Jakarta – Mantan kepala badan keamanan dalam negeri Israel Shin Bet, Ronen Bar, menggugat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu atas pencemaran nama baik terkait kasus serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Bar mengatakan Netanyahu telah mencemari namanya dengan mengaku tak menerima informasi darinya selaku kepala Shin Bet saat itu.
Padahal, Bar telah menelepon sekretaris militer Netanyahu Avi Gil ketika ia mengendus tanda-tanda akan terjadi serangan. Ia mengaku tak menelepon langsung sang PM karena tidak memiliki nomornya.
Dia kini menuntut ganti rugi sebesar tiga juta shekel (sekitar Rp17 miliar) dari Netanyahu.
“Netanyahu telah membuat tuduhan yang dia ketahui palsu, dengan tujuan mengalihkan perdebatan dari tanggung jawabnya sendiri atas peristiwa 7 Oktober,” kata Bar, seperti dikutip AFP. Bar juga menyebut kebijakan-kebijakan Netanyahu selama beberapa tahun terakhir justru yang meningkatkan bahaya teroris di Gaza.
Netanyahu telah merespons gugatan Bar dalam sebuah pernyataan yang dirilis partainya, Likud.
“Ronen, Anda serius? Anda punya nomor saya di saluran utama dan bisa langsung menghubungi saya, seperti yang dilakukan semua kepala keamanan,” kata Netanyahu.
“Berapa banyak nyawa yang bisa kita selamatkan jika saja Anda menelepon tepat waktu?” ujarnya lagi.
Bar mengundurkan diri sebagai kepala Shin Bet pada Juni 2025 di tengah kecaman publik atas kegagalan negara dalam mengantisipasi serangan Hamas. Serangan yang menewaskan 1.221 orang tersebut merupakan yang paling mematikan dalam sejarah Israel.
Gugatan Bar ini muncul beberapa hari setelah Avi Gil mengatakan kepada Channel 12 bahwa kantor Netanyahu telah “memalsukan catatan terkait 7 Oktober 2023”. Ia blak-blakan mengaku telah diperintah oleh stenografer kantor PM untuk mengubah waktu rekaman panggilan penting yang berdurasi empat menit dari pukul 06.40 pagi menjadi pukul 06.29 pagi.
Gil, yang menjabat sebagai sekretaris militer Netanyahu dari Juli 2021 hingga Mei 2024, mengaku bahwa perintah itu disampaikan pada Januari 2024.
“Dia memberi tahu saya bahwa saya tidak diizinkan untuk mengubahnya. Itu adalah fakta,” kata Gil.
Gugatan Bar dan pengakuan Gil ini muncul menjelang pemilihan umum (pemilu) Israel pada 27 Oktober mendatang. Jajak pendapat terbaru menunjukkan popularitas Netanyahu dan partainya anjlok, terutama karena kritik soal serangan Hamas dan pengecualian pria ultra-Ortodoks dari program wajib militer.










![Almarhum Budi Azhari dan Candaan yang ‘Hilang’ di Darussalam [Bagian 1]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-14-at-13.04.57-350x250.jpeg)