Jakarta – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menegaskan Rusia bertanggung jawab atas perang di negaranya tak lama setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyarankan Ukraina mengganti pemimpin.
Zelensky juga menegaskan akan melanjutkan serangan terhadap kilang minyak Rusia meski Trump menyalahkannya atas tingginya harga solar di AS.
“Ukraina akan siap berhenti menyerang kilang minyak Rusia jika Rusia berhenti menyerang infrastruktur energi kami,” tulis Zelensky di X, Minggu (11/10), dikutip dari AP News.
Menurut Zelensky, serangan terhadap infrastruktur energi bisa dihentikan segera, tetapi Presiden Rusia Vladimir Putin tidak menginginkannya.
Ia menekankan setiap upaya meredakan konflik harus dilakukan secara timbal balik dan disertai jaminan nyata.
Pernyataan itu muncul setelah Trump pada Sabtu (10/10) menyebut sudah waktunya Ukraina memiliki presiden baru. Trump menilai Zelensky belum berbuat cukup untuk mengakhiri perang.
“Saya menyarankan mereka mencari pemimpin baru yang bisa membuat kesepakatan karena dia sebenarnya bisa membuat banyak kesepakatan, tetapi entah mengapa dia tidak pernah melakukannya,” kata Trump.
Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha turut menanggapi pernyataan tersebut. Ia menegaskan Zelensky memimpin negaranya dalam perang mempertahankan kemerdekaan dan mendapat dukungan rakyat Ukraina.
Menurut Sybiha, rakyat Ukraina memiliki hak untuk menentukan pemimpinnya sendiri.
Pada Jumat (9/10) , Trump mencapai kesepakatan dengan Putin untuk membeli solar dari Rusia. Langkah itu ditujukan untuk mengatasi tingginya harga bahan bakar menjelang pemilu paruh waktu AS.
Selama beberapa pekan, Trump telah mendesak Zelensky menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia.
Trump tampak berupaya menyalahkan Ukraina atas rekor harga solar di AS, alih-alih perang yang dipimpin AS di Iran yang telah mendorong kenaikan harga energi dunia.
Pejabat Ukraina dan Eropa menyayangkan kesepakatan pembelian solar tersebut karena menilai pendapatannya akan membantu membiayai perang Rusia.
Di tengah konflik itu, Ukraina melanjutkan serangan terhadap infrastruktur jauh di dalam wilayah Rusia.
Serangan drone pada Minggu (11/10) menghentikan operasional pusat data perusahaan teknologi Yandex di Vladimir, sebelah timur Moskow. Serangan tersebut menjadi yang ketiga terhadap fasilitas Yandex dalam empat hari.
Yandex Cloud menyatakan infrastruktur pusat datanya rusak dan operasional dihentikan sepenuhnya.
Menurut media independen Rusia, Astra, gangguan meluas ke berbagai layanan Yandex. Pengguna di puluhan kota Rusia serta Kazakhstan, Belarus, dan Armenia dilaporkan kesulitan memesan taksi atau mengakses layanan perbankan.










