BIREUEN – Sebanyak 46 santri kelas akhir Pesantren Modern Al Zahrah mengikuti bimbingan intensif Tajhizul Mayit sebagai bekal pengabdian di tengah masyarakat.
Bimbingan yang berlangsung di Aula Mini pesantren, Kamis (01/10/2026), itu dipandu oleh ahli fardhu kifayah, Tgk. Nasruddin, asal Desa Beunyot, Kecamatan Juli. Kegiatan tersebut disaksikan langsung oleh Pimpinan Pesantren, Dr. Tgk. H. M. Fadhil Rahmi, Lc., M.Ag.
Pimpinan Pesantren menegaskan, keterampilan mengurus jenazah merupakan pembeda utama lulusan pesantren dan menjadi bekal yang sangat dibutuhkan masyarakat.
“Praktik pengurusan jenazah adalah bekal yang sangat penting bagi santri nantinya. Sebagai lulusan pesantren, para santri tidak hanya memiliki keterampilan ilmu umum, tetapi juga ilmu praktis yang sangat dibutuhkan di masyarakat. Kegiatan ini telah lama menjadi program wajib di pesantren dan alhamdulillah dampaknya sangat dirasakan,” ujar Dr. Fadhil Rahmi.
Sementara itu, Direktur KMI Al Zahrah, Ustaz Munawar, S.Pd., menjelaskan bahwa bimbingan ini merupakan rangkaian ujian akhir yang dilaksanakan secara berjenjang.
Tahapan diawali dengan bimbingan teori, kemudian santri diberi waktu satu minggu untuk mengulang dan menghafal materi. Setelah itu, seluruh santri putra dan putri wajib mengikuti ujian lisan satu per satu untuk memastikan penguasaan doa-doa fardhu kifayah dari awal hingga akhir, mulai dari doa memandikan mayat, doa memotong kain kafan, dan tata cara mengkafaninya.
Selanjutnya, santri yang lulus ujian lisan akan mengikuti ujian puncak berupa praktik lengkap mengurus jenazah, meliputi memandikan, mengkafani, menyalatkan, hingga menguburkan sesuai syariat Islam.
Menurut Munawar, ilmu ini tergolong langka, namun hukumnya fardhu kifayah.
“Praktik penyelenggaraan jenazah hari ini menjadi bekal ilmu yang langka dipelajari oleh kebanyakan orang, padahal ini kewajiban kolektif. Dengan bekal ini, minimal santri dapat membantu keluarga yang tertimpa musibah dan masyarakat secara umum,” pungkasnya.









