Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Internasional

Larangan Ceramah Zakir Naik dan Sejarah Ketegangan Etnis Malaysia

Saiful Haris Arahas by Saiful Haris Arahas
22/08/2019
in Internasional
0

KUALA LUMPUR – Pemerintah Malaysia melarang Zakir Naik berceramah di seluruh negara bagian. Sebagaimana diwartakan Malay Mail, larangan tersebut dikeluarkan terkait ceramahnya tentang umat Hindu di Malaysia.

Pemerintah menilai Zakir mengganggu keamanan nasional. “Perintah sudah diberikan kepada semua kepolisian. Ini dilakukan untuk kepentingan keamanan nasional dan untuk menjaga keharmonisan ras,” kata Humas Kepolisian Malaysia, Datuk Asmawati Ahmad.

Dalam ceramahnya, Zakir mengatakan umat Hindu di Malaysia memiliki “hak 100 kali lipat lebih banyak” ketimbang minoritas muslim di India. Ia juga menyebut orang-orang Tionghoa sebagai tamu di Malaysia, tulis South China Morning Post.

Tak lama setelah ucapannya jadi kontroversi, Zakir segera meminta maaf kepada publik. Meski begitu, ia bersikeras ia bukan seorang rasis.

“Bukan niat saya untuk memancing kemarahan perorangan atau masyarakat,” ungkapnya dalam pernyataan resmi, Selasa (20/8/2019). “Itu bertentangan dengan prinsip dasar Islam, dan saya ingin menyampaikan permintaan maaf saya yang tulus atas kesalahpahaman ini.”

Idola yang Dicerca

Malaysia menambah daftar negara yang melarang aktivitas ceramah Zakir, setelah Kanada, Bangladesh, dan India—tempat kelahirannya. Negara-negara ini punya alasan yang sama ketika melarang Zakir masuk: materi ceramahnya Zakir provokatif dan berpotensi merusak kerukunan masyarakat atau menginspirasi terorisme.

Zakir sendiri, catat Darshini Kandasamy dalam “Malaysia Can’t Decide if Zakir Naik Is a Preacher or a Terrorist” yang terbit di Foreign Policy (2018), pertama kali datang ke Malaysia pada 2012, sebelum akhirnya menetap empat tahun kemudian, setelah pemerintah India melakukan penyelidikan atas kasus-kasus seputar ceramahnya.

Di Malaysia, Zakir tinggal di sebuah kondominium yang berlokasi di tepi danau di Putrajaya. Sejak awal, ia menjalin hubungan dekat dengan mantan pejabat federal, negara bagian, serta sejumlah ulama lokal. Inilah yang lantas membuat Zakir mudah memperoleh izin menetap sebab ia dipandang “punya kontribusi penting bagi perkembangan Islam di Malaysia”.

Bahkan, saking istimewanya, Zakir sempat ditawari tiga pulau di Trengganu, salah satu negara bagian di Malaysia yang dikenal cukup konservatif.

Materi ceramah Zakir tak bisa dipungkiri telah disambut jutaan muslim di seluruh dunia, termasuk di Malaysia. Bagi sebagian pengikutnya yang paling militan, Zakir adalah pendakwah yang menyampaikan petuah agama secara lurus.

Pemerintah Malaysia belakangan menghadapi dilema. Niat untuk mendeportasi Zakir, karena kasus-kasusnya, kerap terbentur pembelaan dari masyarakat yang—sekali lagi—memuja Zakir. Mempersempit ruang gerak Zakir akhirnya dilakukan pemerintah.

Masalah Etnis Adalah Api dalam Sekam

Pemerintah Malaysia menganggap materi ceramah Zakir membahayakan kerukunan antar-etnis. Ketakutan pemerintah sebetulnya beralasan karena hubungan antar-etnis di Malaysia sangat rentan dan bisa meledak kapan saja.

Jessica Ong Hai Liaw dan Ahmad Azan Ridzuan dalam “Malaysia: Ethnic Issues and National Security” yang dipublikasikan International Journal of Humanities and Social Science (PDF, 2015) menjelaskan konflik etnis di Malaysia sebagai warisan masa kolonialisme Inggris dan pendudukan Jepang.

Pada masa penjajahan, masyarakat dibagi berdasarkan pranata sosial dan ekonomi. Dari segi ekonomi, misalnya, Inggris menempatkan orang Melayu di sektor pertanian yang identik dengan kerja-kerja kasar. Orang-orang Cina diarahkan ke perdagangan. Sementara orang India dipekerjakan sebagai petani di perkebunan karet dan kelapa sawit.

Pembagian kerja tersebut punya andil menciptakan kesenjangan pendapatan antar-etnis. Rata-rata orang Melayu dan India miskin jika dibandingkan orang Cina. Ketimpangan ini perlahan menyebabkan ketidakpuasan antar-etnis. Imbasnya, masing-masing kelompok berupaya keras untuk mempertahankan kepentingan ekonominya, sebuah proses yang mempersempit interaksi sekaligus memperdalam jurang konflik.

Etno-nasionalisme yang muncul di era pra-kemerdekaan semakin memperburuk hubungan rasial. Orang-orang Melayu memelihara pandangan negatif terhadap non-Melayu.

Usai negara Malaysia modern terbentuk pada 31 Agustus 1957, prangka antar-etnis bertambah tajam, kali ini dengan bumbu agama. Statistik mencatat, mayoritas penduduk Malaysia berasal dari etnis Melayu, yang sekitar 98,8 persen-nya beragama Islam. Dengan kata lain, mayoritas. Sejak itu, muncul kepercayaan (yang disokong negara) bahwa muslim adalah Melayu dan Melayu adalah muslim. Orang yang masuk Islam otomatis akan dipandang sebagai Melayu, sementara orang Melayu yang keluar dari Islam, tak lagi dianggap Melayu.[]

Sumber: Tirto.id

Tags: zakir naik
Previous Post

Tokoh GAM Linge Meninggal Dunia

Next Post

Polisi Gagal Lindungi Orang Papua

Next Post

Polisi Gagal Lindungi Orang Papua

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Bukan Sekadar Workshop, Ekraf Tantang Gayo Lues Mengubah Ide Menjadi Nilai Ekonomi

Bukan Sekadar Workshop, Ekraf Tantang Gayo Lues Mengubah Ide Menjadi Nilai Ekonomi

21/09/2026
Aceh Tengah Kembali Dilanda Banjir Bandang dan Tanah Longsor

Menteri Dody: Sudah tidak Ada Lagi Daerah Terisolir di Aceh

21/09/2026
Bupati Aceh Timur Minta Edukasi Batas Wilayah Laut Diperkuat

Bupati Aceh Timur Minta Edukasi Batas Wilayah Laut Diperkuat

21/09/2026
Illiza Tutup Banda Aceh Colossal Coffee Experience di Blang Padang

Illiza Tutup Banda Aceh Colossal Coffee Experience di Blang Padang

21/09/2026
Pemko Banda Aceh Gelar Pekan Dakwah Kolaborasi

Pemko Banda Aceh Gelar Pekan Dakwah Kolaborasi

21/09/2026

Terpopuler

Produktivitas Padi Abdya Tembus 10,2 Ton per Hektare, Bukti Keberhasilan Penyuluh dan Petani

Produktivitas Padi Abdya Tembus 10,2 Ton per Hektare, Bukti Keberhasilan Penyuluh dan Petani

19/09/2026

Larangan Ceramah Zakir Naik dan Sejarah Ketegangan Etnis Malaysia

PKB Pidie Jaya Pasang Target Agresif: Satu Dapil Satu Kursi

Atlet Anggar Abdya Tembus Kejuaraan Internasional di Thailand, KONI Beri Apresiasi

Penambang Kabur, 93 Gelondongan PETI Disikat Aparat di Geumpang

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com