Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Opini

[Opini] Peu Haba Pidie;Sebuah Catatan Menyambut Hari Jadi Pidie ke-515

redaksi by redaksi
08/09/2026
in Opini
0
[Opini] Peu Haba Pidie;Sebuah Catatan Menyambut Hari Jadi Pidie ke-515

Oleh Muhammad Andri. Penulis adalah Fungsionaris Majelis Daerah KAHMI Pidie dan Alumni Perguruan Tinggi Islam Al-Hilal Sigli

“Peu haba”, begitu sapaan yang akrab di telinga masyarakat Aceh, diucapkan setiap kali berjumpa. Sapaan sederhana ini sebenarnya bukan hanya basa-basi, melainkan wujud kepedulian yang dijaga secara turun-temurun.

Pertanyaan itu kiranya pantas juga diarahkan kepada tanah kelahiran kita sendiri, menjelang hari jadi Pidie yang ke-515. “Peu Haba Pidie” hari ini, setelah lebih dari lima abad perjalanannya.

Peraturan Bupati Pidie Nomor 36 Tahun 2024 menetapkan 18 September 1511 Masehi sebagai hari jadi Kabupaten Pidie. Tanggal ini dipilih bukan tanpa alasan, melainkan hasil kajian Tim Perumus Hari Lahir Pidie tahun 2024, yang menandai masa ketika Kerajaan Pedir telah tumbuh menjadi kerajaan Islam yang mapan dengan pemerintahannya sendiri.

Cara ini berbeda dari kebanyakan daerah lain, yang biasanya memakai tanggal pembentukan administratif sebagai hari jadi. Pidie justru memilih titik ketika daerah ini mulai menjalankan pemerintahannya sendiri secara berdaulat. Artinya, yang diperingati bukan hanya tanggal lahir, melainkan kesadaran bahwa Pidie pernah berdiri sebagai pusat pemerintahan yang mandiri.

Kesadaran tersebut, sebagaimana Pasal 2 Perbup yang menetapkan enam asas sebagai landasan yakni “keislaman, ketertiban dan kepastian hukum, kearifan lokal, persatuan dan kesatuan, kedaulatan, dan kehormatan”. Keenam asas ini menjadi nilai penting yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi Pidie hari ini.

Pertanyaannya, apakah nilai-nilai itu masih terasa dalam wajah Pidie sekarang. Berdasarkan data BPS Kabupaten Pidie yakni “Kabupaten Pidie Dalam Angka 2026”, Kabupaten Pidie kini memiliki luas 3.184,46 km, terbagi dalam 23 Kecamatan dengan jumlah penduduk mencapai 456.942 jiwa, terdiri atas 227.933 laki-laki dan 229.009 perempuan.

Wilayah yang luas dan penduduk yang besar ini didukung oleh kekayaan alam yang beragam mulai dari sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, hingga kehutanan. Kesejahteraan masyarakat memang membaik pada tahun 2025, namun angka kemiskinan masih di atas rata-rata Provinsi. Ini bukan hanya angka, akan tetapi perihal yang perlu menjadi perhatian bersama.

Kabar baiknya, jalan menuju kesejahteraan itu sudah tersedia. Pidie memiliki banyak objek wisata, ditambah sektor pertanian dan perkebunan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Pidie. Nama besar Kerajaan Pedir sebagai pusat peradaban Islam juga bisa menjadi modal untuk mengembangkan wisata sejarah dan budaya.

Dengan perencanaan yang memadukan alam, sejarah dan infrastruktur, Pidie berpeluang tumbuh menjadi destinasi wisata unggulan di Aceh. Namun peluang ini hanya akan tetap jadi wacana jika tidak didukung oleh kebijakan yang konsisten.

Selain potensi wisata, Dayah di Pidie juga perlu mendapat perhatian yang lebih dari Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie. Karena Dayah sebagai warisan Pendidikan Islam yang sudah lama menjadi identitas, tempat nilai-nilai Keislaman dan kearifan lokal dijaga dan diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sejalan dengan itu, upaya penegerian Perguruan Tinggi Islam Al-Hilal Sigli menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) patut diapresiasi sebagai bukti bahwa pendidikan tinggi Islam di Pidie terus berkembang.

Pasal 6 angka 2 Perbup mengatur bahwa peringatan hari jadi Pidie dilakukan dengan, melakukan upacara, menggunakan pakaian adat Aceh dan menggunakan bahasa Aceh. Ketentuan ini patut diapresiasi sebagai upaya menjaga identitas lokal. Namun peringatan semacam ini tidak hanya berhenti pada seremoni tahunan saja, melainkan menjadi ruang evaluasi, sejauh mana nilai-nilai leluhur Pedir benar-benar hadir dalam kebijakan hari ini.

Jika hari jadi Pidie dimaknai sebagai “momentum sejarah awal pelaksanaan dan mulai berjalannya roda pemerintahan dan kegiatan pembangunan daerah di Kabupaten Pidie” (Pasal 1 angka 5 Perbup). Maka setiap 18 September harus menjadi momen refleksi, sejauh mana kemandirian itu dapat diterjemahkan menjadi ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat yang lebih merata.

Pada akhirnya, mari kita kembalikan pertanyaan tadi kepada diri kita sendiri, “Peu Haba Pidie”. Jawabannya, Pidie memiliki sejarah besar yang patut dibanggakan, namun perjalanan ke depan masih menanti kesejahteraan yang lebih merata bagi seluruh masyarakat Pidie.

Selamat menyambut Uroe Lahe Pidie ke-515. Semoga setiap “Peu Haba Pidie” ke depan selalu membawa haba get (kabar baik) bagi seluruh masyarakat Pidie. []

 

Previous Post

Belum Ada Titik Terang Tepal Batas Jeumpa dan Susoh, Warga Berbondong ke Kantor Bupati

Next Post

Dua Pelajar MTsN 1 Banda Aceh Juara Olimpiade Bahasa Arab Tingkat Provinsi, Jadi Wakil Aceh ke Nasional

Next Post
Dua Pelajar MTsN 1 Banda Aceh Juara Olimpiade Bahasa Arab Tingkat Provinsi, Jadi Wakil Aceh ke Nasional

Dua Pelajar MTsN 1 Banda Aceh Juara Olimpiade Bahasa Arab Tingkat Provinsi, Jadi Wakil Aceh ke Nasional

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Krak, Paripurna Tetapkan RUU Pemerintahan Aceh Jadi Usul Inisiatif DPR RI

Krak, Paripurna Tetapkan RUU Pemerintahan Aceh Jadi Usul Inisiatif DPR RI

08/09/2026
Kanwil Kemenag Aceh Pastikan OMI 2026 Lancar

Kanwil Kemenag Aceh Pastikan OMI 2026 Lancar

08/09/2026
Dua Pelajar MTsN 1 Banda Aceh Juara Olimpiade Bahasa Arab Tingkat Provinsi, Jadi Wakil Aceh ke Nasional

Dua Pelajar MTsN 1 Banda Aceh Juara Olimpiade Bahasa Arab Tingkat Provinsi, Jadi Wakil Aceh ke Nasional

08/09/2026
[Opini] Peu Haba Pidie;Sebuah Catatan Menyambut Hari Jadi Pidie ke-515

[Opini] Peu Haba Pidie;Sebuah Catatan Menyambut Hari Jadi Pidie ke-515

08/09/2026
Belum Ada Titik Terang Tepal Batas Jeumpa dan Susoh, Warga Berbondong ke Kantor Bupati

Belum Ada Titik Terang Tepal Batas Jeumpa dan Susoh, Warga Berbondong ke Kantor Bupati

08/09/2026

Terpopuler

November, Garuda Spark Hadir di Banda Aceh

November, Garuda Spark Hadir di Banda Aceh

06/09/2026

[Opini] Peu Haba Pidie;Sebuah Catatan Menyambut Hari Jadi Pidie ke-515

HIPMI dan Kapolres Abdya Sepakat Perkuat Iklim Usaha dan Investasi

Munawar Ibrahim Pimpin ICMI Pidie Jaya, Taqwaddin: Bukan Underbow Pemerintah

Bandara Soetta Ditutup, Pendaratan 382 Jemaah Umrah Dialihkan ke Aceh

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com