Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Opini

Ritual Tolak Bala di Aceh

Admin1 by Admin1
15/10/2020
in Opini
0
Menelisik Ritual Asyura di Aceh

Penulis Dr. Phil. Abdul Manan, M. Sc, MA. Dosen Antropologi pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Email: mananaceh@yahoo.com

Ritual menangkal bencana (tolak bala) atau ritual buang sial atau juga dikenal dengan istilah ritual bòh alén diselenggarakan setahun sekali pada hari Rabu terakhir (rabu habéh) di bulan Safar, bulan kedua dalam penanggalan Hijriyah. Bulan Safar, khususnya hari Rabu terakhir di bulan ini diyakini sebagai pertanda buruk. Kata Safar berarti sakit perut. Dikatakan bahwa pada setiap hari Rabu terakhir di bulan Safar, Allah mengizinkan Setan untuk turun dari langit menuju ke lautan, ke hutan belantara dan di berbagai tempat di bumi.

Selama masa ini, terdapat larangan untuk membangun rumah, melaksanakan acara pernikahan, menabur benih atau menanam padi dan berbagai kegiatan pembukaan lahan lainnya, mengunjungi orang sakit, baik laki-laki atau perempuan, melakukan perjalanan dan lain sebagainya.

Kecelakaan, wabah penyakit, dan bencana dipercaya terjadi karena setan menyerang manusia dan binatang ternak. Oleh karena itu ritual tolak bala dipertimbangkan sebagai suatu hal yang sangat penting untuk menangkal semua jenis kejahatan dan kesialan tersebut dengan cara mempererat hubungan sosial.

Ritual Tolak Bala di Desa-Desa
Sebelum kedatangan bulan Safar, sejumlah penduduk desa sibuk mempersiapkan makanan, minuman, dan pakaian baru. Ritual tolak bala dimulai pada pukul 08.00. Orang-orang pergi ke Masjid terlebih dulu. Teungku berdiri di depan dan mulai memanjatkan doa ya Lathief.

Doa ini dimulai dengan kata-kata ya Lathief (Yang Maha Lembut) yang dikenal sebagai doa untuk mengusir jin. Mereka terus beriring berangkat ke sungai atau pantai terdekat sembari memanjatkan doa. Di sungai atau pantai, masyarakat mendirikan tenda untuk beristirahat dan mempersiapkan sajian.

Tepat jam 10:00, di tenda utama, teungku bersama seluruh hadirin membaca surat Yasin (QS 36: 1-83) dan surat Kahfi (QS 18: 1-110). Dalam doanya teungku juga memohon kepada Allah agar menjaga tanah dan air untuk melindungi para penduduk dari banjir, longsor, dan bencana lainnya. Setelah menyelesaikan doa di atas, orang-orang makan siang bersama..

Selama makan siang, beberapa anggota panitia membawa air yang dicampur dengan tepung beras untuk dipercikkan pada masyarakat yang hadir sebagai ritual teupong tawee. Sebelum kembali ke rumah mereka masing-masing, para penduduk mandi bersama di laut untuk membersihkan badannya, sehingga seluruh penyakit hilang dan jiwa lahir dan batin mereka bisa sehat kembali.

Ritual Mandi Tolak Bala
Mandi dengan Ayat-Ayat Al-Qur’an
Ritual mandi pada hari Rabu terakhir pada bulan Safar dianggap berhubungan dengan pengalaman Nabi Muhammad atas berkurangnya penyakit beliau setelah melakukan semacam ritual mandi. Oleh karena itu mandi pada Rabu terakhir, bertujuan untuk menghindari adanya kesialan, menjadi suatu adat dengan diiringi membaca beberapa ayat Al-Qur’an yang ditulis pada kertas; ritual ini disebut dengan mandi dengan ayat Al-Qur’an. Tujuh ayat salamun (selamat) yang ditulis adalah ayat yang berisi kata selamat, yaitu:
1. Selamat, satu kata dari Tuhan Yang Maha Penyayang. (QS. 36:58).
2. Selamat atas Nabi Ibrahim, sesungguhnya, kami akan memberi ganjaran bagi orang-orang yang berbuat baik (QS 37:109-110).
3. Selamat atas Nabi Nuh, sesungguhnya, kami akan memberi ganjaran bagi orang-orang yang berbuat baik (QS 37:79-80).
4. Selamat atas Nabi Musa, sesungguhnya, kami akan memberi ganjaran bagi orang-orang yang berbuat baik (QS 37:120).
5. Selamat atas Nabi Ilyas, sesungguhnya, kami akan memberi ganjaran bagi orang-orang yang berbuat baik (QS 37:130-131).
6. Selamat atasmu, kamu telah suci, jadi masuk surga dan berdiam di sana selamanya (QS 39:73).
7. Selamat hingga sampai munculnya Fajar di dalamnya (QS 97:5).

Kertas yang ditulis doa ini terkadang dimasukkan ke dalam air laut atau air sungai di mana orang-orang mandi. Beberapa orang desa juga minum air berisikan doa. Di samping itu, doa ini juga sering dilempar ke dalam sumur desa pada hari tolak bala, airnya kemudian diminum oleh orang-orang di desa tersebut.

Mandi Bunga
Cara lain untuk “menyucikan tubuh” dari makhluk berbahaya selama tolak bala adalah dengan ritual mandi dengan bunga yang disebut manoe bungong. Manoe bungong sering dilakukan oleh orang-orang yang dianggap belum beruntung. Contohnya, mereka bagi wanita mandul, wanita yang tidak bisa menemukan suami, lelaki yang tidak dapat menemukan isteri. Orang -orang ini harus dimandikan dengan bunga pada hari tolak bala untuk “memanggil kembali semangat mereka yang telah meninggalkan tubuh mereka”. Dikatakan bahawa pada masa lalu ritual manoe bungong pada hari tolak bala sering dilakukan oleh dukun yang memandikan mereka.

Tolak Bala dan Kosmologi Sosial Masyarakat Aceh
Ritual tolak bala diselenggarakan setahun sekali, tepatnya pada hari Rabu terakhir bulan Safar,yang dianggap sebagai pertanda buruk. Penyelenggaraan ritual tolak bala pada bulan Safar dianggap sangat penting untuk mencegah seluruh kejahatan dan kesialan dengan mempererat hubungan sosial antar sesama manusia.
Dalam perspektif masyarakat Aceh, terdapat dua kedudukan dari segenap ritual tolak bala yang dilaksanakan. Pertama, tolak bala mengharapkan pertolongan Allah, berdasarkan norma Islam, dan dilaksanakan dengan membaca ayat-ayat tertentu dalam Al-Qur’an seperti surat al-Falaq dan surat an-Nas, surat al-Isra’, surat Yasin, dan lain sebagainya. Tolak bala dimaksudkan untuk membuang kesialan dan mencegah bencana. Di masa lalu sesajen berwarna merah dan putih turut dipersiapkan untuk ritual tolak bala. Kedua sesajen itu diletakkan di atas rakit batang pisang yang telah dibentuk sedemikian rupa untuk dilepaskan ke laut “di mana seluruh bencana berasal”. Setan diberikan sesajen yang tidak suci yang berwarna merah, seperti darah, dan sebagainya. Jin diberikan hadiah berwarna putih dengan harapan agar mereka kembali ke laut. Namun, praktek yang demikin tidak ditemukan lagi di desa-desa di sekarang.

Kebanyakan dari penyelenggaraan ritual tolak bala banyak berubah seiring dengan lebih terbukanya budaya di daerah pesisir dan pengaruh budaya para pendatang. Perubahan ini juga terjadi karena kritik dari pihak kaum muda “modernis” dan para ulama yang mengklaim bahwa pemberian sesajen merupakan suatu bentuk kegiatan sebelum datangnya Islam. Oleh karena itu, sekarang ini, aspek rekreasi jauh lebih ditekankan daripada aspek ritual tolak bala itu sendiri. Pada hari itu pemuda dan pemudi, begitu juga para tetua berkumpul bersama di daerah pesisir atau di tepian sungai. Mereka membawa berbagai macam makanan bersama mereka. Begitu tiba mereka mendirikan kemah untuk menginap di sana, mereka akan menghibur diri mereka sendiri dengan bernyanyi. Pada hari pelaksanaan ritual, para pemuda bermain sepak bola dan kemudian mandi di sungai atau di laut yang disebut dengan manoe sapha. mandi seremoni ini tampak sebagai sebuah festival yang tidak ada hubungannya dengan agama, yang bertujuan untuk memberikan keuntungan kepada para pemuda dan pemudi untuk saling mengenal.

Previous Post

Antisipasi Dampak Ekonomi Covid-19, Wali Nanggroe Minta Aceh Jalankan Rekomendasi Unsyiah

Next Post

Bupati Sarkawi: Santri Harus Jadi Penyeimbang dalam Membangun Opini yang Sehat

Next Post
Bupati Sarkawi: Santri Harus Jadi Penyeimbang dalam Membangun Opini yang Sehat

Bupati Sarkawi: Santri Harus Jadi Penyeimbang dalam Membangun Opini yang Sehat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

MA Tolak Kasasi Anggota DPR Aceh ‘Pemukul Anak’ dan Tambah Vonis Jadi 8 Bulan Penjara

MA Tolak Kasasi Anggota DPR Aceh ‘Pemukul Anak’ dan Tambah Vonis Jadi 8 Bulan Penjara

27/03/2026
Lebaran, Harga Ikan Laut Segar di Aceh Melambung

Lebaran, Harga Ikan Laut Segar di Aceh Melambung

27/03/2026
Pemkab Aceh Barat Alokasi Rp1 Miliar Bangun Jalan Rusak ke Lokasi Bencana

Pemkab Aceh Barat Alokasi Rp1 Miliar Bangun Jalan Rusak ke Lokasi Bencana

27/03/2026
Verifikasi Penerima Tunjangan Profesi Guru di Aceh Besar Rampung Hari Ini

Verifikasi Penerima Tunjangan Profesi Guru di Aceh Besar Rampung Hari Ini

27/03/2026
Bupati Aceh Tengah Harap Program Sesuai dengan Skala Prioritas Daerah Terdampak

Bupati Aceh Tengah Harap Program Sesuai dengan Skala Prioritas Daerah Terdampak

27/03/2026

Terpopuler

Rotasi Jabatan: AKP Dedy Miswar Putra Terbaik Pidie, Pindah ke Polres Bireuen

Rotasi Jabatan: AKP Dedy Miswar Putra Terbaik Pidie, Pindah ke Polres Bireuen

27/03/2026

Prof Saifullah Resmi Mendaftar sebagai Calon Rektor UIN Ar-Raniry 2026-2030

Gagal Menangkan Mualem–Dek Fad di Bireuen, Peneliti: Pergantian Abang Samalanga Demi Masa Depan PA

Jadi Daerah Basis Mualem-Dekfadh, Anggaran Dayah untuk Aceh Utara Kalah Jauh dari Bireuen di APBA 2026

Ritual Tolak Bala di Aceh

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com