BEBERAPA remaja usia MTs terlihat berlari menuju mushala. Mereka memakai baju gamis serta peci putih.
Ada sajadah di tangan masing-masing.
Jalan menuju mushala sedikit menurun. Tanahnya licin. Bila tak menjaga keseimbangan maka akan jatuh tersungkur ke tanah.
Namun para remaja itu terlihat lihai. Mereka hafal benar setiap tanjakan di sana.
Mereka memasuki mushala dengan aman. Di sana, mereka bergabung dengan beberapa pria dewasa serta membentuk shaf rapi.
Saat itu langit mulai gelap. Hawa dingin mulai menusuk tubuh.
Seorang pria dewasa bangun dari tempat duduk dan mengumandangkan azan sebagai petanda jadwal salat magrib tiba.
Alunan azan terdengar merdu.
Dalam hitungan menit, mushala kecil di komplek tersebut mulai dipenuhi jamaah. Usai salat, jamaah melanjutkan dengan zikir bersama dan shalawat nabi.
Semua jamaah mengikutinya dengan tertib hingga selesai.
“Dari pat?” tanya seorang pria muda usai jamaah bubar kepada tim atjehwatch.com yang berkunjung ke sana pada awal Maret 2021 lalu.
Ia memperkenalkan diri sebagai salah satu pengajar di sana.
Pria ini mengaku berasal dari Sumatera Utara tapi sudah lama menetap di sana. Ia mengajar dan mengabdi di sana sebagai guru.
“Kalau bahasa Aceh, saya belajar dari Teungku Organik,” kata dia.
Nama yang disebut itu adalah salah seorang pendiri dayah yang sedang dikunjungi oleh atjehwatch.com.
Pesantren atau dayah tersebut bernama Dayah Radhatul Jihad. Dayah ini berdiri sejak 20 Mei 2009 lalu.
Tak berapa lama, pria yang disapa dengan sebutan Teungku Organik merapat dan duduk bersama. Pria itu berwajah khas Gayo tapi lancar berbahasa Aceh.
Sosok ini cenderung pendiam. Perawakannya kecil tapi sangat bersahaja. Namanya dielus-elus para teungku dan santri Dayah Radhatul Jihad, Desa Cinta Maju, Kecamatan Blang Pegayon, Kabupaten Gayo Lues.
Nama aslinya adalah Martunis.

“Saya dipanggil Teungku Organik karena memang aslinya dari Gayo Lues. Saya pasukan GAM yang berasal dari Gayo Lues. Makanya kawan-kawan seperjuangan memanggil saya Organik, Teungku Organik,” ujar Teungku Organik.
Teungku Organik bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sejak akhir 2000. Sebelumnya, dia sempat mondok di salah satu pesantren di Aceh Tenggara selama 3 tahun.
Selama di GAM, pria kelahiran 15 April 1987 ini bergerilya dari hutan ke hutan.
“Selama di hutan, saya sadar bahwa kunci perjuangan adalah pendidikan. Kunci kesejahteraan negeri adalah pendidikan. Makanya saya bercita-cita membangun dayah jika suatu saat Aceh damai,” ujar Martunis.
Usai penandatangan MoU Helsinki, Teungku Organik mengaku kembali turun gunung dan menjalankan aktivitas seperti biasa.
“Saya mengumpulkan sejumlah tengku-teungku dan mulai menggagas dayah. Namun baru pada 20 Mai 2009, Dayah Radhatul Jihad mampu didirikan. Namun dayah itu sendiri sudah saya pikirkan sejak dalam hutan,” kata ayah dua anak ini.
Awalnya, kata Teungku Organik, dayah ini hanya memiliki beberapa bangunan semi permanen. Bangunan tersebut merupakan sumbangan warga.
Kemudian dibantu oleh Pemerintah Aceh semasa kepemimpinan Doto Zaini dan Mualem hingga akhirnya beberapa gedung berlantai 2 berdiri.
“Tahun-tahun selanjutnya, bangunan lain berdiri. Baik bantuan dari Pemkab Gayo Lues hingga Pemerintah Aceh. Alhamdulillah sekarang jauh lebih baik,” kata Teungku Organik.
Selain ruang belajar, ada juga asrama, mushala hingga dapur di sana. Para santri mengikuti pendidikan umum dari pagi hingga sore hari. Kemudian berlanjut dengan pendidikan agama hingga malam hari.
“Saya berharap santri dayah ini bisa jadi pemimpin Aceh kedepan,” katanya.
Kini, setelah hampir 10 tahun lebih, Dayah Radhatul Jihad berkembang dengan pesat.
Ada 354 santri yang sedang belajar di dayah tersebut. Sementara jumlah pengajar mencapai 37 orang. Mayoritas pengajar berasal dari dayah terkemuka di Sumatera Utara.
Para santri, rata-rata berasal dari keluarga tak mampu. Alumni dayah mencapai ribuan orang.
Teungku Organik sendiri kini dipercayakan sebagai Wakil Pimpinan Dayah Radhatul Jihad.
Sementara itu, Teungku Slamet, pimpinan dayah setempat, menambahkan bahwa dirinya berharap dayah ini benar-benar menjadi berkembang sesuai dengan harapan dan cita-cita para pendiri.
“Dengan demikian, ruh Islam bisa membumi di Gayo Lues,” katanya. [Advertorial]
Tulisan ini merupakan hasil kerjasama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh dengan atjehwatch.com dalam rangka promosi wisata islami (dayah) di Aceh.











