapsiagaan bencana di Aceh.
“Data kejadian bencana bukan hanya menjadi catatan, tetapi juga menjadi dasar dalam menentukan langkah mitigasi, meningkatkan kesiapsiagaan, serta memperkuat koordinasi penanganan bencana di seluruh wilayah Aceh,” ujar Bahron Bakti.
Menurutnya, tingginya kejadian kebakaran dan karhutla juga perlu menjadi perhatian bersama. Upaya pencegahan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan.
“Pencegahan harus dimulai dari kesadaran bersama. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan segera melaporkan setiap potensi bencana agar dapat ditangani sedini mungkin,” tambahnya.







