BENER MERIAH – Tidak semua santri memiliki keberanian untuk naik ke mimbar Jumat di kampung halamannya sendiri, di hadapan tetangga dan keluarga yang mengenalnya sejak kecil. Namun, keberanian itu ditunjukkan dua santri kelas 6 KMI Pesantren Modern Al Zahrah pada Jumat (18/9/2026).
Mereka adalah Riski Aldi Fahri dan Nofri Dian Prasetia. Keduanya dipercaya menjadi khatib Jumat di dua masjid berbeda di Kabupaten Bener Meriah.
Riski Aldi Fahri, santri kelas 6A KMI, tampil di Masjid Fajar Islam, Desa Taman Firdaus, Kecamatan Pintu Rime Gayo. Di hadapan sekitar 50 jamaah, ia membawakan khutbah bertema “Menyambut Kelahiran Nabi Muhammad saw”.
Dalam khutbahnya, Aldi menyampaikan bahwa kelahiran Rasulullah saw. adalah rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya bagi umat Islam. Ia juga mengajak jamaah untuk meneladani suri teladan Rasulullah melalui Al-Qur’an dan hadis.
Momen tersebut menjadi pengalaman pertama bagi Aldi. Ia mengaku maju atas inisiatif pribadi.
“Ini khutbah Jumat pertama saya. Alhamdulillah, setelah selesai banyak jamaah yang mengapresiasi. Bahkan, saya diminta untuk tampil lagi dan dibuatkan jadwal khusus,” ujar putra pertama pasangan Satudin dan Megawati tersebut.
Menurut Aldi, keberanian itu merupakan hasil tempaan selama mondok di Al Zahrah.
“Sejak kelas 1 KMI kami sudah dilatih muhadarah. Menjelang kelas akhir, kami mendapat bimbingan khusus khutbah Jumat dari para ustaz,” tuturnya.
Di lokasi berbeda, Nofri Dian Prasetia menjalankan tugas serupa di Masjid Ilham, Blang Paku, Kecamatan Wih Pesam. Ia mengangkat tema tegas, yakni “Hal-Hal yang Dibenci Allah”.
Dalam khutbahnya, Nofri menjelaskan tiga sifat yang dibenci Allah, yaitu sombong karena harta yang dapat menjauhkan diri dari Allah, fasik yang mengaku beriman, tetapi perilakunya tidak mencerminkan keimanan, serta kikir karena mencintai harta secara berlebihan.
Putra dari pasangan Asyar dan Susilawati ini pun mengaku baru pertama kali tampil sebagai khatib Jumat.
“Melalui mimbar ini, saya berharap bisa membawa nama harum Pesantren Al Zahrah lebih baik lagi di mata masyarakat,” ungkap santri yang hobi bermain bola itu.
Sementara itu, Imam Besar Masjid Ilham menyambut baik kehadiran Nofri sebagai putra daerah yang tampil di mimbar Jumat. Kehadirannya diharapkan dapat menjadi motivasi bagi anak muda lain di desa tersebut.
Pimpinan Pesantren Modern Al Zahrah, Dr. Tgk. H. M. Fadhil Rahmi, Lc., M.Ag., menyampaikan apresiasi atas kepercayaan masyarakat kepada santrinya.
“Kami bersyukur dan bangga. Inilah buah pendidikan di Al Zahrah. Sejak kelas 1 KMI mereka kami didik muhadarah, latihan khutbah, dan praktik dakwah. Tujuannya agar lulusan Al Zahrah tidak hanya alim, tetapi berani tampil dan bermanfaat di masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan, praktik khutbah Jumat bagi santri putra dan tausiah bagi santri putri kelas akhir merupakan kurikulum wajib sekaligus syarat kelulusan sebagai bekal pengabdian.
“Kami tidak ingin lulusan Al Zahrah hanya pintar di pondok, tetapi gagap di masyarakat. Khutbah ini adalah ujian mental dan spiritual. Ketika santri berani maju di kampungnya sendiri, itu tanda pendidikan karakter berhasil,” pungkasnya.









