Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Cerbung

Wasiet (79)

Admin1 by Admin1
16/04/2020
in Cerbung
0
Wasiet (65)

BERGERAK sekitar 50 meter, seperti yang disampaikan Ridwan, Teungku Fiah dan Mustafa disambut oleh Lemha di salah satu rumah warga.

“Aku sudah lama menanti kedatangan Teungku dan Mustafa. Aku khawatir usai kejadian semalam di dayah,” ujar Lemha.

Lemha kemudian memaparkan kondisi terakhir keadaan pasukan selama ditinggalkan Teungku Fiah dan Mustafa yang ‘cuti’ beberapa saat untuk menemani keluarga.

“Ada beberapa anggota pasukan kita yang bertambah. Kemudian beberapa aktivis mahasiswa juga izin beroperasi di Simpang Ulim,” ujar Lemha.

“Mentroe meminta kita aktif untuk memberi dakwah Aceh merdeka ke tengah tengah masyarakat. Ini saat yang tepat untuk tampil mengingat gerakan ini kian mengakar di seluruh Aceh,” katanya lagi.

Usai rembuk hampir setengah jam, seluruh jajaran menunjuk Teungku Fiah dan Mustafa sebagai penceramah di desa-desa dalam kawasan Julok dan Simpang Ulim. Tim dibagi dua. Satu tim dipimpin oleh Teungku Fiah dan ditemani oleh Lemha dengan 6 anggota pasukan.

Kemudian tim lainnya dipimpin oleh Mustafa dan Aneuk Meuruwa dengan jumlah anggota 10 orang.

Aneuk Meuruwa adalah anggota baru yang direkrut oleh Lemha selama Teungku Fiah di Matang. Sama seperti Mustafa, Aneuk Meuruwa adalah yatim piatu konflik yang memutuskan bergabung dengan pasukan nanggroe setelah keluarganya tiada.

Aneuk Meuruwa adalah sandi untuk remaja alumni dayah ternama di Aceh Timur itu. Nama aslinya Zainuddin.

Kedua tim ini kemudian berpencar dari satu desa ke desa lainnya untuk menjadi penerang soal aktivitas tentara nanggroe kepada masyarakat. Kadang-kadang mereka juga mengundang penceramah lainnya dari Pase atau Pidie.

Ini karena tiga daerah inilah yang merasakan kerasnya konflik di Aceh. Aktivitas ini berjalan hingga akhir tahun.

Namun di akhir tahun yang sama, Teungku Fiah kembali memperoleh kabar duka. Adik Teungku Fiah menghilang usai kisruh dengan tentara republic di kawasan Julok. Beberapa hari kemudian beberapa mayat ditemukan dalam goni di jembatan Arakundo. Keadaan ini menambah luka bagi pria tua itu.

Kesedihan Teungku Fiah ini membuat tubuh tuanya mulai sakit-sakitan. Teungku Fiah mulai sering menderita demam dan malaria.

Seluruh anggota pasukan mulai berfirasat buruk. Apalagi, dalam keadaan sakit, Teungku Fiah terus-terusan berwasiet kepada para anggota pasukannya.

“Jangan jadikan dendam sebagai amarahmu dalam perang. Perhatian nasib anak syuhada dalam keadaan apapun. Jangan jual perjuangan ini dengan uang dan jabatan,” ujarnya tiap hari.

Hal ini pula yang membuat posisi pimpinan kemudian dialihkan ke Mustafa seperti harapan Teungku Fiah setahun lalu. Sedangkan kelompok gerilya dibagi dua tim, yaitu Lemha dan Aneuk Meuruwa.

Mustafa sendiri bermaksud mengantar Teungku Fiah ke Bireuen untuk menghabiskan banyak waktu bersama keluarga. Ia sendiri ingin bertemu dengan istrinya yang kini hamil tua dan tinggal bersama keluarga Teungku Fiah di dekat Dayah Tanoh Mirah Kabupaten Bireuen.

Dalam kondisi sakit, Teungku Fiah, dikawal oleh Mustafa kemudian bergerak ke Bireuen. Perjalanan ini juga kembali diantar oleh Ridwan.

Perjalanan mereka ke Bireuen tergolong nekat. Ini karena patroli sepanjang jalan jauh lebih ketat dari biasanya. Demikian juga pengawasan di sekitar Dayah Tanoh Mirah. Namun kondisi Teungku Fiah yang sakit parah membuat Ridwan nekat menembus blokade yang dipasang tentara republic di jalan.

Tentara mengejar mereka hingga ke pedalaman Bireuen. Saling tembak terjadi sepanjang jalan.

“Tum, tum, tum..”

Peluru menembus kaca mobil bagian belakang. Percikan darah terbang hingga ke kaca depan.

[Bersambung]

 

Tags: wasiet
Previous Post

Disepakati Desember, Pilkada Serentak 2020 Diprediksi Sepi Pemilih

Next Post

Jerman Perpanjang Lockdown Hingga 3 Mei, Perlonggar Pembatasan

Next Post
Jerman Perpanjang Lockdown Hingga 3 Mei, Perlonggar Pembatasan

Jerman Perpanjang Lockdown Hingga 3 Mei, Perlonggar Pembatasan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Siaga Hidrometeorologi, Sekda Aceh Instruksikan Posko Aktif 24 Jam hingga 20 April 2026

Siaga Hidrometeorologi, Sekda Aceh Instruksikan Posko Aktif 24 Jam hingga 20 April 2026

15/04/2026
Baleg DPR Sepakat Perpanjang Pelaksanaan Dana Otsus Aceh

Baleg DPR Sepakat Perpanjang Pelaksanaan Dana Otsus Aceh

15/04/2026
Wabup Zaman Akli Pastikan Setiap Rupiah Anggaran Beri Manfaat Bagi Rakyat

Wabup Zaman Akli Pastikan Setiap Rupiah Anggaran Beri Manfaat Bagi Rakyat

15/04/2026
Kemenag Aceh Besar-Densus 88 Sasar Madrasah dan KUA Cegah Paham Radikalisme dan Terorisme

Kemenag Aceh Besar-Densus 88 Sasar Madrasah dan KUA Cegah Paham Radikalisme dan Terorisme

15/04/2026
Dana Otsus Aceh, DPR RI: Pastikan Pengelolaannya Sehat, Bukan Cuma Transfer…

Dana Otsus Aceh, DPR RI: Pastikan Pengelolaannya Sehat, Bukan Cuma Transfer…

15/04/2026

Terpopuler

Muscab PKB Pidie Lahirkan 7 Nama Kadidat Ketua

Muscab PKB Pidie Lahirkan 7 Nama Kadidat Ketua

13/04/2026

Gubernur Mualem Tunjuk Nurlis Jadi Jubir

Wabup Abdya Kunjungi Warga Cot Mane, Pastikan Pembangunan Rumah Layak Huni

Wasiet (79)

Setelah Diarahkan Bupati, Baitul Mal Abdya Langsung Tinjau Rumah Nurlaila

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com