BANDA ACEH — “Hilirisasi sektor pertambangan menjadi langkah strategis yang harus didorong di Aceh,”.
Hal tersebut diutarakan Prof. Dr. Rustam Effendi, SE, M.Econ, CFRM, CHRA, CIFA, Guru Besar Bidang Ilmu Makroekonomi Internasional di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, Jum’at (09/10/2026).
Menurutnya, ada beberapa manfaat besar yang akan diperoleh daerah jika program hilirisasi ini berjalan.
Pertama, meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk. Produk yang dijual ke pasar akan jauh lebih bernilai (mahal) karena sudah memiliki nilai tambah, dibanding menjualnya dalam bentuk bahan mentah (raw materials). Daya saing produk hasil hilirisasi di pasaran akan jauh lebih tinggi.
“Struktur pasar untuk produknya juga akan terhindar dari tekanan pihak pembeli. Kita sebagai pemilik produk bisa lebih menentukan pasar. Barang-barang yang dijual dalam bentuk bahan mentah umumnya terperangkap dalam struktur pasar oligopsoni, di mana hanya ada beberapa pembeli saja,” ungkap Prof. Dr. Rustam Effendi.
Kedua, membuka lapangan kerja yang lebih luas. Hilirisasi dipastikan dapat membuka lapangan kerja yang lebih luas. Aktivitas pengolahan, pergudangan, pengangkutan, hingga aktivitas industri pendukung akan tumbuh dan berkembang, termasuk tumbuhnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di sekitar lokasi aktivitas hilir tersebut.
Hal ini tidak hanya membuka lapangan pekerjaan yang berkaitan langsung dengan pabrik yang membutuhkan tenaga terampil, tetapi juga ke lapangan lain yang sifatnya semi skill (setengah terampil) dan bahkan un-skill (tidak terampil).
“Terciptanya lapangan kerja dengan hilirisasi sektor tambang di Aceh amat bermakna, apalagi jika dikaitkan dengan tingginya angka pengangguran terbuka saat ini. Hilirisasi akan dapat membantu meminimalisir jumlah penganggur. Fakta bahwa yang kini banyak menganggur juga adalah para lulusan perguruan tinggi, salah satunya disebabkan minimnya investasi swasta yang masuk ke daerah ini,” terangnya.
Ketiga, memperluas rantai ekonomi daerah. Hilirisasi juga penting karena rantai ekonominya bisa lebih luas. Dengan begitu, putaran ekonomi juga bisa lebih lama. Jika ini berlangsung dengan lancar tentu dapat menambah pemasukan pajak dan retribusi bagi daerah.
Keempat, potensi Aceh sangat besar. Potensi besar yang dimiliki Aceh di sektor tambang sangat besar. Selain migas (minyak dan gas), daerah ini juga dianugerahi banyak mineral logam seperti emas, batubara, tembaga, bijih besi, pasir besi dan mineral non logam lainnya.
“Tentu, tidak mudah untuk mengembangkan program hilirisasi ini. Kenapa demikian, pertama, Aceh harus menciptakan iklim investasi yang mampu menarik minat investor. Perlu upaya yang serius dan fokus agar daerah ini punya daya tarik. Tidak cukup hanya dengan ikhtiar pemerintah daerah saja. Peran dari semua elemen masyarakat dan kalangan dunia usaha termasuk alim ulama dan tokoh masyarakat sangat dibutuhkan,” urainya
Kedua, lanjut Rustam Effendi. Komitmen untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan juga penting dijaga. Pengawasan terhadap aktivitas rantai ekonomi harus dilakukan secara sungguh-sungguh.
“Pemerintah daerah juga harus menyediakan dana kompensasi secara khusus terutama untuk mendanai kerja-kerja yang berkaitan langsung dengan upaya menjaga lingkungan di sekitar aktivitas hilir tersebut agar tetap lestari, nyaman, dan tetap menjamin keberlangsungan kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya,” pungkas Prof. Dr. Rustam Effendi.










