IDI – Hujan deras menyebabkan dua kecamatan di Kabupaten Aceh Timur, yakni Pante Bidari dan Simpang Jernih, dilanda banjir akibat luapan sungai dan hunian tetap (huntap) di Simpang Jernih turut terendam.
Kepala Desa Pante Kera Sabilah di Aceh Timur, Senin, mengatakan hujan deras mengguyur wilayah Simpang Jernih sejak Minggu (11/10) pukul 04.00 WIB hingga Senin dini hari sekitar pukul 01.30 WIB.
“Akibatnya, air menggenangi permukiman. Sekitar pukul 02.30 WIB, ketinggian air sudah mencapai satu meter. Saat ini masyarakat mengungsi ke tempat yang lebih tinggi,” katanya,
Ia mengatakan sebanyak 69 kepala keluarga (KK) terpaksa meninggalkan rumah dan mengungsi ke tempat sanak saudara maupun ke kawasan permukiman yang lebih tinggi.
Meski air mulai surut, sebagian warga belum kembali ke rumah karena sejumlah bagian permukiman masih tergenang.
“Sebagian masyarakat sudah kembali, tetapi belum semuanya karena air masih merendam permukiman, meskipun tidak seluruhnya,” ujarnya.
Di Kecamatan Pante Bidari, luapan Daerah Aliran Sungai (DAS) Jambo Aye menggenangi belasan rumah warga di Gampong Blang Seunong dan Pante Labu. Ketinggian air di permukiman dilaporkan mencapai sekitar 50 centimeter.
Debit air yang meningkat juga berdampak pada aliran Sungai Arakundo. Kondisi ini diperparah dengan sejumlah tanggul di bantaran sungai yang sebelumnya telah rusak, sehingga air lebih mudah masuk ke permukiman warga.
“Sampai sekarang ada belasan rumah yang mulai tergenang,” kata Saiful, warga Blang Seunong.
Warga setempat mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan bertambahnya debit air jika hujan kembali turun.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kabupaten Aceh Timur Syahrizal Fauzi mengatakan pihaknya masih mendata jumlah warga yang terdampak banjir di kedua kecamatan tersebut.
“Kami masih berkoordinasi dan terus melakukan pemantauan. Untuk data warga terdampak masih dalam pendataan,” kata Syahrizal.
BPBD Aceh Timur juga terus berkoordinasi dengan pihak kecamatan untuk mengetahui kondisi warga terdampak serta kebutuhan masyarakat yang masih berada di lokasi pengungsian.










