IBU-ibu itu menghadang kompor gas. Ada wajan kecil yang berisi minyak mendidih dan adonan berwarna putih di sisi kanannya.
Ia berulangkali mencelupkan besi kecil yang bermata seperti bunga ke dalam adonan dan kemudian kembali dicelupkan dalam minyak yang mendidih tadi. Beberapa menit kemudian, adonan terlepas dari besi dan muncul kue sesuai cetakan tadi.
Aktivitas ini terus menerus dilakukannya secara berulang.

Kue yang dimasak oleh ibu-ibu ini bernama Samaloyang atau kembang loyang. Salah satu kue tradisional peninggalan indatu di Aceh.
Di Aceh Besar, kue Samaloyang sudah amat jarang dijumpai di rumah-rumah masyarakat.
Masyarakat mulai beralih ke kue kacang-kacangan atau bolu yang dijual di supermarket atau pasar tradisional. Lebih plaktis dan menghemat waktu. Terutama bagi mereka yang memiliki aktivitas yang padat.
Namun ada juga yang masih bertahan dengan tradisi peninggalan indatu Aceh. Salah satunya seperti ibu-ibu di Desa Lamnga, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh.
“Bagi kami, tak lengkap lebaran kalau Samaloyang belum masak,” kata Sukmawati, ibu-ibu desa Lamnga, Senin 27 Juli 2020.
Menurutnya, memasak Samaloyang merupakan warisan turun temurun dalam keluarganya. Ia diajarkan oleh neneknya untuk memasak kue tradisional tersebut. 
“Bagi kami, ada Samaloyang berarti lebaran hampir tiba. Baik Idul Fitri maupun Idul Adha.”
“Membeli kue lebaran memang lebih hemat waktu. Tapi memasak sendiri terasa lebih nikmat,” kata Sukma lagi.
Menurutnya, hampir setiap jelang hari raya, dirinya dan keluarga memasak Samaloyang.
“Dengan begini, kami tetap bisa merasakan khas Aceh. Sekarang yang menyediakan kue tradisional seperti ini agak jarang. Jadi kalau mau merasakan kue Samaloyang, ya harus masak sendiri,” ujarnya.
Selain kue Samaloyang, ada sejumlah kue tradisional Aceh lainnya yang dimasak Sukma jelang hari raya, seperti keukarah, lontong serta lainnya. Semua ini akan dihidangkan bagi para tamu yang berkunjung pada lebaran nanti.










