Oleh: Andri, Fungsionaris KAHMI Pidie
Ada foto-foto yang sekadar mengabadikan sebuah peristiwa.
Namun ada pula foto yang, bertahun-tahun kemudian, berubah menjadi penanda sebuah perjalanan.
Foto itu diambil di sebuah ruangan sederhana di Sigli, 13 Februari 2021. Kursi-kursi biru tersusun rapi. Di belakangnya terbentang spanduk oranye bertuliskan KORPS HMI-WATI (KOHATI) HMI CABANG SIGLI.
Hari itu, sebuah diskusi digelar dengan tema yang terdengar sederhana, tetapi menyentuh salah satu urat penting demokrasi: “Kepercayaan Masyarakat Terhadap Pengawas Pemilu.”
Di tengah ruang itu, seorang perempuan muda berdiri menjalankan perannya sebagai moderator.
Namanya Melati Sai Maisara.
Ketika itu, ia bukan hanya moderator. Ia adalah Ketua KOHATI HMI Cabang Sigli—seorang kader yang sedang menapaki jalan panjang kepemimpinan, tanpa seorang pun mungkin tahu sejauh apa langkah itu kelak membawanya.
—
Diskusi berlangsung. Gagasan bertukar. Pertanyaan dan jawaban mengalir.
Muhammad Andri, alumni HMI, hadir sebagai narasumber. Ia berbicara tentang demokrasi, pengawasan pemilu dan kepercayaan masyarakat—hal-hal yang pada akhirnya selalu bermuara pada satu persoalan: bagaimana menjaga kepercayaan publik terhadap proses demokrasi.
Tetapi di balik forum itu, ada cerita lain yang diam-diam sedang tumbuh.
Seorang kader perempuan sedang belajar memimpin.
Tidak dengan sorotan kamera televisi. Tidak dengan panggung nasional. Tidak dengan baliho besar yang memenuhi jalan.
Hanya sebuah forum kecil di Sigli.
Sebab kepemimpinan, barangkali, memang sering kali tumbuh dalam kesunyian sebelum akhirnya dikenal banyak orang.
—
Di penghujung acara, Melati menyerahkan sebuah piagam penghargaan kepada Muhammad Andri.
Ia mengenakan hijab hijau tosca, gamis hitam panjang dan gordon kebesaran organisasi. Di hadapannya, Andri menerima penghargaan dengan kemeja biru bermotif etnik dan celana krem.
Sebuah jabat tangan.
Sebuah piagam.
Sebuah senyum.
Dan sebuah kamera yang membekukan semuanya dalam satu bingkai.
Tidak ada yang istimewa jika dilihat sekilas.
Tetapi waktu memiliki cara sendiri untuk membuat sesuatu yang sederhana menjadi berarti.
—
Enam tahun kemudian, foto itu terasa seperti sebuah halaman lama yang kembali dibuka.
Melati tidak lagi hanya dikenal sebagai Ketua KOHATI di sebuah cabang.
Namanya kini melangkah menuju panggung yang lebih luas sebagai bakal calon Ketua Umum KOHATI PB HMI.
Jarak antara dua peristiwa itu tidak hanya diukur oleh tahun.
Ia diukur oleh pengalaman, proses, kegagalan, keberanian, perjumpaan dengan banyak gagasan, dan perjalanan panjang seorang kader perempuan dalam organisasi.
Dari Sigli ke panggung nasional.
Dari sebuah ruangan dengan kursi-kursi biru menuju arena yang jauh lebih besar.
Tetapi ada sesuatu yang tidak berubah: jejak awal itu tetap berada di sana.
Di Sigli.
—
Barangkali perjalanan seorang manusia memang seperti bunga.
Ia tidak langsung mekar.
Ada tanah tempat ia pertama kali ditanam. Ada hujan yang datang tanpa diminta. Ada panas yang harus dilewati. Ada waktu panjang ketika pertumbuhannya bahkan tidak terlihat.
Kemudian, suatu hari, ia mekar.
Dan orang-orang baru menyadari bahwa bunga itu telah tumbuh cukup lama.
Melati adalah nama yang kebetulan sekaligus menjadi metafora.
Bunga kecil yang dikenal karena kesederhanaan aromanya, tetapi mampu meninggalkan jejak yang kuat.
Begitu pula sebuah perjalanan kepemimpinan.
Ia tidak selalu dimulai dari tempat yang gemerlap.
Kadang ia tumbuh dari sebuah sekretariat kecil, forum diskusi sederhana, rapat yang berlangsung hingga malam, lembar-lembar gagasan, dan keberanian seorang kader untuk berdiri paling depan ketika tanggung jawab datang.
—
Foto tahun 2021 itu akhirnya bukan sekadar foto.
Ia menjadi arsip kecil tentang sebuah awal.
Tentang seorang perempuan yang ketika itu mungkin belum mengetahui ke mana perjalanan organisasi akan membawanya.
Tentang sebuah kota kecil bernama Sigli yang pernah menjadi ruang tumbuh.
Dan tentang waktu yang perlahan membuka halaman demi halaman.
Kini, ketika nama Melati kembali muncul dalam percakapan tentang masa depan KOHATI di tingkat nasional, foto lama itu menemukan makna barunya.
Ia seperti bisikan dari masa lalu:
bahwa panggung besar selalu memiliki cerita tentang panggung kecil tempat seseorang pertama kali belajar berdiri.
Bahwa sebelum seseorang dikenal luas, ada tempat yang lebih dahulu percaya kepadanya.
Dan bahwa setiap langkah yang terlihat besar hari ini, hampir selalu memiliki langkah pertama yang sederhana.
Melati memulainya dari Sigli.
Di sana, ia pernah berdiri di antara kursi-kursi biru, memandu sebuah diskusi, menyerahkan sebuah piagam, lalu pulang seperti biasa.
Waktu kemudian berjalan.
Dan kini, bunga itu sedang menuju ruang yang lebih luas untuk kembali mekar.
Melati yang mekar dari Sigli.









